[Prompt #18] Lissa

Jeremy & Jenny
credit

Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku berlari keluar dari kamar. Segera menuju lemari di dekat pintu, satu-satunya perabotan yang kami punya di tempat persembunyian ini.

Brengsek, di mana sih kutaruh suntikan insulin Lissa?

Kuacuhkan surat-surat yang berjatuhan dari atas lemari, bahkan surat dari Amak yang belum kubaca. Palingan isinya juga sama seperti surat-surat yang lainnya. Kondisi Lissa lebih penting. Sebab Lissa lah jawaban dari surat-surat tersebut.

Sial, apa aku memindahkannya ya?

Teriakan dari dalam kamar semakin keras. Aku tidak tahu kenapa dia belakangan ini sering gelisah. Mungkin karena kondisi kami belakangan ini yang membuat stresnya meningkat.

Keringatku mengucur deras. Aku mengutuki kontrakan yang ventilasinya tidak lancar. Tanganku basah. Sudah kubongkar semua laci, tapi tidak juga kutemukan. Tunggu dulu, sewaktu tidur tadi bantalku terasa agak mengganjal. Jangan-jangan?

Bergegas aku kembali ke kamar. Kulempar bantal yang tadi kupakai. Ternyata benar, kotak berisi suntikan-suntikan tersebut kutaruh di balik bantal. Segera kuambil satu dan kubuka baju Lissa. Kusuntikkan insulin tersebut di atas pusarnya.

Beberapa saat kemudian, dengus napas kencang Lissa melambat. Kejang-kejangnya berkurang. Dalam lelahnya, Lissa menatap mataku. Bening matanya membuatku merasa bersalah. Kutepis perasaan bersalahku.

Bergegas kuambil buku cek di atas meja beserta pulpen. Kubimbing tangannya untuk menandatangani selembar cek dalam buku cek. Kukecup pelan kening Lissa. Ah, kukira keningnya basah oleh keringat. Ternyata air mataku yang tak terbendung lagi. Aku mengambil telepon genggam di atas meja.

Mak, nanti malam kukirim uangnya. Semoga cukup untuk penyembuhan pengobatan gagal ginjal Abak. Amak jangan sungkan meminta bantuan pada Buyung, ya.

Send

Aku memandangi tubuh ringkih Lissa. Sembari mengelap tubuhnya yang basah oleh keringat, kukecup pelan tiap jengkal tubuhnya yang kering kulap.

Lissa, bukannya aku ingin menyakitimu. Tapi hanya kaulah jalan keluar kesulitan biaya pengobatan Abakku di kampung. Aku tahu kau begitu kesakitan dan begitu ingin penderitaanmu segera diakhiri. Namun kalau kau tidak ada, tentu orang tuamu tak kan mau lagi mengucurkan biaya untuk kita.

Mungkin ini sebentuk cintaku kepadamu yang tak bisa kau pahami. Semoga suatu hari kau mengerti.

Aku mengecup kelopak matanya yang tertutup, untuk kemudian berbaring di sebelahnya. Memeluknya erat.

347 kata

12 pemikiran pada “[Prompt #18] Lissa

  1. Wihh si aku ini cowok matre ternyataaa..
    Inilah masukan saya, Udaaa
    Sebenarnya kejang pada penderita DM jarang yahh.. kecuali kalau dia sudah DM parahh emm tapi bolelahh.. istilah kejang kurang tepat karena si pasein yang hiperglukosa (kadar glukosa tinggi) biasanya gelisah yang seperti berontak dan meracau tak jelas kaya lisa ini. Kalau kejang lebih ke keadaan tubuh dia tuh mengelapar ga pake teriak, mata cuma putih doang. Saya punya pasien yang kadar glukosanya sampai 800 (normal 200) dia tuh gelisah dan berontak karena otanya kelebihan glukosa. Mungkin bukan kejang kali yag.. gelisah gituu dehh🙂
    Terus ada yang ga sesuai logika di cerita ini.. tadi siang si Lisa baru disuntik insulin kan? ga mungkin glukosanya naikk karena insulin pasti sudah nurunin kadar glukosanya. dan pemberian gukusa tiga hari sekali itu dengan kadar yang ditentukan. Mungkin tadi siang si aku ini lupa menyuntikan insulin ke si Lissa.
    Terus aku bingungnya gini, si lisa ini kejang gitu kan? Kok si aku tahu aja kalau itu karena glukosanya tinggi? tahu dari mana? Apa memang si Lisa sering gelisah kaya gitu? nahh! mungkin flashback kalau lisa pernah gelisah seperti ini karena si Aku lupa menyuntikkan insulin. Mungkin kasih tambahan juga kalau si Lisa ini dm Tipe 1 jadi emang dia ga punya insulin jadi tergantung banget sama penyuntikan insulin kalau dia ga disuntik sekali aja langsung kejang😀
    Oh iya sebenarnya suntik insulin
    Tambahan lagi suntikan insulin itu bentuknya kaya pena, sebelumnya diatur dulu berapa cc yg akan disuntik,, biasanya 5cc sihh. yang baik itu di lengen atas dari pada di perut tetapi sebanarnya sama aja😀
    Sipp semangat Udaaa
    Kalau ceritanya kerenn..

  2. baca komennya Ajen, wogh… jadi jiper yak nulis fiksi yang berhubungan dengan penyakit😆 TANPA riset panjaaaaaaaaaaaaaaaaang kali lebaaaaaaaaaar kali tinggi.:mrgreen:

    Kayaknya ini udah diedit ya… looks good sih, buatku.

  3. fatwaningrum

    iyyaah, setuju sama mbak carra, jadi jiper kalo posting cerita ttg penyakit tapi gak riset2 doloh :))). ini keren banget pak guruuuu🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s