Berbeda Tetapi Sama

different but the same, yari school

Manusia diciptakan memang berbeda-beda, ya? Dan tentunya pula tidak ada manusia yang sempurna. Beberapa orang mungkin diciptakan dengan kekurangan yang tentu bukan tanpa alasan. Sebab dibalik kekurangan mereka, senantiasa tersimpan kebesaran Tuhan yang membuat kita belajar dari mereka. Begitu pula dengan siswa-siswa saya. Di sini saya akan menceritakan dua pribadi yang mungkin di mata beberapa orang mereka patut dikasihani, tapi bagi saya, mereka berdua adalah tempat saya belajar tentang arti kehidupan.

Sebut saja yang pertama A. A tidak lah sama seperti anak-anak yang lainnya. si A mempunyai kekurangan tidak mampu berbicara dengan lancar alias gagap. Belum lagi dengan cara jalannya yang berjinjit. Saya tidak tahu apa yang salah dengan kakinya, saat berjalan maupun salat, ia selalu menumpukan berat badannya pada kedua ujung kakinya. Mata pelajaran bahasa Indonesia yang saya ajarkan, tentu saja membutuhkan praktek berbicara dalam beberapa hal. Baik saat membaca wacana, puisi, atau mendongeng. Sebagai seorang guru, saya tidak boleh berat sebelah. Saat membaca wacana, maka saya akan memberi giliran tiap anak untuk membaca wacana beberapa paragraf, termasuk si A tentunya. Anak-anak sangat antusias saat bergiliran membaca, mereka berebutan ingin membaca wacana yang saya berikan. Saat giliran A, maka saat itulah suasana menjadi lebih sunyi.

Si A membaca dengan terbata-bata. Untuk membaca satu kata yang agak panjang saja (misalnya: akulturasi), terkadang butuh waktu satu menit lebih. Saya perhatikan, A selalu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membaca apabila ada kata yang berawalan A. Namun bukan berarti karena ia gagap lalu ia menjadi tidak lancar membaca. Tidak, A sudah tidak lagi berada dalam fase mengeja. Saya yakin itu. Sebab, saat ia berhasil menarik nafas dan mulai membaca, maka ia lancar membaca dalam beberapa kalimat.

Saya bisa menangkap usahanya yang begitu keras untuk membaca dengan lancar dari wajahnya. Melihat hal tersebut, saya selalu menyukuri keadaan saya yang tidak gagap. Hebatnya, teman-teman A bisa menerima keadaan tersebut. Saat A membaca, maka mereka lebih memusatkan perhatian mereka dan berusaha tenang agar bisa menyimak perkataan A. Padahal kalau temannya yang lain membaca, terkadang mereka malah mengobrol, melamun, atau bercanda.

Yang lebih membuat saya terkejut adalah saat latihan mendongeng. Setiap siswa ditugaskan untuk menuliskan dongeng yang di dongengkan oleh orang tua mereka, kemudian membacakan kembali dongen tersebut di depan kelas. Saat anak-anak membaca di depan kelas, ada yang malu-malu, pengucapan yang tidak jelas, bahkan membaca cepat-cepat. Pada saat A membaca, saya terkejut. Ia membaca layaknya seorang pendongeng kawakan. Sambil membacakan dongengnya, ia menggerak-gerakkan tangannya saat ada adegan-adegan dalam dongeng yang ia baca. Intonasi saat ia membaca pun cukup bagus, ada naik-turun suara pada kalimat-kalimat tertentu. Terkadang, ia bahkan meniru adegan di dalam dongeng seperti meloncat. Tentu saja hal ini membuat saya dan teman-temannya tertawa. Kegagapannya saat membaca, lamanya waktu yang ia butuhkan saat membaca, semua tertutup oleh kepintarannya mendongeng. Saya pun memberikan tepukan tangan dan pujian saat ia selesai mendongeng. Selanjutnya, saya pun mengetahui kalau A sangat suka menulis puisi dan mempunyai buku kumpulan puisi sendiri. Pada saat latihan membuat kalimat, si A pulalah yang paling kreatif dalam membuat sebuah kalimat.

Lain lagi dengan si B. Meski usianya sudah sepantaran anak SMA, namun ia masih duduk di bangku SMP grade IX. Bukan karena ia bodoh, akan tetapi ia karena ia berbeda dengan anak-anak yang lain.

Si B adalah satu dari sekian anak yang mengidap autisme. B tidak dapat berkomunikasi dengan lingkungannya dengan baik. Baik itu dengan teman-temannya maupun dengan gurunya. Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Saat belajar, ia memang ikut mencatat apa yang dicatatkan oleh guru di papan tulis, tapi ia tidak mengerti sama sekali apa yang ia tulis. Apabila B habis pipis atau buang air besar, maka kami para guru harus menyuruhnya menyiram toilet serta menutup resleting celananya. Sebab ia tidak mengerti pentingnya melakukan hal-hal kecil tersebut. Si B sering kali berceloteh sendiri, entah apa yang ia celotehkan. Tapi dari yang saya dengar, sepertinya si B meniru iklan-iklan tv yang ia tonton. Ia hapal iklan-iklan tv hingga ke intonasi suara si pengiklan. Contohnya, “Big Movies, My Name is Robot.” “Metabolisme macet, minum …” “Anget ya Anget Sari..”

