Sulung-Zarah

Langit pernah menuliskan dua nama. Dua nama dengan kisah yang berbeda. Nama pertama bisa kau sebut Sulung, berikutnya adalah Zarah. Dua nama dengan perbedaan dan persamaan yang nyaris tak berupa batasnya.

Sulung dan Zarah merupakan dua nama yang berbeda. Jika yang satu adalah nama seorang anak adam dengan fisik kurus, tahi lalat di atas bibir, dan mata yang seringkali kosong. Maka Zarah hanyalah tokoh fiksi dalam sebuah novel karangan Dewi Lestari (Dee) yang berjudul Supernova: Partikel. Jenis kelamin mereka juga berbeda. Bila kebetulan tokoh dalam novel Dee berjenis kelamin wanita, maka Tuhan telah menggariskan Sulung dilahirkan sebagai seorang pria.

Begitupun, mereka juga punya kesamaan. Mereka berdua adalah orang yang ditinggalkan. Ditinggalkan oleh seorang pria yang pernah menanamkan sperma ke dalam rahim ibu mereka sehingga mereka ada. Manusia biasa menamakannya, Ayah.

Sulung dan Zarah sama-sama ditinggalkan oleh Ayah mereka saat sel-sel tulang masih giat bekerja memanjangkan diri. Ayah, pergi tanpa meninggalkan alasan atau jawaban atas kepergiannya. Tidak heran jika Sulung dan Zarah kemudian sama-sama menjadi seorang pencari. Pencari jawaban. Kisah pencarian seorang Zarah mungkin belum usai. Sebab sang penulis masih menyimpan misteri keberadaan Ayahnya pada novel yang belum terbit. Tapi kisah Sulung tidak.

Hidup terkadang lucu. Saat Sulung masih belajar membaca hingga ia menempuh perguruan tinggi, ia terus mencari keberadaan ayahnya tersebut. Seorang ustad yang pernah di datangi nenek Sulung mengatakan bahwa sang Ayah telah berada di puncak gunung berkabut dan tak tahu arah jalan pulang. Dengan kata lain, si Ayah (mungkin) telah terjebak dalam rapalan mantra makhluk lain yang membutakan dirinya. Sulung juga pernah mendengar kabar bahwa Ayahnya berada di tempat yang terkenal akan mpek-mpeknya. Namun setelah mengecek kabar tersebut, ternyata sosoknya tetap tak bersua.

Kemudian, Sulung pun mulai berusaha menerima keadaan. Ia berusaha menelan pertanyaan-“kenapa engkau pergi?”-yang senantiasa ia simpan dan berusaha menjalani hidup senormal mungkin. Saat hidup mulai mau tersenyum dan membiarkan dirinya berjalan, saat itu pula sosok yang lama hilang kembali.

Mendengar suara yang pernah meninabobokan dirinya, membuat luka yang pernah tertutup kembali merekah. Sakit, karena sosok tersebut hanya berbisik halus dan berkata, “Maaf.” Tapi kata “Maaf” tidak mengubah segalanya bukan? Tidak mengubah masa saat orang-orang meremehkan dirinya yang tak berayah. Tak mengubah waktu ketika ia mendengar ibunda menangis dalam diam di kala malam. Sulung hanya diam. Sejujurnya, ia tidak pernah membenci sang Ayah. Tetapi entah mengapa hatinya merasa sulit untuk menerima sosok tersebut kembali. Hatinya membatu? Entahlah. Sulung tak peduli.

Usaha sang Ayah untuk memperbaiki hubungan masih berlanjut. Si Ayah kemudian memanfaatkan teknologi yang dikreasikan Mark Zuckerberg. Berbulan-bulan, Sulung tak menerima permintaan pertemanan tersebut. Membiarkan teronggok dalam daftar tunggu. Saat kemudian Sulung menerima permintaan tersebut pun, Sulung tak pernah ingin terlalu menanggapi sapaan dan tanya kabar dari si Ayah. Cukup jawaban singkat seumpama, “Ya” atau “Sehat.” Betapa tidak, setiap ia melihat profil si Ayah, ia selalu melihat foto dua orang anak balita yang ia yakin bukan refleksi dirinya dan adiknya. Tapi ia tahu, dalam foto dua anak tersebut, ada wajah si Ayah tersamarkan.

