[Berani Cerita #12] Sepatu Butut

sepatu butut prompt berani cerita 12
credit

“Sepatu siapa ini!?”

Teman-temanku yang sedang asyik bermain, mendekat. Sejenak mereka terdiam lalu berkomentar.

“Ga tahu. Baru kali ini lihat.”

“Cuma sebelah, ya? Pasangannya mana?”

“Idih, udah jelek banget. Robek di mana-mana.”

“Kalau kaya gini, sih. Gratis pun ga ada yang mau.”

“Bau banget, ya? Eh, itu apaan di dekatnya?”

“Kok mirip daging busuk?”

“Wueh, jangan-jangan bau busuknya dari situ?”

“Sudah-sudah,” aku menghentikan ocehan teman-temanku. “biar aku cari pemiliknya!”

“Buat apa?”

“Kalau ada seseorang yang memakai sepatunya sampai sebutut ini, berarti benda ini amat berharga, bukan? Pemiliknya pasti begitu kehilangan sekarang.”

Teman-temanku terdiam dan memberiku jalan. Lalu seperti biasa, dari sudut mataku kulihat mereka berbisik bila aku melakukan sesuatu yang mereka anggap aneh.

***

Sudah mencari kemana-mana, namun aku tidak juga menemukan pemiliknya. Rata-rata pertanyaanku dijawab dengan gelengan. Aku duduk sebentar di pinggir jalan untuk menarik napas. Saat itulah seorang ibu muda menegurku.

“Sepatu itu, punyamukah?”

Memangnya kenapa?

“Aku mempunyai pasangan sepatu tersebut.”

Aku menatapnya dari atas hingga bawah. Buktikan!

Wajah ibu di hadapanku berubah sedih. Ia menghela napas berat kemudian duduk di sebelahku.

“Beberapa hari yang lalu, anak perempuanku kecelakaan. Sebuah truk melindasnya saat ia melintas. Kaki kanannya putus dan terlempar entah ke mana. Saat itu, ia memakai sepatu merah muda seperti itu.”

Perlahan, ia mengeluarkan sebuah sepatu butut lain dari kantong plastik hitam.

“Lihat, sama bukan? Sepatu ini sepatu kesayangan anakku. Ia selalu memakainya sampai sejelek ini. Kuharap, dengan menemukan pasangannya, anakku bisa lebih bahagia di sana. Jadi, maukah kau mengembalikan pasangan sepatunya? Kamu pernah kehilangan seorang anak?

“Walaupun belum pernah, kelak kamu pasti tahu bagaimana perasaanku. Kehilangan seorang anak adalah sebuah kesedihan yang tak ‘kan pernah berlalu. Tak akan.”

Aku tertunduk mendengar penuturannya. Meski aku belum pernah punya anak, tetapi dapat kurasakan penderitannya. Perlahan, kuletakkan sepatu tersebut di sebelahnya. Rona wajahnya berubah membiaskan kelegaan. Ia peluk kedua belah sepatu dengan erat. Aku tak ingin mengganggu kesenangannya. Kutinggalkan dirinya dalam diam.

Namun belum begitu jauh aku pergi, ibu muda itu berteriak.

“Terima kasih.”

Aku menoleh untuk terakhir kalinya. Kukibaskan ekorku pertanda turut senang dengan apa yang ia rasakan. Aku pun membalas ucapan terima kasihnya dengan gonggongan kecil.

“Guk!”

350 kata

31 pemikiran pada “[Berani Cerita #12] Sepatu Butut

        1. hm, pengennya sih gitu mbak. tapi kalau ada 2 twist dlm 1 FF, saya takut salah satunya nanti malah ngejatuhin yg lain. sebaiknya gmn, y?🙂
          e tapi kan si ibu muda udah merelakan si anak yg kecelakaan. #ngeles:mrgreen:

  1. kalo aku jadi emaknya si anak pemilik sepatu sih, aku bakalan ambil itu sepatu tanpa mengajak tokoh ‘aku’ mengobrol atau minta izin dulu.😉

  2. uda, si ibu bertanya ke anjing kok gag pas yah.. setuju ma bang Riga, kalo aku jadi ibu langsung aku ambil😀
    etapi twistnya bagus, gag nyangka itu anjing

    1. itu kan sebenarnya si guk2 lagi ngegigit sepatunya. tapi sengaja saya buat seolah2 ia seorang manusia yg lagi memegang sepatu. sebab kalau saya buat “aku menggigit sepatu” ntar twist nya kebongkar.
      faktanya, ga semua orang berani langsung ambil barang yang lagi digigit anjing kan? makanya di ceritanya seolah2 si ibu bertanya terlebih dahulu.🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s