Ranjang Neraka

credit

Menggigit lingerie, menariknya ke bawah. Sedang tanganku lembut meremas payudaranya. Menyibak rimbun, lidahku tenggelam dalam belukar. Sementara mulutnya mendesis pelan.

Rambutku dijambaknya. Aku mendaki ke atas, mencucup puncak dua putingnya. Tangannya tak mau diam. Meremas, sesekali mengocok batangku. Aku melenguh, dia mengaduh. Keenakan. Kusesap bibir tipisnya.

Kami menyatu, bergerak naik, turun. Ranjangku berderit. Kobaran api makin ganas. Peluh kami langsung menguap.

“Aku, hampir.”

“Pun, aku.”

Aku menggenjot makin kencang.

“Waktu istirahat habis!” gelegar suara di atas.

Sontak, kami memisah. Sial, sebentar lagi puncak!

Dia: melekatkan jubah dan sayap. Terbang ke atas sambil mengedip centil.

Aku: memasang tanduk serta tersenyum mesum.

100 Kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Iklan

27 pemikiran pada “Ranjang Neraka

  1. kalo pada dialog, “aku hampir” dikasi tanda seru (dan bukan cuma tanda titik), pasti tambah keren, Lung. Kan seolah keduanya benar-benar menjerit hampir mencapai puncak. 😉

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s