Kopi Pahit Terakhir

a glass of coffe
credit

Sudir termenung di depan kontrakan. Gelas berisi kopi yang sedari tadi dipegang, hanya tinggal ampas. Matanya kosong mengingat percakapan lampau.

“Jangankan beras, beli gula saja uang tak ada. Kalau tetap ingin mengopi, kubuatkan tanpa gula ya?”

“Buatlah. Daripada lidahku sepat.”

“Makanya, cari kerja lain Da. Setia kali dimandori Pak Lambau.”

Tadi pagi, Siti membuatkannya kopi.

“Mungkin, ini kopi tanpa gula terakhir.”

Sudir girang. Dapat pinjaman lagi?

Kini kegembiraannya lesap. Lembaran uang di atas meja hanya dilirik tanpa minat. Ia teguk ampas kopi dalam gelas. Pahit. Seperti suara rintihan istrinya yang ia dengar di kamar, ditimpal suara lain. Suara Pak Lambau.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Perawan Suci

holy virgin. virgin mary
credit

“Kau yakin ingin melakukannya?”

“Demi meneruskan silsilah suci, aku sedia.” Mariah mengangsurkan segelas anggur merah.

Aku meneguk pemberiannya. Lambat, ia lepaskan gaun yang melekat. Mataku memberat. Entah pengaruh minuman, entah gelegak birahi.

“Untukku, ini yang pertama,” lamat kudengar suaranya berbisik. Kelam melingkupku.

Ditampar perih, aku pun membuka mata. Terbelalak, tubuhku dibaringkan di atas papan berbentuk salib. Kedua telapak tanganku mengucur darah, dipaku.

Mariah berdiri di atasku, tanpa busana. Bibirnya tersenyum. Tubuhnya seperti berpendar disinari cahaya lampu.

“Untuk kesempurnaan, aku ingin kau merasakan penderitaan Kristus terlebih dahulu.” Ia duduk di dekat kakiku. Mendadak, tangannya mengayunkan palu, menancapkan paku di kaki kiri.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata