[Berani Cerita #18] Tiket Keberuntungan

jembatan akar pesisir selatan
credit

Aku melihat ke bawah dengan perasaan ngeri. Jembatan akar yang aku dan Bujang lewati memang cukup kuat, tapi tetap saja ada perasaan cemas kalau-kalau kami terpeleset dan disambut batu-batu kali runcing di bawah sana. Sebenarnya ada jalan yang lebih baik, akan tetapi mesti memutar jauh. Dan lagi, aku ingin kembali merasai tempat-tempat yang dulu pernah aku dan Bujang lewati bersama.

“Mak, Mesir itu di mana, sih?” Bujang yang sedari tadi diam, mendongakkan kepalanya ke arahku.

“Mesir itu, di Benua Afrika sana, Nak. Di sana matahari bersinar terik sementara Sungai Nil dengan sombongnya membelah Mesir.”

“Kalau panas, kenapa Amak mesti ke sana? Dan lagi, di sini juga ada sungai yang airnya jernih.”

“Mak kan harus kerja. Nanti kalau Mak ga kerja, siapa yang membiayai sekolahmu kelak? Bukankah kamu mau jadi pilot? Itu butuh biaya banyak, Nak.”

“Berarti, Mak benar-benar harus pergi ya? Padahal Mak baru beberapa hari di kampung setelah lama tak pulang.”

Kami telah sampai di seberang. Aku berjongkok di hadapan Bujang. Kubelai lambat rambutnya yang lebat.

“Mak pasti kembali, Nak. Nanti kita kan masih bisa berkirim surat?”

Aku menghapus air mata yang menetes dari bening mata anakku. Kupeluk erat tubuhnya. Tubuh kami sama-sama berguncang. Tergugu menahan tangis masing-masing.

“Kamu harus kuat ya, Nak! Sebab kamulah yang akan merawat Mak di waktu tua nanti.”

Tangisnya pecah. Bujang memeluk erat tubuhku seperti enggan melepas. Aku mencium kening, pipi, mata, dan tiap jengkal wajahnya berkali-kali. Tuhan, maafkan bila aku begitu kejam padanya.

jembatan akar pesisir selatan
credit

***

Di mana sih kutaruh tiket pesawatnya?

Kuaduk-aduk barang-barang di dalam tasku berkali-kali. Suasana di Bandara International Minangkabau cukup padat. Hilir-mudik orang lewat di depanku. Putus asa, segera kuambil telepon genggam dan menelepon kakakku. Kepadanya kutitipkan Bujang selama aku pergi.

“Halo, Kak. Tolong tanyokan ke Bujang! Di mana dia latakkan tiket yang dipegangnya semalam?”

Sembari menunggu kabar dari kakakku, mataku beralih pada seorang anak kecil yang menangis di depanku. Ia memeluk kaki ibunya erat. Sementara bapaknya berusaha membujuk si anak untuk melepas ibunya, ibunya berusaha terus berjalan. Si ibu tampak menggigit bibirnya kuat.

“Halo, Des. Ruponyo anakmu yang menyembunyikan tiketmu. Sudah kumarahi dia tadi. Kusuruh saja Udamu mengantarkan tiketnya ke sana, yo?”

Kulirik jam di pergelangan tangan, masih ada waktu. Mataku kembali memerhatikan keluarga di depanku. Aku mulai goyah.

***

Mulutku beristighfar lirih saat menyaksikan tayangan di tv. Di Mesir terjadi kerusuhan. Massa menuntut Presiden Hosni Mubarak turun. Keadaan kacau. Di mana-mana terjadi tindak kejahatan serta baku-hantam antara tentara pemerintah dengan rakyat. Kupeluk erat Bujang di sampingku. Mungkin aku mesti berterima kasih atas ulahnya menyembunyikan tiketku.

414 kata

21 pemikiran pada “[Berani Cerita #18] Tiket Keberuntungan

  1. Aku selalu suka tiap kali bang sulung masukin unsur padang ke cerita.. Keren bang. Tapi penasaran kalau dipanjangin gimana, banyak kesempatan untuk menggali emosi pembaca

  2. uda sulung. … ceritanya punya kesamaan dengan cerita Harry Irfan (pada bagian cerita tiket). Kesamaan itu ada pada “tidak jadi berangkat karena tiket tak ada, lalu ternyata malah terhindar dari bahaya.)

    Dan yah, sejak awal mula bagian ke dua pada kalimat ” di mana sih kutaruh tiket pesawatnya”, seluruh bagian selanjutnya jadi tertebak. Si Bujang menyembunyikan tiket, tidak jadi berangkat, terhindar dari musibah.

    Anyway, ide menggabungkan dua tema dalam satu cerita boleh juga.🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s