Luka Di Bibir Hujan

i love rain
Gambar dipinjam dari tumblr.com

El menegak air mineral dari dalam botol minuman yang ia bawa dengan rakus. Cuaca Yokohama yang panas membuat tubuhnya begitu mudah kehilangan cairan. Apalagi saat ini sedang musim panas. Namun di sisi lain, El merasa beruntung bisa mengunjungi Taman Sankei-en di musim panas. Ia jadi berkesempatan menyaksikan indahnya taman seluas 175. 000 meter persegi tersebut.

Di bawah sebatang pohon rindang, El menengadahkan kepalanya. Ia kemudian menutup matanya perlahan. Sementara daun-daun pohon yang berwarna kuning keemasan seolah memayunginya dari garangnya mentari. El datang ke Yokohama sendirian bukan tanpa alasan. Sebentar lagi ia mesti kembali ke Indonesia karena masa studinya sudah selesai. Awal El berada di Jepang, ia agak kaget dengan cara bekerja orang Jepang yang serba cepat dan tepat waktu. El sudah terbiasa dengan jam karet ala Indonesia. Namun, hampir genap dua tahun di Jepang tentu sudah membawa perubahan yang cukup banyak bagi El.

El memilih pergi sendiri. Ia ingin menikmati perjalanannya. Menelusuri jalan-jalan yang masih menyimpan kental tradisi budaya atau ke daerah-daerah tempat berpadunya modernitas dengan akar kultur, bertegur sapa dengan penduduk asli, dan menikmati pesona kecantikan gadis-gadis Jepang yang bermata sipit dan berkulit kuning

El tersentak. Sepercik tetesan air jatuh ke puncak hidungnya. Awalnya, ia mengira kalau tetesan air tersebut adalah sisa-sisa embun yang berhasil bertahan dari terik mentari. Namun ternyata semakin banyak butiran air yang berjatuhan. Aneh, El membatin. Bagaimana mungkin di cuaca yang begitu cerah bisa turun hujan?

Keterkejutan El bertambah-tambah dengan lewatnya seorang gadis berpayung. Selintas, ia mengira sedang bermimpi. Tapi tetesan hujan yang menghujam ke kulitnya meyakinkan ia kalau ia tidak bermimpi. Gadis tersebut melangkah dalam diam. Langkahnya seolah melayang. Apakah ia hantu? Di siang bolong begini? El bergidik. Saat melihat ke jejak di tanah becek yang ditinggalkan sang gadis, ia tahu gadis tersebut bukan hantu. Rambut panjang si gadis kadang tertiup angin nakal. Di bahu kiri si gadis, El dapat melihat sehelai daun berwarna merah yang tersangkut.

Ajaib, sekitar 15 meter setelah gadis tersebut lewat, cuaca kembali cerah. Hujan yang tadi turun, lenyap seolah ditiup angin. El ternganga. Dari tempatnya berdiri, ia masih bisa melihat punggung si gadis. Dan ia yakin, di sekitar gadis tersebut hujan masih menemaninya mesra. Bagaimana mungkin? El memutuskan mengejar gadis tersebut. Meski itu berarti ia akan berbasah-basahan, tapi ia harus membunuh rasa penasarannya.

“Maaf,” teriak El saat jaraknya hanya satu meter dari si gadis. El memilih berbicara dengan bahasa yang telah ia pelajari sejak ia memijak negeri sakura ini. Gadis berpayung itu berhenti. Ia membalikkan badannya.

Dari balik tirai air, El bisa memandang jelas ke arah wajah si gadis. Ada kesan sedih dan terluka yang tersimpan di balik raut tersebut. Meski parasnya begitu cantik, namun ada sedikit bekas luka di dekat bibir si gadis.

“Ya?” jawabnya.

El gelagapan. Ia tak tahu mengapa ia memanggil si gadis tadi. Kepalang basah, ia harus mengatakan sesuatu.

“Err, apakah kau dewa?” Pertanyaan gila, batin El. Si gadis memiringkan kepalanya pertanda heran. El khawatir pertanyaannya tadi justru membuat si gadis takut dan lari. Ternyata tidak, gadis berpayung di hadapannya justru tersenyum tipis.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Soalnya, hanya di sekitarmu lah hujan turun. Kau seperti diikuti hujan.”

“Kau boleh beranggapan begitu. Dan biasanya, orang yang sudah mengetahui hal tersebut tak kan berani mengajakku bicara. Tapi kau sepertinya bukan orang sini.”

“Eh, ya. Aku mahasiswa dari Indonesia.”

“Indonesia? Bali, maksudmu?”

Ah, kenapa semua orang asing mengira Indonesia berada di Bali?

