[Berani Cerita #13] Masih Ada Waktu

Sketch of William Shakespeare.
Sketch of William Shakespeare. (Photo credit: Wikipedia)

“Ting, ting, ting.”

Ruang makan mendadak senyap begitu Papa mendentingkan gelas dengan garpunya. Gelak tawa penuh kehangatan menguap entah ke mana. Semua yang hadir di meja makan memasang tampang serius, kecuali aku.

“Kali ini ada kabar gembira yang ingin Papa sampaikan.”

Papa berhenti sejenak. Senyuman melengkung di wajah tuanya. Ah, palingan salah satu proyeknya gol lagi. Aku tak begitu mengindahkan. Kusuap kembali Prosciutto1 penuh-penuh.

“Tak lama lagi, Carlos akan menikah dengan Helen. Putri pemilik bengkel terbesar di kota kita.”

“Uhuk!” Aku tersedak setelah mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Papa. Potongan Prosciutto terasa tersangkut di kerongkongan. Bergegas kuteguk air putih. Papa tak mengacuhkanku, ia melanjutkan ceritanya.

“Papa harap pernikahan ini akan membuat bengkel yang kita miliki semakin berjaya. Tentunya dengan harapan bisnis kita dan keluarga Helen akan bersatu.”

Kulirik Carlos di sebelahku. Wajahnya seperti biasa, begitu tenang. Aku menyenggol kakinya pelan, ingin menegaskan pernyataan papa tadi. Tapi ia hanya tersenyum simpul. Aku semakin geram, berani-beraninya ia mempermainkanku! Segera kutinggalkan ruang makan tanpa menggubris panggilan mama.

***

Lima menit, waktu yang biasanya kubutuhkan untuk memperbaiki ring-ring piston. Tapi tidak kali ini. Udara panas justru membuatku gelap mata. Betapa tidak, tak kusangka pertemuan Carlos dan Helen berakhir dengan pernikahan. Aku menyesal mengenalkan Helen padanya.

“Logam tidak bisa dipaksakan,” suara kakek membuatku berhenti. “semakin dipaksakan, logam akan semakin melawan. Tidak ada mesin yang bisa diperlakukan seperti itu.”

Aku membalikkan badan ke arah kakek. Kakek tampak asyik mengipasi tubuhnya di meja kasir. Matanya menatap langsung ke mataku.

“Begitu pula hati. Kau tidak bisa memaksakan membuka hati yang ingin kau miliki. Hati adalah benda terapuh di bumi ini.”

“Lalu aku harus bagaimana, Kek? Aku menyayanginya.” Aku menundukkan kepalaku. Mengamati bercak-bercak oli yang belepotan di tangan. Apakah hatiku juga bebercak hitam? Sehingga tak ada yang sudi memikirkan perasaanku?

“Kau harus berjuang, Nak. Cincin belum terpasang di jari mereka masing-masing. Terkadang, kau harus menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri.”

Aku menatap wajah kakek. Meski dipenuhi kerutan, wajahnya tetap teduh. Kakek selalu berhasil menenangkan hatiku yang gundah hanya dengan beberapa patah kata dari bibir kisutnya. Aku tersenyum.

Benar juga. Bukankah keputusan tersebut belum final? Papa hanya bilang mereka akan menikah, kan? Tapi belum diputuskan kapan dan di mana, kan! Kira-kira kalau kuutarakan keinginanku, mereka mau mendengar tidak? Ah, kenapa tidak kucoba saja dulu?

Kuhapus bekas-bekas oli di tanganku. Tanpa mencuci tangan, aku berlari ke dalam mencari papa dan mama. Itu mereka! Sedang bersantai di halaman belakang. Aku berdiri di hadapan mereka dengan mantap.

“Pa, Ma, Carl ingin menikah dengan Carlos. Saudara kembar Carl!”

414 kata

Ket:

1: Daging asap mentah khas Italia.

Berdasarkan prompt:

Better three hours too soon than a minute too late.

Iklan

17 pemikiran pada “[Berani Cerita #13] Masih Ada Waktu

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s