[Prompt #16] Angin Kenangan

ruwais, monday flash fiction
credit

Aku menatap jendela di hadapanku dengan pandangan kosong . Aku tak begitu menyukai angin. Angin selalu mengingatkanku pada Kekasih. Bukan, itu bukan panggilan sayang. Namun namanya sesungguhnya, setidaknya begitulah pengakuannya.

“Kalau memang itu bukan namaku, anggap saja aku kekasihmu.”

Matanya mengedip kaku. Persis kedipan saat pertama kami bertemu. Hani yang mengenalkannya padaku. Alasan Hani padaku, “Agar kau tak kesepian lagi.”

Angin kering khas gurun bertiup lembut. Membuat pohon palem di depan jendelaku mengetuk-ngetukkan lengannya lembut. Seperti ketukan lembut berulang Kekasih, ajakan agar aku mau keluar dari rumah. Biasanya, aku menolak. Rumahku terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Tapi gerakan-gerakan Kekasih selalu berhasil menyeretku keluar. Aku terkikik melihat sendi-sendi kakunya berderak saat ia mencoba menari. Tariannya tak menghibur, tapi cukup mengobati sepiku.

Lalu Hani mengenalkan si Pirang kepada kami. Bibirku langsung mengerucut. Ia terlalu sempurna sebagai wanita! Belum lagi tingkahnya yang menggoda.

Angin kering bermetamorfosis menjadi badai pasir ganas di luar sana. Seperti hubunganku dengan Kekasih. Aku menampar pipinya yang keras saat kupergoki Pirang mencumbunya. Kurasa cemburuku wajar, mengingat segalanya t’lah kuberikan padanya.

Sewaktu Hani mengajak kami berlibur ke Ruwais-untungnya tanpa ikut serta si Pirang-Kekasih berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya. Tapi aku tak peduli. Aku justru meluncurkan sembilu dari bibirku.

“Aku tak ingin lagi bertemu denganmu!” Kekasih langsung terdiam.

Kini, ingin rasanya kutarik kembali ucapanku tersebut. Terlebih saat Kekasih benar-benar hilang. Aku sempat melihat sepotong tangan membekapnya dan menariknya paksa dari kereta yang aku dan Kekasih naiki. Lidahku kelu. Aku terlalu shock sampai-sampai tak kuasa memberitahukan hal tersebut pada Hani. Kini aku begitu merindukan senyum kaku Kekasih. Persis seperti rindunya tanah gurun akan siraman hujan.

Suara-suara langkah kaki berderap di luar kamar, ada yang datang! Aku buru-buru menghapus air mataku.

“Pokoknya Hani ga mau tahu, kita harus menemukannya lagi Ma!”

“Tapi bagaimana cara mencarinya di bandara sebesar itu, Hani?”

“Habis, dia ga mungkin hilang begitu saja kan? Pasti ada yang mengambilnya dari atas troli Hani!”

“Iya, nanti Mama coba hubungi lagi pihak bandara. Siapa tahu pencuri robot-robotanmu bisa ditemukan.”

“Huuh, padahal itu hadiah dari Papa. Lihat, Susan ikut sedih.”

“Ah, kamu ada-ada saja Sayang.”

“Ih, Mama ga percaya. Coba rasain bekas air mata di pipi Susan!”

352 kata

24 pemikiran pada “[Prompt #16] Angin Kenangan

  1. Si Kekasih ini robot-robotan? Terus Susan itu si Pirang dan dia boneka Barbie? Gitu? Si “aku” ini ibunya Hani? Terus si “aku” suka sama robot-robotan? Aduh, aku bingung… Tapi ceritanya keren, aku jadi berpikir keras.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s