“Ya, eh tidak. Maksudku, Bali hanyalah salah satu pulau yang ada di Indonesia. Seperti pulau Miyajama.”

“Oh, aku mengerti. Omong-omong, kau tidak bawa payung?”

El baru menyadari tubuhnya yang basah kuyup sedari tadi. Untunglah kamera dan ponselnya ia letakkan di dalam tas yang tahan air. El menggeleng.

“Bagaimana kalau kita berteduh di bawah sana?” telunjuknya menunjuk ke arah pagoda.

“Baiklah, eng..”

“Panggil aku, Mizuki. Kamu?”

“El, namaku El.”

***

Mizuki menoleh saat El tiba di bawah gerbang kuil Iseyama Kotai Jingu. El mengambil napas setelah berlari di tangga kuil. Sembari mengatur napas, matanya tak lepas dari Mizuki. Hari ini Mizuki memakai kimono biru laut dengan obi berwarna jingga. Rambutnya digelung seadanya. Tidak serapi seperti yang pernah El lihat di film “Geisha,” sih. Tapi cukup membuat darahnya berdesir kencang.

“Maaf, terlambat.”

“Tidak apa-apa, aku juga minta maaf memintamu menemaniku sembahyang di hari liburmu.”

El mengikuti langkah Mizuki. Ia dan Mizuki menggunakan payung masing-masing.  Langit masih meratap seperti saat El bertemu dengannya. Padahal di tangga paling bawah tadi tidak setetes pun air yang membasahi wajah El. Misteri yang ingin El tanyakan kepada Mizuki setelah Mizuki selesai sembahyang nanti.

***

“Orang-orang memanggilku Ameonna.” jawab Mizuki sembari memandangi pohon-pohon ceri dari teras kuil tempat mereka berteduh. “Ameonna berarti seseorang yang senantiasa diikuti hujan kemanapun ia pergi.”

“Menyenangkan,” jawab El sambil menatap hujan yang turun dari langit. Tangannya memainkan air yang bertempias.

“Menyenangkan, katamu? Aku justru dianggap pembawa kesialan. Tak ada pesta yang tak diguyur hujan saat aku datang. Tak satupun olahraga yang pernah kuikuti tanpa basah oleh hujan. Tak ada yang mau berteman dengan seseorang yang membuatnya mesti membawa payung atau memakai jas hujan saat bersama orang tersebut. Luka ini kudapatkan dari seorang anak yang marah saat pesta ulang tahunnya di kebun, diguyur hujan yang turun ketika aku datang. Ia melemparku dengan gelas di dekatnya.”

El memandangi mata Mizuki yang terlihat sendu. Ia bisa memahami kesedihan yang mendalam di sana. Tentu berat jika dijauhi oleh orang-orang karena keanehan yang kita miliki. Luka di dekat bibirnya mungkin sudah mengering, tapi rasa sakit akibat dianggap pembawa sial pasti masih terasa.

“Seharusnya kau tinggal di Indonesia.” El memandangi daun-daun pohon ceri yang basah. Ingatannya melayang ke tempat asalnya di Jawa sana. “Di tempat asalku, hujan sangat jarang turun. Kekeringan ibarat teman setia kami. Terkadang kami malah mesti berjalan sejauh puluhan kilo hanya untuk mendapatkan seember air dari mata air yang masih bertahan. Kami merindukan hujan layaknya pasangan yang rindu akan kehadiran seorang anak. Jika kau berada di sana, mungkin banyak orang yang kan menyayangimu.”

“Oh, ya?” Suara Mizuki terdengar tertarik. “Tapi jika daerah tersebut sudah tidak tandus lagi, aku pasti akan kembali dijauhi bukan?”

“Maka saat itu aku akan membawamu keliling Indonesia. Ke tempat-tempat yang merindu hujan. Ke daerah-daerah yang haus akan tetesan air dari langit. Jika kau melihat tempat-tempat yang dilanda kekeringan di tempat asalku, mungkin kau akan menyukuri kelebihanmu ini.”

Mizuki tersenyum. Tak pernah ia bertemu seseorang seperti El sebelumnya. Mungkin jika ia mengenal El sejak dulu, ia tak akan tumbuh dengan kepedihan yang ditandai dengan hujan di dekatnya.

“Aku punya sesuatu untukmu,” El merogoh sakunya. Mengeluarkan secarik kain putih yang diikat membulat salah satu ujungnya. Di bagian yang terikat tersebut, El menggambar wajah yang tersenyum. “Kemarin aku menanyakan kepada temanku yang orang Jepang soal hujan yang tak berhenti turun. Lalu ia mengajarkanku membuat ini.”

El meletakkan benda tersebut di tangan Mizuki.

