A Jungle In A Class

Foto di atas merupakan salah satu adegan pada film Bride Wars saat salah satu pemerannya yang berprofesi sebagai guru SMP mengeluh pada sahabatnya. Dan tahu tidak, saya pikir ada benarnya.

Yah, memang sih murid-murid saya manis-manis dan lucu-lucu. Tapi mau bagaimanapun, mereka tetap anak-anak. Hm, kalau mau dibilang anak-anak mungkin juga kurang tepat. Di masa pubertas mereka, mungkin lebih tepat dibilang kalau mereka itu not a girl not yet a women atau not a boy not yet a man (halah, bahasanya kok beribet banget). Intinya sih karena usia mereka yang masih belum matang, maka isi otak mereka ga jauh-jauh dari bermain. Dan sebagai tambahan dari hormon-hormon mereka yang mulai matang, mereka juga sudah mulai direcoki dengan masalah suka terhadap lawan jenis.

Nah, berhubung sekolah saya mengajar menerapkan jargon fun learning maka saya selalu berusaha menerangkan pelajaran sesantai mungkin namun tetap dapat dimengerti. Sebab, yang namanya belajar bahasa bukan teori yang penting, akan tetapi pemahaman terhadap bahasa itu sendiri. Misalnya, kalau seorang siswa sudah paham dengan pemakaian sebuah imbuhan, maka mau dirombak seperti apapun sebuah kata, ia tetap bisa menentukan imbuhan yang terdapat dalam kata tersebut.

Selain itu, karena perkembangan teori-teori pembelajaran, maka sekarang dikenal yang namanya student center bukan lagi teacher center. Maksudnya, apabila dahulu pusat pembelajaran adalah guru (dengan kata lain, guru lah yang lebih banyak berperan dalam proses belajar mengajar) maka sekarang diharapkan siswa lah pusat pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai pemantau. Guru hanya memberikan pengantar pembelajaran kemudian siswa lah yang mesti mencari materi atau diskusi untuk membahas sebuah topik.

Karena fun learning pula, siswa-siswa saya lebih suka berdiskusi antar mereka. Saya hanya menerangkan sedikit materi. Akan tetapi, terkadang diskusi mereka sering melenceng dari topik yang dibahas. Maka diskusi pun berubah menjadi mengobrol. Sekali dua kali, saya masih bisa mentolerir, lebih dari itu, saya mau tidak mau harus bertindak.

Jadi ceritanya tadi kondisi fisik saya kurang baik sewaktu pergi ke sekolah. Saya masih merasa lelah dan libur sehari di Hari Minggu terasa kurang. Ditambah lagi, hari ini saya mesti mengajar full di empat kelas. Membayangkannya saja saya sudah lemas duluan. Dari jam setengah delapan, jam mengajar saya harus ganti-berganti hingga pukul 14. 30.

Di kelas yang pertama, saya masih lumayan bisa menahan diri. Saya menerangkan pelajaran kemudian saya berikan tugas kepada siswa, tak lupa saya berkeliling sembari memantau mereka mengerjakan tugas. Begitupula dengan kelas yang kedua.

Di kelas yang ketiga, rasa letih saya semakin menjadi-jadi. Bahkan semangat saya hilang entah kemana. Untuk ngomong saja rasanya tidak bertenaga. Kemudian beberapa siswa asyik mengobrol padahal saya belum selesai menerangkan. Ditegur beberapa kali, mereka memang diam. Namun ketika saya menerangkan kembali, beberapa saat kemudian siswa-siswa tersebut kembali mengobrol. Maka meledaklah kantong kesabaran saya.

Saya berdiri diam di depan sambil memperhatikan mereka yang asyik mengobrol. Beberapa saat tidak ada tanggapan, lalu mereka sadar kalau saya sedang memperhatikan mereka. Saya tanya langsung kenapa mereka tidak mau memperhatikan saya menerangkan pelajaran. Apa mereka menganggap belajar Bahasa Indonesia itu gampang? Atau mereka beranggapan kalau belajar dengan saya itu membosankan? Mereka diam ada beberapa yang menggeleng. Saya tanya lagi apa mau mereka sebenarnya.

