Mel

women in dark
credit

Mel menyeret langkahnya menuju meja makan. Kepalanya tertunduk sembari tangannya memegang secangkir kopi erat-erat. Ia tahu, Jarwo tak akan menyukai kopi yang ia buat. Apa mau dikata, tak ada lagi gula di dapur yang bisa ia campurkan. Namun bila kopi tak dihidangkan, tangan kekar Jarwo pasti melayang. Mel meletakkan kopi di atas meja, menunggu reaksi Jarwo. Mataku tak beralih dari kedua sosok tersebut.

“Prang!”

Jarwo mencampakkan gelas berisi kopi ke dinding rumah. Jejak pekat tertinggal di dinding, seperti maskara Mel yang luntur akibat menangis. Jarwo membuang sepercik ludahnya ke muka Mel. Mel hanya diam, begitupun badannya tampak bergeletar.

“Perempuan sialan! Buat apa kau beri aku kopi pahit!? Tak bisakah kau pinjam barang sesendok gula dari tetangga!?”

Telapak tangan Jarwo terentang, terangkat melayang, dan mendarat di pipi Mel yang belum dihiasi jejak biru. Saking kuatnya daya tampar Jarwo, Mel terduduk dan tersudut di pojok ruangan. Mel menoleh kepadaku. Meski matanya berair, tapi sinarnya masih sempat mengirimkan isyarat padaku. Aku mengerti. Kuambil mainanku dan masuk ke kamar. Di dalam kamar, sengaja kuselimuti seluruh tubuhku agar tak mendengar suara pekikan dari luar. Semakin kuat aku menutup telinga, semakin kuat pula bunyi barang-barang berjatuhan di luar sana. Tanpa kusadari, aku tertidur dalam balutan selimut sambil menutup telinga.

Entah berapa lama aku tertidur ketika aku terbangun, kegaduhan di luar telah reda. Sewaktu pintu kubuka, tampak Mel sibuk memasukkan potongan-potongan benda basah ke dalam karung. Tetesan berwarna merah berceceran di mana-mana. Mel menoleh ke arahku. Saat itu aku yakin, mata yang kulihat bukanlah mata Mel yang kukenal. Mata tersebut memancarkan bara api. Aku terpukau.

“Jam kunjungan sudah habis!”

Aku tersentak dari lamunanku. Sedari tadi Mel tak juga merespon perkataanku, matanya kosong.

“Bu, aku pulang dulu.”

Entah kunjungan ke berapa kali ini. Ah, padahal aku ingin melihat sorot mata Mel yang penuh bara sekali lagi.

298 kata

25 pemikiran pada “Mel

    1. em, mungkin ini karena ga dipisah ya?
      tapi kaya komentar sebelumnya, mbak. jadi ibunya masuk rumah sakit jiwa gara2 membunuh.
      nah, anaknya ini ga sadar kalau dia juga sakit jiwa. buktinya, dia sering ngejenguk ibunya cuma karena ingin melihat lagi mata ibunya waktu membunuh ayahnya. hehe

  1. Ia tahu, Jarwo tak akan menyukai kopi yang ia buat. << ini bikin saya mikir mas, kan di sini si aku yg cerita, aku ini menggambarkan si mel dan jarwo, di kalimat ini ada isi pikiran mel?

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s