[Berani Cerita #19] Pria Jaket Hijau Stabilo

traffic light
credit

Tubuhku bergeming di pinggir jalan. Memandangi jalan berselang-seling garis putih di hadapanku. Ingin terus, tapi tak berani. Lalu lintas terlalu ramai!

“Mau nyebrang, Dik?” Suara bariton menyentakkan tubuhku. Seorang pria berjaket hijau stabilo tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Kupamerkan senyum terbaikku.

“Iya, Bang.” Bang? Bukan ejekan kurasa, sebab polisi satu ini memang masih muda.

“Priit!” Dengan tangkas ia mengantarku ke seberang.

“Hati-hati ya, Dik. Di perempatan ini, lampu merahnya sering rusak, meskipun sudah diperbaiki. Makanya sering terjadi kecelakaan.”

“Abang baru, ya?”

“Iya, belum lama ditugaskan di sini.”

Dari sudut mataku, kulihat beberapa pengendara yang memelototi kami. Terang saja, sudahlah muda, tampan pula. Helm di kepala tak bisa memerangkap kemilau rupawannya. Belum lagi tubuh tegapnya. Atau mereka memelototi hal lain?

“Ya, sudah. Saya tugas lagi.”

Aku mengangguk, terlalu kuat malahan. Sampai rambut panjangku berantakan.

***

Rasanya aku semakin terpikat dengan si polisi muda. Terkadang, aku sengaja duduk di kerimbunan semak taman memerhatikannya bekerja. Saat di hidungnya bertengger setitik keringat, ingin aku berlari menghapusnya. Seringkali aku sengaja berdiri di pinggir zebra cross, menunggunya membantuku menyeberang. Meski sebenarnya aku tak ada keperluan di seberang sana.

Ah, sudah lama tak kurasakan perasaan ini. Sejak polisi terakhir tak lagi bertugas di perempatan ini. Badanku gemetar. Ada yang ingin tumpah-ruah dari dalam. Berkali-kali aku menelan ludah serta menjilat bibir untuk menahan hasrat tersebut. Aku sudah tak tahan. Kan kugadaikan maluku untuk mendapatkannya. Hari ini juga!

Beruntung, cuaca seperti memihak. Pagi kelabu. Sehabis hujan subuh, tumben-tumbennya kabut menggelayut di kota ini. Atau asap? Kutunggu dirinya dekat lampu merah yang berkedip-kedip rusak. Jalanan lengang. Kutebak ia agak santai pagi ini.

“Mau nyebrang, Dik?”

“Iya, Bang. Bang, bisa tolong bantu saya? Kaki saya semalam terkilir.” Kulancarkan jurus pertamaku. Ia memapahku perlahan menyeberangi zebra cross. Belum sampai di seberang, mulutnya terbuka.

“Rumah kamu di mana, sih? Kamu sering kali lewat penyeberangan ini?”

Aku tersenyum. Pertanyaan yang t’lah lama kutunggu. Aku berhenti melangkah, kupegang lengannya erat-erat.

“Rumahku di sini, Bang.”

Dari kejauhan, tampak kerlip lemah lampu mobil. Aku menahannya semakin erat, sampai kurasa jari-jariku menusuk daging tangannya.

“Maksudnya?”

“Rumahku di sini!”

Aku menunjuk noda darah yang tak pernah hilang dari zebra cross. Dirinya tersentak kaget. Ingin lari, tapi percuma. Kutahan tubuhnya kuat di tengah jalan, sampai sebuah mobil membuatnya melayang tinggi. Di atas lampu merah, aku duduk sambil terkikik geli melihat tubuhnya menggelepar. Nanti malam akan ada pesta besar dan aku bisa memamerkan koleksi jaket hijau stabiloku yang terbaru pada teman-teman.

406 kata

18 pemikiran pada “[Berani Cerita #19] Pria Jaket Hijau Stabilo

  1. semula sempat heran dengan kalimat ” Saat di hidungnya bertengger setitik keringat, ingin aku berlari menghapusnya.” Dih, punya penglihatan super, Mbak? Hehe. Tapi jadi maklum ketika terjelaskan bahwa si ‘mbak’ ini lelembut. Btw, tujuan si ‘lembut’ ini apa sih? Mengoleksi jaket atau koleksi cowok ganteng? *ehhh…

  2. Aku pikir endingnya si polisi bakalan jadi tumbal atau apa gitu. Atau jangan-jangan si pak polisi ikutan dateng ke pesta besar juga ya? Karena udah jadi hantu?

    *bikin cerita sendiri*

    Oya kakak uda sulung, hantunya pas Subuh masih keliaran?

    Serem juga ya..😐

  3. Rita

    Salam kenal Uda
    karena keasikan, jd ga kerja seharian
    mudah2an ga ada yg lihat hehehe

    Semua ceritanya kerennnnn
    semua?
    iya semua. karena saya baca semua ceritanya hehehe

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s