“Kalian mentang-mentang santai terus ga mau mendengarkan mister? Kalian ini dikasih hati, minta jantung. Coba kalian pikir, seharusnya kalian itu bersyukur guru-guru di sini ga ada yang pemarah. Tapi kalian sepertinya menjadi-jadi. Sekarang mister tanya, kalian lebih sedih saat melihat orang tua kalian sedih atau marah? Kalau memang lebih sedih melihat orang tua kalian sedih, seharusnya itu pula yang kalian pikirkan di sekolah. Di sekolah ini kami orang tua kalian atau minimal kakak karena umur yang tidak beda terlalu jauh. Namun kami jangan diremehkan. Kalian lihat wajah guru-guru kalian itu. Capek, kami itu capek. Tapi kami memendam itu semua cuma untuk membagi ilmu yang kami miliki. Supaya kalian itu mengerti, supaya kalian jadi orang berilmu, supaya kalian menjadi orang baik di masa depan. Tapi bagaimana kalian bisa jadi orang baik dan berilmu kalau menghargai orang yang lebih tua saja kalian tidak bisa. Coba kalian gunakan otak kalian, bagaimana rasanya kalau kalian berbicara tapi tidak didengarkan orang? Sudah, sekarang terserah kalian. Belajar saja sendiri. Kalian semua sudah pintar, kan?”

Saya pun pergi meninggalkan kelas tersebut menuju kantor. Jujur, seumur-umur saya belum pernah marah-marah. Kalau pun pernah, itu pun hanya bersuara lebih keras menenangkan siswa-siswa yang ribut. Tapi tadi, saya benar-benar capek. Saya tidak memarahi mereka, saya hanya berbicara dengan intonasi yang rendah tapi menekan di beberapa bagian sebab saya tidak mempunyai tenaga untuk marah-marah.

Di kantor saya ditanyai oleh guru yang lain, kenapa cepat sekali keluarnya? Setelah saya jelaskan duduk permasalahannya, dia pun setuju. Menurutnya, sekarang siswa-siswa di sini sudah kelewatan manjanya. Tidak bisa mengerti kalau gurunya capek.

Beberapa saat kemudian, datanglah siswa-siswa yang mengobrol di kelas tadi. Mereka meminta maaf dengan wajah memelas dan berjanji tidak akan mengobrol lagi. Teman saya sudah menawarkan beberapa pilihan hukuman untuk mereka, namun saya memilih diam. Saya ingin melihat kesungguhan mereka dalam meminta maaf. Setelah beberapa saat, saya luluh juga dengan usaha mereka meminta maaf. Toh bagaimanapun, mereka sudah berinisiatif meminta maaf.

Dan hal yang selama ini saya sampaikan kepada mereka adalah seseorang yang meminta maaf terlebih dahulu bukan berarti ia lemah, namun karena ia berjiwa besar sehingga layak disebut pahlawan.

Saya pun mengajak mereka kembali ke kelas dan menghabiskan waktu tersisa dengan berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Yah, itulah siswa-siswa saya. Terkadang mereka bisa sangat aktif dan bangga menjadi guru mereka. Namun adakalanya mereka bisa begitu menjengkelkan. Tapi toh bagaimanapun mereka adalah adik-adik saya (ya, saya lebih suka menganggap mereka adik saya) di sekolah. Namanya juga anak-anak. Setidaknya, masalah tersebut sudah diselesaikan dan semoga mereka tidak melakukannya lagi di lain hari.

