[Berani Cerita #1] Saya Tidak Butuh Psikolog

sumber: tumblr.com
sumber: tumblr.com

Piring-piring tlah kutata rapi di meja makan dan kuharap hidangan yang kubuat bisa membangkitkan selera makanmu kembali. Aku perhatikan lagi penampilanmu hari ini. Berbeda. Tentu saja, karena hari ini ulang tahun pernikahan kita. Tak biasa-biasanya kau memakai tuxedo. Biasanya kau akan merengut saat kupilihkan tuxedo untuk kau pakai. Panas, alasanmu. Tapi kutahu kau sebenarnya memang tak suka tampil formal. Jiwa bebasmu tampak dari pilihan pakaian yang kau kenakan. Malam ini kau tak terlalu banyak bertingkah, maka aku pun berinisiatif membetulkan letak dasi kupu-kupumu yang miring.

Aku mulai makan dalam diam. Dan selama keheningan yang mengalun, tanpa sadar, kenangan menggiringku akan pertemuan kita. Kala itu, aku duduk tersengal-tersengal. Tertinggal dari rombonganku yang mendaki Gunung Merapi. Aku rutuki diri sendiri. Anak kota belagak naik gunung pula. Saat aku ingin meredakan rasa haus, baru kusadari botolku kosong. Kubanting botol pertanda kesal. Namun suaramu mengagetkanku. Gunung bukan tempat pembuangan. Jangan bawa kebiasaan anak kotamu di sini, tandasmu sambil mengambil botol tadi. Kau sengaja turun untuk menjemputku? Bukankah kau seharusnya memimpin rombongan? Keselamatanmu juga penting, karena kau salah satu anggotaku. Meski sering kesal dengan cara berbicaramu yang cenderung blak-blakan, aku terima. Sebab justru cara bertuturmu yang apa adanyalah yang menggiringku ke ikatan ini.

Lilin yang terbakar tinggal separuh. Aku menyuap makananku pelan. Kulihat, dari tadi kau tak menyentuh makananmu. Kenapa? Apa karena kali ini aku memasak bistik? Aku jadi ingat, dulu kau pernah tiba-tiba berkata bahwa kau ingin jadi vegan. Apa itu? Merek motor? Tanyaku tidak mengerti. Kau tertawa dan entah mengapa suara tawamu meneduhkanku. Vegan itu vegetarian. Aku ingin berhenti makan daging, jawabmu. Keningku berkerut. Lalu aku harus masak apa? Makanan kelinci? Aku tidak ingin menikah dengan kelinci.

Hidanganku sudah habis. Sementara piringmu tak tersentuh. Beberapa ekor lalat beterbangan di sekitarmu. Ah, dimana raket listrik yang selalu kau gunakan untuk membunuh nyamuk? Kau paling benci nyamuk, kenapa? Nyamuk, vampir, dan penguasa, mereka sama saja. Menghisap darah kita pelan-pelan. Sewaktu kita sadar, mereka tlah meninggalkan jejak pertanda kita tak berdaya. Begitu alasanmu dulu.

Lalat yang beterbangan makin banyak. Sementara di luar mulai terdengar suara gaduh. Kutatap wajahmu. Kau tampak tak terganggu. Maka kuputuskan untuk mengacuhkan suara-suara tersebut. Ini hari kita. Mengapa mereka tak mau membiarkan kita menikmati waktu kita sejenak?

Kugenggam tanganmu erat. Dingin. Dan kau tampak pucat. Apa ac yang kuhidupkan terlalu dingin? Dan suara-suara di luar makin keras saja. Aku makin erat memegang tanganmu. Kenapa kau tidak mau beranjak dari tempat dudukmu? Memelukku agar aku tenang seperti yang sering kau lakukan dulu?

Pintu ruang tamu didobrak keras. Beberapa orang masuk sambil mengarahkan senjata pada kau dan aku. Salah kita apa?

“Jangan bergerak, anda sudah kami kepung!”

Berita Koran Pagi

Kempes-Jakarta. Seorang wanita ditangkap karena menyimpan mayat suaminya. Diduga suaminya telah meninggal sejak lima hari yang lalu akibat gagal ginjal. Awalnya para tetangga mengeluh dengan bau busuk yang tercium dari rumah wanita tersebut. Ketika didobrak oleh polisi, didapati wanita tersebut tengah duduk di meja makan bersama mayat suaminya. Saat ditanya alasannya menyimpan mayat suaminya, wanita tersebut hanya berbisik berulang-ulang. “Saya tidak butuh psikolog.”

Note: 499 kata

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway Berani Cerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Iklan

25 pemikiran pada “[Berani Cerita #1] Saya Tidak Butuh Psikolog

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s