Uniknya, si B ini sangat hapal lagu-lagu yang pernah ia dengar, terutama lagu-lagu Peterpan (atau NOAH). Misalkan saja kita bilang, “Bintang di Surga” maka ia langsung bernyanyi, “Bagai Bintang Di Surga, dst”. Bahkan saat lagu “Separuh Aku”nya NOAH keluar, beberapa hari kemudian ia langsung hapal lagu tersebut. Kejutan lain adalah saat B ikut ekskul vokal. Saat B disuruh menyanyikan tangga nada, ia mampu menyanyikan tangga nada tersebut dengan baik. Kemudian saat si pelatih bermain keyboard dan memainkan musik “Separuh Aku”, si B ikut menyanyi dengan irama yang tepat. Tempo lagu yang ia nyanyikan berpadu dengan musik. Si B seolah-olah penyanyi profesional saja. Sepertinya B mempunyai kepekaan terhadap musik.

Ketika mata pelajaran bahasa Inggris pun, B mampu membaca wacana dalam bahasa Inggris dengan pronunciation yang baik. B mampu membaca dengan pelafalan sebagaimana seharusnya, meskipun ia tidak mengerti dengan apa yang ia baca.

Kedua siswa yang saya ceritakan di atas, mau tidak mau mewarnai hari-hari saya selama mengajar di sekolah tersebut. Dari mereka saya belajar kesabaran (ekstra), level kesabaran yang berbeda saat saya menghadapi anak-anak normal. Dari mereka saya belajar menyukuri keadaan saya. Dari mereka saya belajar untuk menjalani hidup dengan riang, sebab meski mereka mempunyai kekurangan, tapi mereka tidak pernah mengeluh dan bersedih. Justru A dan B adalah siswa-siswa yang paling ceria diantara siswa yang lainnya. Terakhir, dari mereka lah saya belajar bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Di balik kekurangan mereka, tersimpan kelebihan yang tidak dimiliki orang-orang lain. Dari mereka lah saya banyak belajar. Begitulah, meskipun mereka berbeda, tetapi mereka sama seperti siswa saya yang lainnya. Mereka seharusnya mendapat perlakuan yang sama dari siapapun, dimanapun mereka berada. Salam persahabatan.

Image Source: http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTIuwIzKNBhA0mDb_aJpCdnyHN6SEx4b4LSXLHKnIUDxicM-asXjQ

Iklan

41 pemikiran pada “Berbeda Tetapi Sama

  1. Yah begitu lah manusia. Punya kekurangan dalam satu hal namun memiliki keunggulan dalam hal lain..Makanya saya termasuk pendukung antusias untuk penemuan kecerdasan multi talenta 🙂

      1. Sulung, yang saya maksud dengan kecerdasan multi talenta kemarin adalah multiple intelligence yang teorinya di populerkan oleh Howard Garder itu. Misalnya anak2 yang jago dalam matematika dianggap tak lebih cerdas dari anak2 yang jago dalam atletik..Begitu kurang lebihnya 🙂

  2. tugas seorang guru begitu berat ya gan ? terlebih menhadapi anak didik seperti dalam post agan di atas..

    setuju gan kita yang normal sudah selayaknya bersyukur atas apa yang Tuhan berikan…

  3. Aku selalu takjub dengan orang2 yang lahir dengan kekurangannya, tapi bisa merubah kekurangannya itu menjadi kelebihan. Mdh2an kedua murid Sulung tadi makin terasah bakatnya dan menjadi inspirasi utk orang lain.

  4. membaca tulisan ini saya jadi membayangkan betapa harus sabar dan fleksibelnya kita jika menjadi seorang guru/ataupun menjalankan tugas lain yang berhadapan dengan orang-orang yang memiliki perbedaan ( baik kemampuan, kebiasaan, latar belakang dsb).

  5. karena itulah, kenapa aku senang banget tiap kali ngumpul sama mereka. mereka anak emas. mereka hebat. mereka jauh lebih hebat dari pada kita-kita yang (terlihat) normal ini 🙂

  6. maha besar Alloh yang menciptakan beragam manusia dengan berbagai kelemahan dan kekeuatan…semua-nya pasti ada maksud yang indah…untuk saling menguatkan satu sama lain 🙂

  7. selalu salut dengan para guru, pernah cuma ngajarin anak-anak belajar bareng saja susahnya sudah terasa….
    jadi ingat film taare zameen par, ttg anak disleksia yang dianggap bodoh oleh guru2nya; dan ketika bertemu dengan guru yang mengerti keadaannya, dan mengajarinya dg cara yg tepat potensi prestasinya dan kecerdasannya yg melebihi rata-rata baru diakui

  8. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Kekurangan bukan berarti si manusia benar2 tak sempurna. Tuhan itu adil ko’, dia menciptakan kelebihan yang besar dibalik kekurangan seseorang. 🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s