Ayah Telepon

ringing phone
credit

Dering telepon menyentak Danar. Dihentikannya menganalisis grafik perusahaan. Danar diam, tahu siapa yang menelepon. Beberapa dering, baru telepon diangkatnya.

“Halo, Danar. Apa kabar, Nak? Kalau kabar istriku? Kudengar dia sakit? Em, mungkin sedikit merepotkan, Ayah ingin pinjam uang, Nak. Tidak besar, hanya …”

Danar membanting telepon. Berani-beraninya dia menyebut ‘istriku’ pada Ibu! Dia melirik sosok di atas dipan. Dihampirinya dipan, lalu menunduk, memperbaiki selimut yang terbuka.

“Jika bukan karena pesanmu untuk memaafkan, mungkin sudah kusambangi Jahanam yang satu itu, Bu.”

Danar mengecup kening ibunya, kembali berdiri. Mendadak air matanya ngalir. Menitik di atas tubuh ibunya yang meninggal dua hari lalu.

100 Kata

Tema: Ayah

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Iklan

12 pemikiran pada “Ayah Telepon

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s