Cinta (Tak Pernah) Mati

credit

“Kau lagi. Sepertinya kau tidak pernah puas menyesap tubuhku?” Aku menjentikkan abu rokok yang kuhisap. Serpihannya luruh menuju sungai di bawah sana. Langit temaram. Kunikmati angin malam dari atas jembatan.

Bukannya aku tak menyukai kedatangannya, senantiasa menunggu malahan. Tapi aku malu mengakuinya. Bisa-bisa aku disoraki teman-teman sebagai pungguk merindu bulan. Sosok tegap berkulit sawo matang, wajah datar tanpa ekspresi, belakangan ia memang sering memakai jasaku. Pertama kali ia mendekatiku, bukan main cemburunya yang lain. Sebab mereka memang selalu berusaha mati-matian mendapatkan pelanggan, merayu-rayu, mendesah-desah manja memanggil yang lewat. Sementara aku hanya merokok sambil menatap tepian sungai.

Bisa dibilang, aku candu dengan permainannya. Entah kenapa, tiap kami bermain cinta, jiwaku seolah raib. Setelah dia mengecup pelan keningku, maka saat itulah aku akan kehilangan kesadaran. Tahu-tahu aku sudah merengkuh nikmat di atas tubuhnya. Tapi dari bekas cakaran, rambut yang acak-acakan, serta jejak gigitan yang tinggal di tiap jengkal kulitnya, aku tahu kalau aku begitu liar bersamanya. Setan, mana pernah aku seperti itu dengan yang lain? Kuikuti langkahnya menuju mobil. Diam-diam, aku berharap malam ini tak kan berakhir. Oh, ya, sebelum aku lupa, ia mengaku namanya Samsul Bahri.

***

“Kau lagi. Sepertinya kau tidak pernah puas menyesap tubuhku?” Aku hanya tersenyum datar menanggapi perkataannya. Kata-kata yang berhamburan dari mulutnya memang selalu saja tajam, tapi aku tak peduli. Kunikmati tampilannya malam ini. Berbalut terusan ketat sepaha, sosoknya begitu memabukkan. Tahi lalat kecil di sudut bibirnya membuatku begitu bergairah. Ia begitu pandai bercumbu, mungkin karena pengalaman bertahun-tahun.

Aku tak pernah menyangka bakal menemukan sosok yang begitu mirip dengan kekasihku di tempat seperti ini. Bayangkan, sekian lama mencari ternyata ia begitu dekat. Menjaja kemolekan tubuh di atas Jembatan Siti Nurbaya. Tempat yang senantiasa membuatku mengenang kisah lampau dengan kekasihku. Kehidupan sebelumnya? Entahlah, aku tak percaya reinkarnasi. Yang aku yakini adalah, kisah asmaraku pernah kandas, dan sepertinya kali ini Tuhan mencoba memberiku kesempatan kedua.

Aku tahu kalau wanita di sampingku ini bukan kekasihku. Mereka begitu mirip. Bayangan yang selalu mengikutiku meyakinkanku, bahwa memang wanita ini lah yang tepat. Ia setuju untuk menghabiskan malam ini denganku. Dan ini lah kami, di atas dipan reot penginapan murahan.

Seperti biasa, setelah kukecup pelan keningnya, ia langsung menggila. Matanya putih, saat itu aku tahu bayangan yang selalu mengikutikulah yang menguasai raganya. Maka aku akan menjadi sosok yang penurut. Dicumbunya tiap jengkal tubuhku, dijambaknya rambutku sampai beberapa helainya rontok. Ia seperti menari di atas tubuhku. Liukan tubuhnya, desah napasnya, bahkan cara kuku-kukunya melukai kulitku, aku yakin kalau yang di atas tubuhku adalah kekasihku, bukan si wanita malam. Sebelum mencapai puncak tertinggi, ia berbisik di telingaku.

“Sepuluh kali persetubuhan, dan malam terakhir dihiasi bulan pucat. Lengkapi persyaratannya sayang, maka kita akan bersama lagi.”

Lalu ia melenguh tinggi kemudian ambruk di atas dadaku. Sebentuk bayangan berpindah ke pojokan dari tubuhnya. Si wanita malam menggelengsor ke samping. Kutelusuri dadanya dengan ujung jari. Ia tersenyum lalu tertidur. Perlahan, kuambil bantal yang basah oleh keringat kami. Kututup mukanya dengan bantal, kutahan hingga ia berhenti menggelepar.

“Persyaratan selesai, Sayang. Ini tubuh yang kau inginkan. Kuberikan kau arti hidup!”

500 kata

Terinpirasi dari kisah cinta Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang menjadi legenda di Kota Padang. Prompt yang digunakan dari lagu: Semua hangatnya dirimu, berikanku arti hidup.

Iklan

41 pemikiran pada “Cinta (Tak Pernah) Mati

  1. Ping-balik: Pengumuman MFF #21 | Coretan Mel

  2. Keren ceritanya, layak menjadi yang nomor satu dalam Lomba FF-nya Mel Puspita. Tapi kalau dibilang terinspirasi dari cerita Siti Nurbaya? Masa sih? Siti Nurbaya dan Sjamsul Bahri gak segitu liar tuh di ranjang, hay, hay, hay…. Anyway, FF-nya keren.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s