Grey

burung nuri afrika
credit

Ibuku memberiku seekor burung nuri! Kenapa?

“Kurasa kau perlu teman bicara. Aku tahu kau menyukai suasana yang tenang untuk menulis, tapi rumah ini terlalu sepi Lea.”

Kenapa harus nuri? Dan lagi, bukankah ada si Iyem? Ibuku malah mengendikkan bahunya.

“Kau alergi bulu kucing dan anjing, Nak. Si Iyem pun di sini hanya sampai pukul tiga. Sudahlah, percaya saja padaku. Kau akan menyukainya. Namanya, Grey!”

Setelah ibu pergi, aku memandangi lekat-lekat nuri Afrika berbulu kelabu pemberian ibuku. Di dalam sangkarnya, ia menelengkan kepala menatapku.

“Hallo, hallo Grey. Apa kabar?”

Aku berharap dia bakal meniruku, tapi dia malah bungkam. Lalu meloncat-loncat di dalam sangkar. Kucoba sekali lagi. Grey memang berhenti meloncat, namun ia malah menegakkan badannya dekat jeruji kandang dan berceloteh, “Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan?”

Astaga, dasar nuri nakal! Sepertinya rumahku tak kan sepi lagi.

***

Grey ternyata memang nuri yang menyenangkan. Ia tak perlu diajari bicara. Ia belajar dari bebunyian serta suara yang ia dengar sehari-hari. Justru bila aku mengajarinya kalimat baru, ia akan membisu dan mematung. Menganggapku badut yang memainkan lelucon untuknya.

Kini rumahku terasa lebih ceria dipenuhi ocehannya. Bila aku bangun pagi, Grey akan menyapaku dengan “Di mana koranku?” Jika melihatku mondar-mandir, memeriksa permukaan meja, dan membuka-buka laci, Grey akan menimpali dengan “Dompetku, dompetku, di mana aku meletakkannya?”

Namun, momen yang paling kunikmati bersamanya adalah saat kami berdua menonton tv di malam hari. Aku sengaja membuka kandang dan duduk di sofa. Lalu Grey kan berjalan di lenganku hingga tiba di pundak, bertengger sambil menyandarkan kepala mungilnya ke kepalaku.

Begitu sayangnya aku padanya, sampai-sampai ketika aku harus pergi ke luar kota untuk menjadi pembicara, aku mesti menitipkannya pada pacarku. Sekalian menjaga rumah tentunya.

“Kau yakin? Aku tak pernah memelihara hewan sebelumnya.”

“Dia tidak susah diatur, kok. Makanannya pun sudah tersedia di lemari dapur.”

Di kemudian hari, baru kusadari keputusanku salah. Saat aku pulang dan baru duduk, Grey menyambutku dengan mengeluarkan suara-suara aneh. Suara-suara melenguh tertahan, ditimpali dengan kalimat, “Oh, Lidya, Lidya. Kau membuatku melayang tinggi.”

Bangsat, pantas aku menemukan ceceran mani di sofa! Langsung kuhampiri pacarku di dapur. Kutampar dan kuusir dari rumahku. Sepertinya ia pun tidak merawat Grey dengan baik. Jeruji sangkar Grey tampak lecet di mana-mana. Bahkan saat Grey kudekati, ia justru menjauh ke pojok sangkar dan memelototiku dari sana.

Aku membujuknya dengan segala cara agar ia mau keluar. Dengan makanan kesukaannya, membuat suara-suara aneh, semua kulakukan. Tapi Grey tetap tidak mau mendekat. Setelah sejam lebih membujuk, barulah Grey maju beberapa langkah dengan ragu-ragu. Saat aku membawanya ke sofa, ia masih menundukkan kepalanya.

“Ayolah, Grey. Jangan marah padaku. Kalau tahu pacarku jahat padamu, tak kan kutinggalkan kau lama-lama dengannya. Kau tahu kan kalau aku menyayangimu?” Aku mengusap kepalanya, merapikan bulu-bulunya dengan telunjuk. Barulah Grey akhirnya mau bicara.

 “Aku sayang kamu, Lea,” katanya.

 Ah, sepertinya aku tidak butuh pacar lagi.

#proyekcinta @bintangberkisah

8 pemikiran pada “Grey

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s