Drama Rajo nan Panjang

credit

“Katanya, pacarmu, Fadli, ada main dengan Elfina, pemeran Narawatu!”

“Oh.”

Aku berusaha tampak tak acuh, meski sebenarnya geram. Gunjing tersebut sudah lama kudengar, sejak pertemuan ketiga latihan drama kami.

Serupa dengan perannya sebagai Rajo nan Panjang, dia gemar tebar pesona. Bukan kali pertama dalam hubungan empat tahun kami, dia diisukan dengan wanita lain.

Amarahku puncak, namun kutunggu waktu pementasan tiba. Satu adegan menguntungkanku.

“Kalau kau tak percaya Sabai, bunuhlah aku!” Dia merentangkan tangannya.

“Uda pembunuh!” Kuayunkan lading ke lehernya. Properti panggung yang telah kutukar sebelumnya.

Penonton memekik. Aku tegak dengan kepuasan tak hingga. Kujilati percikan darah yang hinggap di bibir.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Panggung Orgen Tunggal

singer on stage
credit

“Mentas lagi, Nur?”

“Ada alek di kampung sebelah, Da.” Aku memeriksa dandananku.

“Tak bisakah kau tinggalkan, Nur? Risih rasanya membayangkan kau bernyanyi di panggung sementara para pria merubungmu.”

“Kalau begitu, carikan nafkah untukku.”

Aku melirik satu kakinya yang pengkor. Ia menunduk, mengesah.

“Bukan untukku, demi Rahimi. Dia malu mendengar ibunya bersama pria lain di atas panggung.”

“Jangan bawa dia! Selesai!” Aku mengambil tas selempangku. Beranjak keluar.

Malam larut, tapi panggung makin panas. Kutarik resleting hingga belah dada mengilat terlihat. Pertengahan lagu, mataku berserobok dengan dua pasang mata kosong di bagian penonton. Sejak malam itu, suami dan anakku tak kembali lagi.

Ket:

Alek: pernikahan

100 kata tak termasuk keterangan

Diikutsertakan dalam #FF100Kata