[Berani Cerita #14] Si Hitam

kucing hitam
credit

“Bang, si Hitam berisik banget!”

Segera kubuka jendela kamar dan kulempar sandal ke arah si Hitam. Sejenak, suara mengeong si Hitam langsung hilang. Musim kawin sih boleh, tapi mbok ya jangan menganggu ketenangan orang lain. Apa dia tidak tahu kalau istriku sedang hamil?

***

Wanita mungkin makhluk terumit yang pernah diciptakan Tuhan. Aku tidak habis pikir, bagaimana cara Adam dulu menaklukkan Hawa. Apakah perangai wanita pertama sama seperti wanita-wanita lain saat ini?

Dua tahun menjadi seorang suami membuatku mengerti, wanita punya masa-masa tertentu yang dapat membuat orang-orang di sekelilingnya kebingungan. Saat datang bulan, aku harus menjadi pria paling penyabar di sampingnya. Apapun yang aku lakukan, selalu salah di matanya. Gilanya lagi, aku harus menghadapi ketidakpastian tersebut selama lebih kurang seminggu.

Selain datang bulan, masa-masa kehamilan adalah saat-saat yang paling menguras tenagaku. Aku harus memuaskan segala hasratnya yang aneh-aneh. Pernah suatu kali saat aku sedang memotong kuku, istriku berkata kalau dia ngidam durian. Padahal setengah jam lagi aku harus pergi salat Jumat.  Meskipun akhirnya durian itu kudapatkan, tapi jamaah lain kadung menatap aneh ke arahku.

“Bang, aku kok kepengen makan lamang tepai, ya?”

Tuh, kan! Baru saja dibicarakan. Dengan santainya dia meminta sambil memeluk si Hitam. Sebelah tangannya asyik mengelus bulu lembut si Hitam. Kesukaannya pada kucing membuatku mesti menguras kocek lebih dalam. Tidak hanya untuk makan si Hitam, tapi juga vaksin mahal agar istriku terhindar dari toksoplasma.

“Ke mana mesti Abang cari di Kota Jakarta ini, Dik? Sekarang kan belum Ramadhan?”

“Iya sih, tapi aku taragak1 makan penganan kampungku. Please, Bang. Abang mau nanti anak kita ngeces?”

Setelah menghela napas panjang, terpaksalah kukeluarkan mobil dan berkeliling mencari lamang tepai. Padahal jam telah menunjukkan pukul 23.47 WIB.

***

“Perempuan memang begitu, Dod. Kalau lagi ngidam suka minta yang aneh-aneh. Istriku waktu ngidam pengennya makan mangga muda.”

“Ah, itu sih biasa. Istriku lebih aneh. Masa dia kepengen kutang tetangga yang lagi dijemur? Terpaksalah kucuri kutang tersebut. Sampai sekarang, tetanggaku masih belum tahu siapa yang mencuri kutangnya.”

Aku tergelak mengingat percakapanku dengan teman-teman kantorku tadi. Ternyata bukan cuma aku yang menderita.

Bau masakan menyambutku ketika tiba di rumah.

“Bang, langsung makan yuk? Mumpung masih panas.”

Segera kusendok sup yang dihidangkan istriku. Rasanya cukup enak, istriku memang pintar memasak.

“Tumben masak, Dik?”

“Lagi kepingin aja, Bang.”

“Supnya beda, resep baru ya?” Kugigit-gigit kecil sekerat daging yang kutemukan dalam sup.

“Tadi aku lagi duduk-duduk, terus ngeliat si Hitam makan, jadi kepingin nyobain gimana rasanya si Hitam kalau dimasak.”

Mukaku memutih. Kulirik tempat tidur si Hitam yang kosong. Tanpa sempat ke kamar mandi, isi perutku tumpah ruah di meja makan.

424 kata

Keterangan:

Taragak: kepengen/kangen

20 pemikiran pada “[Berani Cerita #14] Si Hitam

  1. naas sekali si hitam di lempar sendal😀. Emang sih klo musim kucing kawin berisikk!. Hahhaha ceritanya nyindir para wanita nih yang sedang PMS trus hormonnya sedang turun naik, trus yg emosinya juga turun naik hehe😀.

  2. “Bang, langsung makan yuk? Mumpung masih panas.”

    Aku udah curiga pada bagian ini. Soalnya kok si Hitam di anak tirikan padahal dia kan tokoh utama, harusnya. Eh bener hahaha..

    Good job mas..

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s