This is My First Love

tumblr_mcpajxfAod1rhkdpyo1_500

Seperti memakan gula-gula kapas di pasar malam. Bentuknya yang menarik membuatku tergoda mencicipi gula-gula kapas tersebut. Manis, manis memang. Manis gula yang membentuk kapas berpadu dengan aroma wangi. Tapi setelah gula-gula kapas habis, pahit gula yang terlalu banyak terasa berkelindan di lidah. Manis dan pahit. Sisa kenangan akan kau, cinta pertamaku.

Mengenalmu dalam seragam putih biru membuatku tersipu. Mereka yang lebih tua bilang, cinta monyet. Aku tak peduli. Waktuku pandangi parasmu dari jauh, ternyata kita sama-sama punya tahi lalat di atas bibir. Tapi tahi lalatmu lebih kecil dan terletak di bibir sebelah kiri. Dan ternyata, kita dipertemukan di kelas yang sama pula.

Aku tidak tahu apa yang membuatku terpikat padamu. Parasmu? Tidak juga, meski memang aku sempat tertegun saat pertama melihatmu. Karena aku lebih menyukai gadis berkacamata, terkesan pintar sebabnya. Namun jika memang harus ada alasan cinta pertama ini berlabuh padamu, mungkin lebih tepatnya kepribadianmu yang menjeratku.

Kau tipe gadis yang tidak bisa diam. Ceria dan selalu bersuara. Kapan saja, kau selalu berusaha membuat suasana kelas berwarna. Dan itu aku dan teman-temanku rasakan. Tanpa kehadiranmu sehari saja, kelas rasanya lengang. Aku tahu, diam-diam ada rasa yang tumbuh tiap melihatmu. Tapi aku terlalu pengecut. Aku pangkas perasaanku padamu karena aku tidak ingin mendengar penolakan darimu.

Waktu itu, dari sekian juta wanita di bumi, mungkin hanya permintaanmu yang tidak bisa kutolak. Aku masih ingat. Ketika sekolah kita mengadakan study tour ke Bukittinggi. Setelah seharian berusaha memburu bule, bus pun bersiap menuju Kota Pariaman kembali. Saat teman-teman membeli oleh-oleh, aku, kau, dan beberapa teman yang tetap tinggal di atas bus dikejutkan dengan empat sosok anak yang mengemis. Malang, belum sempat menadahkan tangan, mereka langsung diusir oleh kernet. Padahal kau ingin memberikan sesuatu pada mereka. Kau pun menangis.

Melihatmu menangis, hati ini rasanya tak tega. Aku pun memilih turun dari bus untuk mencari pengemis-pengemis cilik tadi. Padahal kernet sudah memperingatkan bahwa bus sebentar lagi berangkat. Setelah berputar-putar beberapa menit di Jam Gadang, aku menemukan mereka dan mengajak mereka kembali ke bus. Ternyata kau ingin memberikan mereka roti yang kau beli tadi.

Tiga tahun waktu yang cukup lama untuk menyembunyikan perasaanku padamu. Aku sebenarnya tahu, kau pasti tahu perasaanku sejak peristiwa itu. Tapi aku lebih memilih bungkam dan tetap menjadi sahabatmu.

Menjelang perpisahan, atas saran teman-teman, kuberanikan diri mengungkapkan perasaanku. Waktu itu kau tersenyum, kukira kabar baik yang akan kuterima. Namun setelah itu kau menggeleng, “Maaf, orangtuaku belum mengizinkanku berpacaran.” Aku tersenyum pahit. Setidaknya aku telah mengatakan rahasia yang telah lama kusimpan.

Kita melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Diam-diam, aku tetap menanyakan keadaanmu pada sahabatmu lewat surat. Saat lebaran tiba, aku menyempatkan diri bersilaturahim ke rumah guruku yang juga tetanggamu. Melewati rumahmu, ingin rasanya bertamu ke rumahmu. Namun aku terlalu pemalu. Melihat sepedamu yang terparkir saja rasanya sudah cukup.

Tahun bergulir, kita melanjutkan perguruan tinggi di tempat yang berbeda. Kudengar, kau pun telah mempunyai seseorang yang spesial. Meski begitu, hubungan baik mesti tetap terjalin bukan? Toh setidaknya kita masih sering bersapa dan bercanda lewat sms dan facebook.

Sekarang bagaimana kabarmu? Setelah wisuda tak lagi kudengar kabarmu. Kuharap kau tetap baik-baik saja dimanapun kau berada. Kenangan tentangmu pun kan selalu kusimpan rapat. Seperti kotak musik, alunan lagu cinta pertamaku kan terus mengalun tiap kubuka kenangan tentangmu.

Postingan ini diikutkan dalam rangka memeriahkan GIVEAWAY CINTA PERTAMA Blog Asyiknya Menulis

19 pemikiran pada “This is My First Love

  1. semoga dia belum menikah,jadi mas masih punya kesempatan.hehehehe…,jadi si doi masih nyantol dihati ya?belum bisa diganti sapapun?pantes aja masih jomblo…,#emangnya lagi jomblo?Plak!! “Maaf…,saya khilaf”

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s