42 pemikiran pada “A Jungle In A Class

  1. ya.. jadi guru kesabaran emang harus berlipat ganda ya lung.. soalnya yg dihadapi fikiran2 yg meloncat dr segerombolan anak..

    mudah2an capeknya gak berkepanjangan deh yak.. dan bisa terus menjadi guru yg dekat dan manis buat adik2nya🙂

  2. Jadi guru memang harus sangat bersabar ya Lung🙂 Dan juga harus tahu kapan (dan bagaimana) untuk marah, karena menurutku marah (yang disampaikan dengan benar tentunya ya, bukan sekedar luapan emosi belaka) juga menurutku penting kok dalam proses pendidikan.

    note: marah kan gak selalu hanya membentak-bentak aja kan😀

  3. tu2t widhi

    kesabaran memang ada batasnya yap.. terlebih kalo capek, yang ada ituh sensi parah.. tapi tindakanmu menegur anak2 seperti itu juga gak salah. bagaimanapun mereka juga harus diingatkan sebelum terlambat dan semakin menjadi-jadi..

    kalaupun kamu marah seperti itu, mereka nantinya segan. soalnya kan mereka walaupun masih terbilang anak2, mereka bisa berfikir mengenai posisimu dan temen2 guru lainnya.. dan seorang pendidik memang tidak boleh diremehkan..

    sabar ya..
    Insya Allah semuanya akan berbuah baik🙂 toh yang kamu lakukan juga bukanlah sebuah kesalahan😀

  4. Welcome to the jungle… sepertinya mengajar anak2 junior high lumayan menguras energi ya? soalnya sudah terlalu besar untuk dimanjakan, namun juga masih jauh untuk diberi tanggung jawab…
    Semangat, Pak Guru!!!😀

  5. Memang begitulah dinamika menjadi seorang pengajar. Seringkali saya dicurhatin istri (yang seorang guru) dengan tingkah laku anak didiknya. Seringkali ngobrol sendiri dan tidak memperhatikan apa yang diajarkan. Kadang seorang guru memang harus marah untuk menunjukkan kepada murid bagaimana seharusnya murid bersikap yang baik terhadap guru yang sudah susah-susah mengajar dan menerangkan.

    Jadi ingat dulu waktu SMU saya pernah keluar kelas tidak mengikuti pelajaran, sampai akhirnya saya dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran. Hik hik sebuah pengalaman yang susah untuk dilupakan.

  6. Been there done that, tapi saya lebih suka ngajar anak SMP karena, menurut saya sih ya, mereka itu lebih jujur daripada anak SMA. Kalo anak SD, saya sama sekali nggak minat ngajar mereka, terlalu ribut, hihihihi..
    Masih bagus sekolahnya nerapin fun learning, coba kalo sekolah yang strick banget sama kurikulum pemerintah, hadeeeehh.. muridnya bisa makin menjadi😀
    Tetap smangat ya, Pak Guru \^O^/

  7. Saya selalu ‘salut’ terhadap mereka2 yg berprofesi sbg Guru. Bayangkan, mengajar dan mengarahkan sekian banyak orang dengan ‘isi’ otak yang beraneka rupa, tentu perlu energi berlebih bukan?
    Kalo saya, mungkin saya bakal sering marah2 dan bentak2 kepada murid yang susah diatur.
    Oiya, dari pengalamanku di SMA dulu, salah seorang guruku biasanya ‘menegur’ anak yang ngobrol dengan cara menyuruh si anak untuk tampil ke depan, menggantikannya bicara/menerangkan suatu materi. Walhasil, ga ada seorang pun anak yang berani ngobrol pas pelajarannya. Daripada ke depan kelas suruh ngajar? bisa keringat dingin…😀

  8. bagus lung.
    aku suka dengan pilihan kamu untuk menegur mereka.
    anak2 itu emang butuh dan harus ditegur sekali2.
    kalo dibiarkan, tidak kita ingatkan, nanti ngelunjak.
    gak bs kita harapkan: “ya ntar kalo udah gede kan sadar-sadar sendiri….”
    sdh bagian dr jobdesc lah, bagi kita untuk mengarahkan mereka🙂

  9. salut ama guru smp…walaupun kadang anaknya bandel trus sering naik darah ..
    tapi mereka ga pernah “menempelkan tangan di badan anak’ ..
    kaya di sekolah luar,mungkin udah habis anak yang bandel di pukulin terus ..

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s