[Berani Cerita #26] Dari Sudut Gudang

garage, storehouse
credit

“Mar, janganlah kau duduk di muko pintu. Indak elok buat ibu hamil.”

Zainar menegur keponakannya yang sedari tadi bermenung di depan pintu. Mar hanya menanggapi dengan menggeser tubuhnya sedikit. Zainar menghela napas, beranjak menjerang air.

Sejak kepulangan Mar dari Malaysia, tabiatnya berubah. Mar yang biasanya ceria, kini lebih suka menghabiskan waktu memandangi langit dari pintu rumah. Betapa tidak, bukannya membawa beberapa helai ringgit, Mar pulang justru dengan dua badan. Perutnya besar. Buah dari kesukaan anak majikannya menyelinap ke kamarnya. Awalnya Mar menolak, tapi mukanya pias begitu diancam akan dilaporkan ke petugas imigrasi. Mar tak berkutik, dirinya memang tenaga kerja ilegal.

Mar meremas perutnya. Sedari tadi perutnya melilit, namun sengaja ia bungkam. Sejenak ia menengok ke arah dapur. Merasa tak diperhatikan, Mar bangkit. Dengan berpegangan pada dinding rumah, Mar tertatih menuju gudang di samping rumah.

Diam-diam, Mar sejak lama sudah menyiapkan kelahirannya. Ia sengaja memilih gudang untuk memancarkan anak yang dikandungnya. Baginya, anak yang tak diinginkan tak perlu mendapat perlakuan istimewa.

Dalam gudang, Mar telah menyusun perabotan-perabotan agar menyisakan sedikit luang baginya. Di tempat yang luang itu, Mar menggelar tikar, melipat-lipat beberapa helai kain usang agar ia nyaman saat berbaring. Juga sebuah botol yang dibungkus kantong plastik hitam.

Mar mengunci gudang. Sesaat dirinya terbatuk akan debu yang melingkup gudang. Perutnya semakin sakit. Ia pun duduk mengangkang di tempat yang telah ia persiapkan.

Tak butuh waktu lama, ada bening cairan yang merembes dari selangkangan Mar. Wajah Mar memutih. Sudah saatnya, batinnya. Tangannya meraih gulungan kain yang kemudian ia sumpalkan di mulutnya sendiri. Tangan yang lain menyingkap dasternya hingga paha.

Mar mengejan. Menarik napas beberapa kali. Mengejan lagi. Menarik napas lagi.

Peluh berleleran di muka Mar. Raut mukanya kentara menahan sakit. Untung ia telah membekap mulutnya sendiri. Mar mengejan sekali lagi, kali ini lebih keras.

Zainar tersentak saat mendengar tangis bayi. Gegas ia menuju pintu depan. Mar telah lesap dari tempatnya. Seperti orang gila, Zainar berlari ke luar rumah. Nalurinya menunjuk gudang. Tapi pintu gudang terkunci. Zainar mengintip dari jendela.

Disinari sinar temaram, Mar tampak tengah mendekap bayi yang masih merah. Meski bibirnya tersenyum, air mata Mar tumpah ruah memandangi bayinya. Mar membuka bungkusan plastik hitam di sampingnya. Tak ia hiraukan pekikan Zainar di luar yang melihat ia mengeluarkan cairan pembasmi serangga.

Zainar teringat kunci cadangan yang ia simpan. Sementara Zainar berlari mengambil kunci, Mar membuka tutup botol cairan pembasmi serangga. Mar menatap mata anaknya yang bening. Tangisnya kembali terserak.

“Maafkan ibu, Nak.”

Mar mencium anaknya berkali-kali hingga mulutnya belepotan darah yang belum kering. Mar tergugu saat ia menuang cairan pembasmi serangga ke mulut anaknya. Beberapa saat, tubuh anaknya kelojotan, lalu tak bergerak.

Waktu itu pula Zainar masuk sambil berteriak, “Maaar, apa yang kau lakukan?” Zainar merebut bayi dalam dekapan Mar.

“Maafkan aku, Tek. Aku tidak tahan lagi. Karena anak ini, aku dipulangkan ke Indonesia. Karena anak ini, aku dicibiri orang sekampung. Dan ulah melahirkannya pula, pupus nyawaku karenanya!” Mar menunjuk tubuhnya yang telah kaku di keremangan sudut gudang.

486 kata

Berdasarkan fiksimini: @nafriyyah: CAIRAN PEMBASMI SERANGGA. “Minum!” hardikku pada anakku. Kesal, gara-gara melahirkan dia, aku meregang nyawa.

Untuk Berani Cerita #26 dan #NgasihHadiah Harry Irfan

18 pemikiran pada “[Berani Cerita #26] Dari Sudut Gudang

  1. Ping-balik: [Update ke-3 Peserta #NgasihHadiah] ++ | cerita-cerita fiksi

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s