[Berani Cerita #17] Rahasia Roni

secret-1597-x-15001
credit

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Seperti biasa, Pak Agus berpatroli di sekitar sekolah. Tahun ini, tak banyak anak yang berulah. Palingan hanya berandal-berandal kecil yang mencoba cabut dari sekolah. Tapi biasanya, setelah dibawa ke ruang BK, mereka bakal mengubah sikap.

Meski begitu, ada satu orang siswa yang menyedot perhatian Pak Agus. Namanya Roni. Selalu datang di awal waktu, pulang belakangan. Jalannya menunduk. Dengan pundak yang turun dan langkah yang tertatih, Roni seperti membawa beban berat kemana-mana.

Roni murid pindahan. Kata wali kelasnya, dari Makassar. Roni selalu minta izin sewaktu mata pelajaran Penjaskes. Alasannya asma. Tapi Pak Agus tahu, Roni menyembunyikan sesuatu. Sebab saat Pak Agus berpatroli, ia kerap melihat Roni mengendap-ngendap ke kelas paling ujung. Tindak-tanduknya itu membuat Pak Agus penasaran.

***

Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga. 

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak.

Roni meraba-raba pinggir jendela, lalu memanjat jendela dengan hati-hati. Sejenak, ia duduk di pinggir jendela sambil mengamati sekeliling. Teman-teman sekelas masih asyik olahraga di lapangan, sekitar pun sepi.

Aman!

Roni meloncat turun ke dalam kelas. Sayang, matanya luput melihat Pak Agus yang memerhatikannya dari balik tiang.

Kelas 8-H tidak dipakai. Lebih menyerupai gudang sebenarnya dibanding ruang tempat anak-anak menuntut ilmu. Dari luar, Pak Agus melihat Roni tampak asyik melakukan sesuatu di pojok, dekat lemari kayu. Pak Agus masuk ke dalam kelas tanpa menimbulkan suara.

“Kamu sedang apa, Roni?”

Roni tersentak. Segera ia membalikkan badan sambil berusaha menyembunyikan sesuatu di balik badannya.

“Kenapa kamu tidak ikut olahraga bersama teman-temanmu? Apa yang itu yang kamu sembunyikan? Boleh Bapak lihat?”

Roni mengangsurkan benda yang ia pegang. Ternyata buku tulis. Pak Agus membalik-balik helaian buku tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum.

“Kamu suka buat komik, ya? Kenapa mesti sembunyi-sembunyi?”

“Teman-teman selalu mengejek saya, Pak. Katanya, dengan kekurangan saya, tak mungkin saya bisa jadi tukang buat komik. Makanya saya selalu membuatnya diam-diam di kelas ini.”

Pak Agus mengangguk mahfum. Ia menurunkan dua buah bangku dan menyuruh Roni duduk.

“Kamu tahu Ron, Bapak dulu juga seperti kamu. Sering diejek teman-teman. Bapak jadi minder bergaul. Sampai suatu hari Bapak berpikir, kalau seperti ini terus, bagaimana orang-orang bisa tahu kalau Bapak pernah ada? Lalu Bapak mulai membuka diri dengan lingkungan dan menggali kelebihan Bapak.”

“Sampai menjadi kepala sekolah seperti sekarang, Pak?”

“Ya. Ron, tiap orang punya kekurangan, tergantung bagaimana dia menyikapinya. Tampilkan kelebihanmu, maka orang-orang akan lupa kalau kau punya kekurangan.”

Bias muka Roni berubah. Kedua matanya mulai memancarkan kepercayaandiri, walau salah satu retinanya abu-abu buram.

“Yuk, kita keluar. Ruangan berdebu tidak baik buat asmamu.”

Pak Agus merangkul Roni keluar kelas. Langkahnya terpincang-pincang, sebab salah satu kakinya memang pendek sebelah.

 459 kata

16 pemikiran pada “[Berani Cerita #17] Rahasia Roni

  1. yaampun terhura (?)
    walau dengan kata yg minim bisa langsung menyampaikan tujuan dan pesan moral didalamnya .. !!

    5 jempol (?)😄
    BAGUS KAK SULUNG .. !!#sok akrab !! hehehe

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s