“Teru-teru Bozu (boneka penangkal hujan)?” Mizuki tertawa sambil meremas boneka tersebut. Tawa yang terdengar perih di telinga El. “Dulu aku sering membuatnya, tapi tak ada gunanya. Hujan tetap turun kemanapun aku melangkah.”

Meski begitu, Mizuki tetap menyimpan teru-teru bozu pemberian El ke dalam tas kecil yang ia bawa. Kemudian ia kembali diam memandang langit.

“Sebentar lagi perayaan Tanabata. Aku belum pernah sekalipun mengikutinya. Setiap kuutarakan keinginanku pada orang tua, mereka selalu melarang. Khawatir kedatanganku justru mengundang hujan yang akan membuyarkan Tanabata.”

El ikut terdiam mendengar keinginan Mizuki. Sebentar lagi ia mesti mengemasi barang-barangnya. Ia ingin menyenangkan hati gadis yang ia kenal di bawah hujan tersebut untuk terakhir kalinya. Tiba-tiba ia tersenyum.

“Besok, kau datanglah ke asramaku. Aku punya sesuatu untukmu.”

“Tapi, kalau aku datang, nanti asramamu diguyur hujan?”

“Tidak apa-apa, kali ini saja. Aku mohon. Beberapa hari lagi, aku harus kembali ke Indonesia karena risetku sudah selesai.”

Mizuki terdiam. Baru kali ini ada pria yang memohon kepadanya. Ia mengangguk kecil. El ikut tertawa kecil.

***

Mizuki baru melangkah memasuki halaman asrama El saat ia mendengar suara nyanyian serempak. Beberapa orang pria teman-teman El menyanyi sajak teru-teru bozu bersama-sama. Mereka juga menggantungkan teru-teru bozu di jendela tiap kamar, di pohon-pohon, di tiang-tiang, bahkan di selusur beranda. Mizuki masih ingat lagu tersebut, lagu yang pernah diajarkan ibunya sewaktu kecil.

てるてるぼうず、てるぼうず

明日天気にしておくれ

いつかの夢の空のように

晴れたら金の鈴あげよ

てるてるぼうず、てるぼうず

明日天気にしておくれ

私の願いを聞いたなら

甘いお酒をたんと飲ましょ

てるてるぼうず、てるぼうず

明日天気にしておくれ

もしも曇って泣いてたら

そなたの首をちょんと切るぞ

El keluar dari pintu asrama sambil tersenyum lebar. Ia melangkah menuju Mizuki sambil membawa beberapa helai kertas panjang. Ajaib, perlahan-lahan cuaca berangsur cerah. Rintik-rintik hujan mulai malu-malu jatuh ke pangkuan bumi. Matahari kembali bersinar. Mizuki ternganga, seumur hidupnya belum pernah hujan berhenti turun di dekatnya.

“Satu teru-teru bozu mungkin memang tidak berpengaruh, tapi ratusan teru-teru bosu? Kurasa dewamu pun pasti tak kan menolak untuk menunda hujan hingga pesta Tanabata nanti malam selesai.”

El mengangsurkan kertas dan spidol untuk membuat permohonan kepada Mizuki. Mizuki tersenyum, di pelupuk matanya El dapat melihat ada air mata yang akan menetes. Mizuki mengambil kertas dari tangan El dan menulis permohonannya.

“Semoga aku dan El bisa bertemu lagi suatu saat nanti.” 

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Elfrize yang diadakan oleh Elfarizi.

elfrize

Catatan:

Cerpen ini akhirnya selesai juga setelah melalui riset panjang (Halah😆 ). Idenya sih dari tokoh Juvia di Manga Fairy Tail. Terima kasih sebesar-besarnya buat website-website berikut yang telah membantu saya menyelesaikan cerpen ini dan tolong jangan tanya saya arti bait di atas. I have no idea about that.😀

http://mufqinaufal.blogspot.com/2009/12/teru-teru-bozu-boneka-penangkal-hujan.html

http://jepang.panduanwisata.com

http://nesca87.wordpress.com/2012/09/11/hiroshima-miyajima-a-solo-travel-photos-stories/

27 pemikiran pada “Luka Di Bibir Hujan

  1. tu2t widhi

    juvia.. shin shin tou…
    wah, ngikutin fairy tail ternyatah😛
    bacanya nanti ajah, tapi terhenti bentar baca ttg teru2 bouzu😛 wkwkwkwk

  2. Kereeeeennnnnnn!!

    Kalo seorang profesional yang bikin ternyata emang beda ya..
    Bagi-bagi tips dong buat para pemula bang..
    ^^

    I Love Mizuki❤

    Btw baca cerita ini aku langsung berasa ada di jepang.
    deskripsi situasinya detail banget. Pasti nyari infonya lama ya bang?

    Long time no here🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s