Pandangan Pertama: You’ve Been Punked, Dude.

199105_main

Apa yang ada di benak sahabat ketika melihat orang-orang dengan penampilan di atas? Geleng-geleng kepala? Kurang kerjaan? Atau langsung menjauh?

Saya lupa kapan tepatnya pandangan pertama saya terhadap anak-anak punk terjadi. Yang jelas, dahulu saya menganggap bahwa anak-anak punk itu anak-anak yang kurang kerjaan, jorok, berantakan, tidak rapi, dan hal-hal jelek lainnya. Saya rasa apa yang ada di pikiran saya tak berbeda jauh dengan orang-orang lainnya.

Melihat penampilan anak punk, wajar kiranya jika mereka mendapat stigma negatif di mata masyarakat. Dengan penampilan yang serba nyentrik, mereka membuat orang-orang berpikiran dua kali untuk berdekatan dengan mereka. Rambut berdiri, celana jins ketat, baju hitam ketat, rantai di pinggang, tato di badan, sampai beberapa tindikan sudah menjadi ciri khas mereka. Mereka juga cenderung jarang membersihkan diri. Tak heran penampilan mereka terlihat lusuh dan kumal.

Dulu saya cenderung menjauhi dan tidak ingin mencari tahu kehidupan anak-anak punk yang notabene banyak dihabiskan di jalanan. Akan tetapi pandangan saya berubah setelah saya bertemu dengan Fadhli.

Foto014
Fadli, paling kiri

Fadhli merupakan teman sekelas saya di bangku kuliah. Pandangan pertama melihat dirinya, saya tak menyangka kalau dia seorang punk. Penampilannya bersih, rapi, cenderung pendiam, bahkan rajin salat. Saya baru mengetahui kalau dia seorang punker ketika mengunjungi kosnya. Poster-poster band-band punk menghiasi dinding kamarnya. Pakaian berwarna hitamlah yang kebanyakan mengisi lemarinya. Saya kaget, setahu saya punk itu anti kemapanan. Lha, ini kok ada anak punk yang justru menuntut ilmu di perguruan tinggi? Saya pun bertanya banyak hal dengan dirinya. Dari dirinya, pandangan saya terhadap anak-anak punk berubah.

Menurutnya, punk awalnya lahir dari paham anti kemapanan. Para punker cenderung menentang kapitalisme, rasis, hedonisme, bahkan anarkisme. Mereka menunjukkan protes mereka dengan penampilan mereka. Sayangnya, menurut Fadhli, punk sekarang kebanyakan punk mode. Banyak orang yang memilih mengikuti gaya punk hanya untuk dibilang gaul. Punk sekarang sudah hilang jiwa “punk” mereka, sifat pemberontak, ataupun aksi protes terhadap pemerintah.

Tertarik dengan penjabaran yang diberikan Fadhli, saya pun mencari tahu lebih banyak soal komunitas punk jalanan. Setelah googling, ternyata tidak semua komunitas punk itu buruk. Masih banyak komunitas punk yang tetap berpijak dengan akar punk mereka. Bahkan ada komunitas punk yang menamakan diri mereka Punk Ngaji/Punk Muslim.

Anak-anak punk muslim masih berpenampilan sebagaimana anak punk lainnya. Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan punk muslim dengan punk lainnya. Punk muslim selain berlatih musik, juga salat berjamaah, mendengarkan tausiyah, sampai mengkaji islam (liqa’). Di luar kegiatan mereka, punk muslim tetap menghabiskan hari-hari mereka di jalanan. Mereka berusaha mengubah stigma negatif masyarakat terhadap mereka.

Sekarang Fadhli sudah mengajar di salah satu SMP Negeri di Pasaman. Meski sibuk mengajar, Fadhli tetap menekuni musik cadas sebagai salah satu hobinya. Band Fadhli, Tai Bebek, juga sering mengikuti kompetisi-kompetisi band dan memenangi beberapa diantaranya. Kini bila melihat anak punk, saya tidak langsung memandang remeh mereka. Sebab saya menyadari, pribadi seseorang bukanlah ditentukan dari penampilan mereka. Bagaimana dengan sahabat?

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatakanku.

give-away-langkah-catatanku

26 pemikiran pada “Pandangan Pertama: You’ve Been Punked, Dude.

  1. Hehehe. Nackal e. Sulung udah lama nda ketemuuu…
    Anak2 PUnk ya? Iya, Kesan pertama Ning juga begitu, NAKAL…
    Soalx imejnya udah tertanama di awam. Jdi kalau udah namanya PUNK, ya nakal.
    Hehehe… Pdhl nda semuax ya.

  2. Anak-anak punk di Bandung rata-rata begitu. Korban mode. Rambut disisir berdiri seperti sikat pakai wax murahan dan dicat pakai cat murahan, begitu kena hujan rambut berdirinya langsung jatuh semua. Sok-sok pakai kaos gambar Che Guevara, tapi begitu ditanya Che Guevara itu siapa, nggak ada yang tahu. Nyanyi-nyanyi main gitar tapi isi lagunya Wali atau Setia Band. Punk palsu, pokoknya punk KW, KW 9!

  3. Mereka yang dulu koar-koar anti kemapanan sepanjang taun 90’an di berbagai scenes, sekarang udah duduk manis di deretan meja KFC sama istrinya, dengan anak yang bermain game di Iphone-nya. No one really born and die as a Pang. Pang is det oiiii, totally dead.

  4. Nama Bandnya lucu, Tai Bebek.😉
    Anak Punk tidak harus geleng2 terus kan ya? Bisa juga angguk2.😆

    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukuran di Langakah Catatanku, Mas.
    Salam Senyum. . . ^_*

  5. aku termasuk salah satu yang ga suka banget liat anak2 punk. Ya…karna itu tadi, keliatan lusuh ga pernah mandi, dan kalo di lampu2 merah sering ngamen dan minta uangnya dengan cara maksa gitu T_T

    tapi ternyata ga semua anak punk begitu ya..:D

  6. Ping-balik: Teruntuk Calon Pemenang « Langkah Catatanku

  7. Waaahhh.. aku baru ngeh dengan anak punk ini deh lung. kalau mereka tetap dengan pola fikir anti kemapanan dan pemerhati pemerintah gitu emang bagus yak. perlu banyak orang seperti itu di indonesia. ya seperti kamu bilang. asal jangan modenya aja yg dapet.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s