[Berani Cerita #23] Tarian Terakhir Untuk Panti

fire dancer
credit

Bima terisak di belakang gudang. Sedari tadi ia berkali-kali menggosok bibirnya keras-keras, berusaha menghapus lipstik yang sebenarnya tlah hilang. Ia muak. Dadanya naik-turun menahan sesak akibat peristiwa tadi. Biasanya ia tidak berusaha menanggapi saat Ringgo mengatakannya banci. Tapi tadi Ringgo kelewatan. Ringgo mengatakan kalau dirinya sengaja dibuang orang tuanya karena tingkahnya. Perih tiap Bima mengingatnya.

“Psst… Hei!”

Bima mengerutkan kening. Seperti ada yang memanggilnya. Ia menatap hutan di belakang panti asuhan. Dari balik kerimbunan pohon, seorang perempuan bergaun putih mengawasinya. Bima mendekat.

“Tante memanggilku?”

“Duduklah di sini!”

“Tante siapa? Bima belum pernah melihat Tante di panti sebelumnya?”

“Kenapa kau menangis, tampan?”

Bima menunduk. Jarinya menggores gambar-gambar tak berarti di pasir. Setelah menghela napas panjang, ia mengangkat kepalanya kembali. Perempuan di sebelahnya malah asyik merokok. Rambut ikalnya sesekali diterbangkan angin. Cara duduknya benar-benar serampangan, ia tak peduli meski duduknya yang mengangkang membuat paha putihnya tersingkap.

“Aku selalu diganggu oleh teman-temanku.”

“Oh, ya? Kenapa?”

“Mereka mengata-ngataiku banci. Memangnya salah kalau aku suka menari? Aku juga tak tahu mengapa, tapi seolah-olah menari sudah bagian dari hidupku. Seperti, dalam darahku memang mengalir darah seorang penari.”

“Mereka mengejekmu cuma karena kau suka menari?”

“Terkadang, aku juga suka mencoba kosmetik milik suster-suster. Tapi aku mencobanya agar jika suatu saat aku jadi penari, aku bisa merias diriku sendiri!”

“Tak ada yang membelamu, memangnya?”

Bima menggelengkan kepalanya. Bibirnya mengerucut.

“Suster-suster tak pernah serius membelaku. Ibu kepala sama saja. Ia sering melihatku sebagai pesakitan.”

Perempuan di sebelahnya terdiam. Perlahan, tangannya mengusap kepala Bima. Bima menutup matanya. Ah, betapa ia merindukan sentuhan seperti ini.

“Kalau begitu, korek api ini untukmu saja!”

“Untuk apa?”

“Nanti kau juga mengerti. Sudah, ya. Aku pergi dulu.”

Bima menatap lekat korek pemberian perempuan tadi. Hanya ada empat batang korek di dalam kotak, ia membakar salah satunya. Bima tercengang. Di antara pendar cahaya api, ia seperti bisa melihat dirinya menari. Tapi dengan usia yang lebih matang. Di atas panggung, ia terlihat begitu cantik dan gemulai. Penonton pun mengelu-elukannya saat tariannya berakhir.

Ia membakar lagi yang lain. Kali ini ia bisa melihat wajah neneknya yang membawanya ke panti saat ia berumur dua tahun. Nenek tersenyum lembut kepadanya. Bima membekap mulutnya. Air matanya tiba-tiba kembali mengalir. Andai tidak karena penyakit, mungkin ia masih tinggal bersama nenek sekarang.

Bima membakar yang ketiga. Ia tercenung saat melihat bias yang terpantul dari cahaya korek. Ia kini tahu apa yang harus dilakukan dengan korek terakhir.

***

Panti asuhan terbakar hebat. Penghuninya berusaha menyelamatkan diri dari api yang berkobar. Suster-suster terpekik saat menyadari ada beberapa anak yang terperangkap di dalam. Tapi apa mau dikata, tak ada lagi cara menyelamatkan mereka.

Di bagian belakang gedung, Bima justru menari kegirangan. Tubuhnya melampai meniru lidah-lidah api. Wajahnya begitu bahagia. Ia tak peduli meski udara begitu panas membakar.

Dari balik rerimbunan pohon, seorang perempuan tersenyum. Dari sudut matanya, sebutir air tampak enggan mengalir.

“Gapai cita-citamu, Nak. Jangan pedulikan mereka. Maaf kalau cuma ini yang bisa aku lakukan untukmu.”

481 kata

Iklan

2 pemikiran pada “[Berani Cerita #23] Tarian Terakhir Untuk Panti

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s