Sulung dan Zarah memang berbeda. Jika kecintaan Zarah kepada Ayahnya lah yang membuat ia mencari si Ayah, maka kecintaan Sulung kepada keluarga yang ditinggalkan si Ayah lah yang membuatnya berhenti mencari sang Ayah. Jika Ayah adalah sosok yang paling dikagumi Zarah hingga dianggap dewa, maka Ayah adalah sosok manusia tak berhati di mata seorang Sulung.

Ah, Sulung terkadang bingung. Salahkah dirinya? Sulung jadi ingin seperti Zarah saja. Berkelana mengelilingi dunia mencari jawaban.

Kasur Lapuk, 29 November 2012.

25 pemikiran pada “Sulung-Zarah

  1. Selain zarah, si sulung ini kisah nyatakah ini lung? Jika ia, memang berat untuk menerima kenyataan seperti itu. Kecuali jika sang Ayah sudah pergi ke pangkuaNYA.. Sy jadi ingat keponakan yang sedari kecil ditinggal Ayah nya..

  2. binggung mau komen apa lung…
    rasanya..ya..yaa..gtu deh..pokoknya,gk bsa dilukiskan dg kata2..
    gak hrus smpai kliling dunia kok lung,tuk nyari jwabannya.jawabannya ya..bicara lgsung ama Papa lu,pasti ktmu jawabannya..#SokNshtin

  3. ah Sulung, akupun demi kecintaanku pada keluargaku yg ditinggalkan ayah, aku jg tak punya hati lagi. tak benci, tapi tak punya rasa, sampai d dpn jasadnya aku br bs memaafkannya

  4. Bingung mau berkomentar apa Lung, karena aku tidak berada di posisi “Sulung” di posting ini. Ya, mudah-mudahan yang terbaik ya Lung🙂 Yang penting kebahagiaan dan ketenangan bisa diraih🙂

  5. Luuuuuungg….speechless aku. Best wishes aja ya Lung.
    Bohong kalo aku bilang ‘mengerti’, karena aku blm pernah merasakannya, jadi aku dukung apapun keputusan Sulung untuk sang Ayah, yakin aja kalo pilihan keputusan itu sudah disetujui olehNYA ya..

    Semangaaaat^^

  6. Sulung.. maaf aku baru kembali ke dunia maya dan baru menyapamu.. Bersyukurlah Sulung masih punya ayah dan kembali menyapa Sulung,, masih bisa menuai pahala dengan bakti kepadanya, meski perih pernah tersayat di hatimu.. sebab Ayah Evan mah gak bisa kembali dan menyapa lg

  7. Ping-balik: Back In 2013 | Catatannya Sulung

          1. emm, kalo ruri ada di posisi kaya gitu.. *mikir keras* susah juga sih kak. di satu sisi kita udah sakit banget tau kalo orang yang harusnya selalu ada buat kita ngilang dan balik gitu aja. tapi pasti ada sisi di hati yang merindukan sosok semacam itu. kalo ruri pasti bakalan kayak kakak. tapi pastinya suatu hari nanti ruri bakal baikan sama ayah. soalnya kan mau digimanain lagi beliau orang tua kandung kita😦
            *duh jadi panjang nih komen-nya kak:mrgreen:

  8. ga mau kasih nasehat🙂
    kamu adalah kamu, so lakukan menurut hati kecil, namun jangan sampek membuat kecil hati. *lah ini apa? nasehat bukan ya:mrgreen: * Semoga mendapat pencerahan. GBU

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s