27 Maret

book store, salem book store
credit

Kakiku bergeming dari tempatku berdiri beberapa menit yang lalu. Aku masih belum puas memandangi toko bukuku. Sengaja kucari sudut yang tepat untuk merekam isi toko ini dengan baik. Kurasa, sudut tempat meja kasir inilah yang terbaik.

Aku menghela napas. Perlahan, kugeser langkah menuju salah satu bagian rak. Tanganku mengelus lembut bingkai rak. Tak puas, kutempelkan sebelah wajah di rak. Sambil menutup mata, kuputar lagi kenangan sewaktu aku berusaha mengisi rak-rak tersebut.

Buku-buku di tokoku tidaklah banyak. Wajar, mengingat belum banyaknya penerbit buku yang berdiri. Paling, Balai Pustakalah yang cukup banyak mendominasi buku-buku di negeriku. Itu pun, mesti dengan pengawasan ketat pemerintah.

Aku mengambil salah satu buku. Membuka tengahnya dan menikmati aroma kertas yang menguar dari buku di genggamanku. Buku ini salah satu buku yang kusuka. Karya Pramoedya Ananta Toer. Kusuka, sekaligus terlarang.

Aku meringis. Kalau mesti dibanding-bandingkan, memang perbandingan buku yang diperbolehkan beredar dengan buku-buku terlarang di tokoku, sangat kentara. Hampir delapan puluh persennya merupakan buku-buku yang dilarang beredar oleh pemerintah.

Mendapatkan buku-buku tersebut bukan tanpa usaha. Aku sampai harus menghubungi pihak-pihak tertentu agar bisa mendapatkan buku-buku tersebut. Terkadang, memang sengaja dicetak terbatas. Untuk kalangan tertentu, dibaca di forum-forum tertentu pula. Tanpa sepengetahuan antek-antek pemerintah tentunya.

Aku mendekati perempuan yang sedari tadi mengisak di ambang pintu. Tangisannya memang sengaja kuacuhkan tadi, berhubung aku ingin menikmati suasana tokoku terakhir kalinya. Jemariku menghapus butiran bening di pipinya.

“Sst, sudahlah jangan menangis. Ini memang jalan yang kupilih.”

“Kau seharusnya memikirkanku pula!” bentaknya dalam isakan.

“Bukankah sudah kuceritakan padamu dulu mimpiku, keinginanku, maupun konsekuensi yang mesti kau pikul jika memilihku?”

“Tapi aku tak menyangka sampai begini. Lalu bagaimana nasibku?”

“Temukan yang lebih baik dariku. Reguk kebahagian dari lelaki lain yang mampu memberikanmu rasa aman.”

Plak!

“Kau egois!”

Aku memegangi pipiku yang perih, sementara perempuanku berlari ke meja kasir. Menangkupkan kepalanya di sana dan mulai menangis lebih keras. Aku baru saja akan menghampirinya saat pintu toko dibuka kasar. Sebuah tangan kekar menahan gerakku.

“Waktunya habis. Cepat naik ke mobil!”

Perempuanku mengangkat kepalanya. Mataku dan matanya mengirim sinyal sebentar lagi pada si pria berseragam. Tapi pria tersebut tak acuh. Malah menarik lenganku kuat, setengah mendorong ke arah mobil di luar toko. Sempat kudengar dia membentak perempuanku.

“Mulai detik ini, toko ini tidak boleh lagi menjual buku-buku yang dilarang pemerintah! Buku-buku yang ada, akan dimusnahkan!”

Di atas mobil, kupandangi sekali lagi toko bukuku serta perempuanku di balik kaca. Tetiba, tanganku diborgol dan mataku ditutup kain hitam.

“Anda boleh saja membakar buku-buku tersebut kali ini. Tapi akan tiba suatu masa saat suara rakyat tak mampu lagi dibendung. Huruf-huruf tak bisa lagi dipasung!”

Selesai bicara, sebentuk benda tumpul menghantam belakang kepalaku. Kelam pun kian menjadi.

27 Maret. Setelah hari ini, namaku tak kan terdengar lagi.

446 kata

Untuk MFF

Iklan

9 pemikiran pada “27 Maret

  1. hmmm aku ngerti ini terjadi di jaman orba. tapi sepertinya di akhir cerit, perlu juga dicantumkan tahunnya, jadi pembaca ‘ngeh’ kalo ini settingnya di tahun2 terserbut. misal 27 Maret 1960, gitu.

    lalu, pas di bagian pintu dibuka dengan kasar, tiba2 aja langsung ada tangan kekar gitu, ga dikasih tau kalo ada seseorang atau beberapa orang yg masuk. hebat ya, itu orang apa hantu? begitu buka pintu bisa langsung mencengkeram “aku” tanpa melangkah. 😀

    lalu, memang kata “tetiba” ada di kbbi ya? coba kucari dulu….
    eh ternyata “tetiba” tidak ditemukan dalam kbbi.web.id 😀

    maaf, jadi panjang komenanku :)))))

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s