[Berani Cerita #25] Tanggal Merah

digital calendar
credit

Aku masih membereskan spidol warna yang ditinggal tidur Bimo, anakku, saat suamiku masuk kamar. Bimo memang biasa bermain di kamarku sambil menunggu jam tidurnya. Bimo tipe anak yang penurut dan tidak banyak tingkah. Cukup diberi spidol warna dan buku gambar, maka ia akan asyik dengan dunianya sendiri. Sementara aku bisa berkonsentrasi menyelesaikan tulisanku.

Setelah memasukkan spidol berwarna merah ke dalam tempatnya, kukecup kening Mas Ragil. Mas Ragil tersenyum, membalas kecupanku dengan pagutan di bibir. Cumbuan kami biasanya bertahan lama, tapi entah mengapa saat mata Mas Ragil beralih, ia langsung melepas ciumannya. Kuikuti arah tatapannya. Ternyata kalender meja yang mungkin terjatuh saat Bimo bermain tadi. Belum sempat bertanya, Mas Ragil sudah beranjak ke kamar mandi. Aku mengendikkan bahu.

Seusai mandi, Mas Ragil langsung menuju pembaringan. Aku mendekat ke sisinya. Kuusap-usap lembut kulit tangannya. Kugigit pinggir telinganya. Ia sedikit menggelinjang.

“Mas…” Aku berbisik lirih di telinganya. Namun bukannya menanggapi, ia justru membalikkan badan.

“Aku capek, Dek.”

Aku menghela napas dan mengalah. Kumatikan lampu kamar dengan tidak senang. Dalam remang, aku meremas bantal kuat-kuat.

Malam berikutnya, aku sengaja menunggu Mas Ragil selesai mandi. Kali ini persiapanku lebih matang. Sengaja kupakai lingerie yang kubeli pekan lalu. Tak lupa kugelung rambutku tinggi-tinggi dan sengaja membiarkan beberapa helainya jatuh di pinggir. Belum puas, kusemprotkan parfum di bagian leher. Biasanya taktik ini berhasil.

Saat Mas Ragil keluar dari kamar mandi, aku berjalan ke arahnya dengan langkah gemulai. Kuhentakkan pinggulku untuk lebih membakar gairahnya.

Di hadapannya, taktikku berhasil. Ia langsung merangsek memelukku erat. Memagut bibirku dengan ganas dan mendudukkanku di atas kasur. Mas Ragil baru saja akan mematikan lampu meja saat matanya menatap kalender di sisi lampu. Meski tak kentara, tapi aku bisa merasakan hasratnya yang tadi menggebu-gebu, padam seketika. Ia merengut lalu keluar kamar. Aku terpana.

Malam selanjutnya, aku tak tahan lagi menyimpan tanya.

“Mas, kamu kenapa sih! Tiap kali kudekati selalu saja menolak?”

Mas Ragil terdiam sejenak lalu melanjutkan mengeringkan rambutnya. Sial, suamiku ini memang pendiam. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk berdiam.

“Mas! Jawab pertanyaanku! Mas punya yang lain, ya? Makanya ga mau sama aku?”

“Ga lah, Dek. Mana mungkin Mas begitu.”

“Terus kenapa?”

Mas Ragil menghela napas lalu duduk di sebelahku.

“Kamu kan lagi haid, Dek. Makanya Mas ga mau menerima pancinganmu.”

“Haid? Siapa bilang aku lagi haid?”

“Itu, kalender bulan ini kamu coret dengan spidol merah?”

Gegas kuambil kalender di atas meja. Aku memang suka mencoret kalender dengan warna merah sebagai penanda masa haidku. Kuperhatikan dengan saksama coretan tersebut. Sadar itu coretan siapa, aku tertawa terbahak-bahak.

“Lho, kok malah ketawa?”

“Mas, Mas. Ini kan coretannya Bimo! Lihat, bentuk coretannya berbeda dengan coretanku di bulan lain. Lagian, masa Mas ga nyadar kalau Bimo nyoretnya langsung seminggu?”

“Yah, Mas mana ngerti De. Kamu kan tahu kalau libido Mas tinggi, Mas takut kebablasan kalau kamu dekati!”

“Jadi gimana, nih? Masih ga mau?”

Aku mengulum senyum memancingnya. Mas Ragil membalas senyumanku. Lembut, ia tarik tubuhku ke pelukannya. Ah, sepertinya malam ini bakalan panas sekali.

488 kata

13 pemikiran pada “[Berani Cerita #25] Tanggal Merah

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s