Aroma Rambut Mama

smell
credit

Sejak menginjak bangku sekolah menengah pertama, saya sudah diajarkan untuk hidup mandiri. Waktu itu saya terpaksa ngekos demi sekolah di sebuah sekolah yang bagus di Kota Pariaman. Untungnya, saya tak terlalu mengalami kendala saat diharuskan hidup sendiri. Tidak semua orang mampu hidup jauh dari orang tua bukan? Saat saya meneruskan ke jenjang sekolah menengah atas, lagi-lagi saya tinggal jauh dari orang tua. Begitupun ketika meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi sampai sekarang.

Tinggal jauh dari orang tua, terkadang ada hal-hal yang membuat saya begitu merindukan rumah. Apalagi ketika mama menjadi single parent saat saya kelas 4 SD hingga kuliah tingkat 3, hubungan kami sangat dekat. Kami sering berbagi cerita maupun keluh kesah. Saling menguatkan atau hanya sekedar bercanda. Saat sepi melanda, biasanya ingatan saya langsung terbang ke rumah di kampung. Selain masakan mama, ada satu lagi yang sering membuat kangen kepadanya, yakni aroma rambutnya.

Saya masih ingat, waktu saya masih tinggal di rumah maupun saat masih bisa sering pulang kampung, saya paling suka menghirup aroma rambut mama. Sewaktu listrik di kampung masih kurang stabil, saya dan mama sering tidur di ruang tamu sambil ditemani cahaya lilin. Satu buah bantal besar kami gunakan berdua. Mama meletakkan kepalanya di satu sisi, sementara saya di sisi lainnya. Kemudian, rambut panjang mama akan dibiarkan tergerai. Saat itulah, dari rambut mama menguar aroma yang khas.

Saya tidak tahu apakah itu aroma sampo yang mama pakai ataukah aroma lain. Yang pasti, aroma yang menyebar dari rambut mama begitu khas. Begitu meneduhkan dan menenangkan. Maka saat itulah saya akan melupakan masalah-masalah yang saya hadapi, kesedihan yang saya alami, maupun kenyataan bahwa kami hanya bertiga di dunia ini (tentunya sebelum mama menikah lagi).

Saat itu adalah saat-saat yang paling menyenangkan bagi saya. Mama saya orang yang kuat dan tabah. Ditinggal pergi suaminya tidak membuatnya patah semangat. Justru dengan tangannya sendiri ia bisa membuktikan kalau seorang perempuan pun bisa menghidupi dan menyekolahkan dua orang anaknya.

Ketika saya tidur-tiduran di dekat mama sambil menciumi aroma rambutnya, saat itulah biasanya mama mengajarkan kepada saya akan makna kehidupan. Bagaimana seharusnya saya bertindak, bagaimana seharusnya saya tumbuh sebagai seorang pria (agar tumbuh menjadi pria yang baik), dan nasihat yang sama: jangan pernah mengulangi kesalahan papa saya. Kejujuran juga merupakan poin penting yang senantiasa ia sampaikan waktu itu. Menurutnya, hanya kejujuranlah modal paling utama seseorang hidup di dunia. Biarlah orang lain saling sikut menyikut, asalkan kita jujur, orang lain pasti akan menghargai kita.

Sekarang saya sudah bekerja dan masih hidup sendiri. Kadang kala, di waktu bosan sedang melanda dan kesepian, saya terkenang aroma rambut mama tersebut. Tapi apa daya, mama jauh di kampung sedangkan saya tidak bisa sering pulang karena banyak pekerjaan. Akhirnya saya hanya bisa tidur di bantal sambil memejamkan mata, mencoba mengenang kembali aroma yang menguar dari rambut mama. Sungguh, saya kangen mama. Walaupun kenyataanya bau apek bantal saya sendirilah yang saya hirup.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin

16 pemikiran pada “Aroma Rambut Mama

  1. Sofyan

    Meskipun bantal apek, tapi yang namanya sudah kangen dan cinta ya tetep aja aromanya harum ya, Mas, hehehe. Semoga pas liburan nanti bisa pulkam dan berkumpul dengan keluarga

    Terima kasih pasrtisipasinya, Mas, sudah tercatat sebagai peserta🙂

  2. mmmmmmmm…..apakah pernah buka kulit kepala rambut panjang mama dan menghirupnya dalam-dalam…waaahhh…….asyiik sekali…. berarti carilah isteri nanti ya mas, yang aroma bau rambut panjangnya : “menyaaaak kelapaaaa” plus aroma rambut panjang mamaaaaaaaa…hu..hu..hu hick..hick..hick (nangis)

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s