Titi Pertamaku

mentawai tatto
credit

Aku turun dari pompong dengan hati-hati. Masih limbung, sisa mabuk laut tadi. Tiap datang ke Pulau Siberut, sambutan ombak selalu berbeda. Pantas dunia terpikat menaklukkanya dengan berselancar. Tampak sosokku, Tutulu melambaikan tangan dari atas uma. Aku tersenyum lebar.

Keputusanku menikah dengan wanita suku Mentawai bukan tanpa golakan. Namun aku kadung menyayangi Tarampa yang kukenal kala meneliti kebudayaan mereka.

Sebelumnya babi dan ayam disembelih dengan upacara. Sipatiti meruncingkan kayu arai, pengganti jarum. Jelaga damar bercampur tebu dilumurkan pada kayu pentato. Perih, kulitku ditotok membentuk galur tertentu. Aku tersenyum pada Tarampa.

“Ini bukti cintaku padamu. Meski dengan begitu, kutinggalkan semua yang kumiliki.”

100 kata Tema: Tato

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Keterangan:

Titi: sebutan tato dalam suku Mentawai

Pompong: perahu tradisional suku Mentawai

Uma: rumah tradisional suku Mentawai

Sipatiti: pembuat tato pada suku Mentawai

 

Iklan

2 pemikiran pada “Titi Pertamaku

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s