Rimah Meratap

credit

Ramadhan tinggal hitungan hari. Tiap bulan suci tiba, senantiasa ada kesibukan yang sama di atas rumah Rimah. Pagi-pagi buta, Rimah akan pergi ke dapur untuk mencuci beras ketan, kemudian menyiapkan bambu yang sudah dibersihkan untuk membuat lemang. Di Dusun Sarai, orang-orang terbiasa mengantar penganan ke rumah kerabat mereka. Penganan yang diantar dapat bermacam-macam, tapi yang jadi primadona biasanya lemang-tepai. Tidak semua orang memiliki waktu membuat lemang yang memang butuh waktu lama memasaknya, maka saat itulah orang-orang akan memesan lemang-tepai Rimah yang terkenal kegurihannya.

“Sudah kau pertimbangkan tawaran Dinir yang ingin mempersunting Nurmala?” Mak Cudiak, kakak Rimah menghisap rokok nipahnya pelan. Embusan asapnya membumbung ke langit-langit rumah.

“Tidak. Aku ingin Nurmala melanjutkan sekolahnya, Da.”

“Biaya dari mana? Kau kira dengan menjual lemang, kau bisa membiayai sekolah anakmu? Untuk makan sehari-hari saja tidak cukup!”

“Aku bisa meratap untuk menambah-nambah biaya hidup kami berdua.”

“Ah, kau memang keras kepala! Berapa banyak kematian yang mesti kau tunggu? Terimalah pinangan itu. Kau tak perlu susah-susah lagi mencari bambu untuk membuat lemang. Pun kau tak usah menunggu kabar kematian untuk kau ratapi!”

“Tak ada kematian pun, aku akan tetap meratap Da!

“Argh, kau memang keras kepala!” Mak Cudiak menghentakkan kakinya. Giginya bergelemetuk tak sabar. Ia pergi dengan muka memerah.

Dari arah dapur, Nurmala masuk membawa tenong berisi beberapa buah lemang yang sudah masak. Nurmala memang cantik. Bibirnya tipis kemerahan. Pipinya pun merah merona. Badannya tinggi semampai dengan rambut hitam panjang agak ikal. Kecantikan Nurmala tersebut di mulut bujang-bujang di Dusun Sarai, tapi Rimah tak akan begitu saja melepaskan anaknya. Ia tak ingin anaknya bernasib sama dengannya.

Jika ingin tahu dari mana datangnya kecantikan Nurmala, tak perlu banyak bertanya. Cukup lihat ibunya, Rimah, maka pertanyaan tersebut terjawablah sudah. Rimah pun cantik, tapi kecantikan memang tak selalu mendatangkan kebahagiaan.

Karena kecantikannya, Mak Cudiak tega menikahkan Rimah dengan Tuanku Basa. Pria yang umurnya sepantaran Abak Rimah. Rimah tentu saja menolak. Tapi apa mau dikata, Mak Cudiak lah yang menanggungkan biaya hidupnya selama ini. Ia hanya bisa menurut karena berdasarkan pengakuan kakaknya, utang keluarga mereka sudah terlalu banyak kepada Tuanku Basa. Rimah terpaksa menebus dengan tubuhnya.

Dan benar, Tuanku Basa hanya ingin mengecap kemolekan tubuh Rimah. Setelah Rimah melahirkan Nurmala, Tuanku Basa justru beranjak mencari daun muda lainnya. Meninggalkan begitu saja Rimah yang sudah tak montok lagi.

“Nur, kau pilah-pilahlah lemang pesanan pembeli kita. Dan jangan lupa, sisihkan beberapa lemang pisang yang dipesan Suarni, bini muda Abakmu.”

“Memangnya Amak mau ke mana?”

“Ada kematian tak jauh dari sini. Mereka ingin Amak meratapi kematian sang mayat.”

“Baiklah, Mak. Hati-hati di jalan.”

Selain menjual lemang, Rimah juga berprofesi sebagai tukang ratap. Bila ada kabar kematian dihamburkan, maka saat itulah jasa Rimah dibutuhkan. Di kediaman sang mayat, Rimah tak akan ikut-ikutan mempersiapkan kapas, kain, maupun parfum untuk si mayat. Ia justru akan menuju tempat di samping mayat.

Kemudian Rimah akan duduk, berdiri, melonjak-lonjak, bahkan menghentak-hentak sembari menangisi si mayat. Terkadang ia berputar-putar di sekitar pembaringan si mayat lalu ia akan meratap sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya. Kepiluan yang dirasakan keluarga mendiang, belum ada apa-apanya dibanding kepiluan dalam ratapan Rimah. Sebelum mengakhiri ratapannya, Rimah akan menyebut-nyebut kebaikan sang mendiang semasa hidup.

Lama-kelamaan, Rimah terbiasa mendulang perih dari setiap kematian yang diratapinya.

***

“Mak, Amak. Ada yang meninggal lagi, Mak! Mak dipanggil ke sana!” Nurmala mendekati ibunya yang sedang membersihkan bambu untuk pesanan lemang.

“Siapa, Nur?”

“Abak, Mak! Meninggalnya semalam. Kata orang, dia mati dituba.”

Gerakan Rimah berhenti. Raut wajahnya tidak tampak terkejut. Dengan tenangnya ia berkata kepada Nurmala.

“Baiklah, kau bersiap-siaplah. Kita akan ikut pergi melayat.”

Saat Rimah dan Nurmala tiba di rumah Tuanku Basa, jenazahnya sudah dimandikan, dikafani, juga disalatkan. Tinggal menunggu usungan yang akan mengantarnya ke pekuburan. Namun sebagaimana kebiasaan di Dusun Sarai, tak akan lengkap upacara kematian tanpa diratapi. Maka saat itulah kedatangan Rimah begitu dinanti.

Rimah tak pernah menolak rezeki, tapi lain cerita kalau yang mesti ia ratapi adalah bekas suaminya. Pria yang menghancurkan dirinya, yang membuat dirinya meratap seumur hidup. Ada tak ada kematian, Rimah akan tetap meratap. Dan itu ulah suaminya!

Di samping pembaringan, Rimah pun duduk, berdiri, kemudian melonjak-lonjak dan berputar-putar di dekat sang mayat. Irama tangisnya turun-naik, memiuh-miuh ulu hati siapa saja yang mendengarnya. Rimah menangis sejadi-jadinya, sepilu-pilunya. Tak ada yang tahu apakah dalam tangisnya Rimah benar-benar berkubang dalam kesedihan, atau dalam ratapnya Rimah justru menyimpan kegembiraan yang teramat sangat. Sebab selesai meratap, bibir pipih Rimah tak henti-hentinya mengulum senyum.

17 pemikiran pada “Rimah Meratap

  1. Di budaya Cina juga ada. Orang2 dibayar untuk menangis dan meratap. Makin banyak orang meratap makin baguslah.

    Pak Guru, ini cakep sekali. Sumpah!

      1. aku pribadi tulisan ini lebih bagus daripada punyaku. aku sendiri bingung kenapa tulisanku dipilih masuk yg 17 finalis itu. entah ya, mungkin aku memang suka cerita2 dengan latar budaya dan kearifan lokal.

  2. Ceritanya simpel Lung, enak banget dibaca. Dan aku baru tahu lho ada tradisi meratap seperti itu (maksudnya sampai ada yang berprofesi sebagai peratap).

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s