Meraga Sukma

credit

Pria yang baru saja masuk ke hotel itu ayahku. Aku membuntutinya dari tempat fitness setelah mencarinya sekian lama. Meski t’lah berumur, ayahku senantiasa menjaga pola makan serta rajin berolahraga. Alhasil, tubuhnya terbentuk dengan baik. Di beberapa bagian, ototnya menonjol mengundang decak perempuan sekitar. Belum lagi otot perutnya yang bak tahu dibelah enam. Kurasa di tempat fitness pula ia bertemu perempuan montok dipelukannya sekarang.

Aku menyenderkan tubuhku di pohon. Gaun putihku melambai ditiup angin. Sentuhan halus sinar mentari tetap tak mampu mengusir pucat dari muka tirusku. Memikirkan tingkah ayah membuatku pusing. Aku tak habis pikir, kenapa ibu bisa menikah dengannya. Apa ibu juga terbius tonjolan otot yang acap dipamerkan ayah? Ah, kurasa tidak. Ibu bukan perempuan seperti itu. Bersolek saja ia jarang.

Meski ayah kerap membohongi ibu, anehnya ibu tetap bertahan. Sering kulihat bilur-bilur ungu di badan ibu. Dan makin bertambah jika ayah pulang dalam keadaan mabuk. Waktu kutanya pun, ibu hanya berujar. “Demi kamu, Nak.”

Ayah memang menganut pola hidup sehat, tapi tak berarti jiwanya sehat. Malam-malam tertentu, ayah suka mengajak teman-temannya minum sampai teler. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya. Aku takut. Soalnya, aku pernah bermimpi ada napas mendengus keras berbau mendekatiku saat aku tidur. Entah mimpi, entah nyata. Entah ayah, atau temannya.

Di kamar ayah dan ibu, aku pernah menemukan tali, borgol, bahkan cemeti. Heran, biasanya cemeti digunakan untuk mencambuk kuda bendi. Apa yang ayah dan ibu lakukan dengan cemeti itu?

Aku meninggalkan tempatku bersembunyi. Lebih baik aku tunggu ayah di tikungan tempat kami sering joging pagi. Tak ada gunanya aku di sini. Kalau sudah bertemu kenalan baru, ayah pulangnya lama.

Langit biru memar saat kudengar bunyi mesin mobil yang kuhapal. Mobil ayah! Aku ingin menyetop mobilnya lalu mengajaknya menjemput ibu. Kasihan ibu, air matanya selalu tumpah tiap melihatku. Entah mengapa?

Sayangnya, saat aku berlari menyongsong mobil ayah, aku tersandung hingga ke tengah jalan. Ayah membanting stir saat melihatku.

Mobil ayah melayang, aku juga. Mobil ayah masuk jurang, aku tidak.

***

Kesenyapan kantin rumah sakit pecah saat seorang suster tergopoh-gopoh masuk. Ia menghampiri seorang dokter yang sedang minum kopi. Di sudut ruangan, seorang wanita dengan gelas penuh berisi teh memerhatikan mereka.

“Dok, kami butuh Dokter di kamar 3A!”

“Apa yang terjadi?”

“Pasien yang gagal bunuh diri setelah koma sekian lama akhirnya sadar.”

“Prang!!” Tanpa sadar, wanita di sudut kantin melepas gelas di genggamannya.

“Anak saya, Sus?”

Tak memedulikan gelas yang pecah, si wanita menghambur menuju kamar yang dimaksud.

“Anaknya berusaha bunuh diri gara-gara diperkosa ayahnya, Dok,” bisik suster pada sang dokter.

 418 kata

Berdasarkan Prompt #24 dan fiksimini @NafriYrrah: Ibu tak sengaja menjatuhkan gelas. Di tempat lain, mobil ayah masuk jurang. Aku terbangun dari koma panjang.

Meraga sukma sering disebut Astral Projection.

Untuk Monday FlashFiction dan #NgasihHadiah Harry Irfan

Iklan

20 pemikiran pada “Meraga Sukma

  1. Better.. sekarwng bau nyambung..meski judulnya maksa.. krn sebagai seorang penyandanv hidup sehat aku tahu suamiku selalu menghitung kalori protein dan sebagainya.. jadi sadsr banget apa yg masuk ke perutnya. Nah jadi kacau image itu karena ternyata dia suka mabuk. Karena minuman beralkohol bikin irama jantung beda dan penyandang hidup sehT biasanya ngerasa banget kalo ada sesuatu yg gak beres dari makanannya. Hehehe..abaikan komenku ini..terlalu logic bksa menghambat imajinasi

  2. Ping-balik: [Update Peserta #NgasihHadiah] | cerita-cerita fiksi

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s