Lagu Pemecah Malam

Perahu Kayu

Awalnya sebuah mention dengan tautan soundcloud masuk ke linimasa saya. Mention itu aku cuekin–mungkin lebih dari sejam—karena saya sedang diburu tenggat. Saat rehat sejenak, saya penasaran dengan kata-kata “poem by Oddie”. Loh, puisi saya? Tadinya saya kurang memerhatikan karena nama kedua akun yang ada di mention itu–@carlpass dan @risangdaru—belum pernah saling sapa di linimasa.

Dan saya pun membuka tautan itu… AMPUUUUUUUUUUUN! Lagunya manis berdarah madu! Saya langsung lupa dengan segala tenggat. Saya membayangkan malam dan tenggat adalah sepasang mangkuk bakso yang tiba-tiba krompyang di ubun-ubun. Pecah!

Lagu ini jahat sekali! Saya sampai mati angin. Nggak tahu mau lanjut nulis apa. Saya langsung norak pangkat lebay di twitter. Oh kawan, jangan stalking linimasa saya ya. JANGAN! Yaelahbro banget deh. Saya sempat mention ke @carlpass dan @risangdaru: “Lain kali kalau mau bikin lagu dari puisi saya, kodein dulu. Biar saya siap mental untuk norak.”

Saking noraknya, saya nggak memerhatikan…

Lihat pos aslinya 561 kata lagi

Pesan Terakhir

hiroshima
credit

Saizu mengerjapkan mata. Terbatuk, dirinya berusaha bangkit dengan perih memeluk tubuh. Langit pekat. Tertutup debu yang melingkup hingga angkasa. Kepalanya pusing.

Samar, Saizu ingat. Sekolah usai, dia berjalan riang menuju rumah. Saizu menggumam heran kala di kejauhan sebuah pesawat menjatuhkan sesuatu. Lalu bumi guncang. Asap bumbung ke atas membentuk cendawan raksasa. Angin kuat menghempas tubuhnya.

Saizu mengisak. Melangkah terseok di antara gelimpangan mayat. Ibunya menunggu di muka rumah yang runtuh. Sembari memeluk Saizu, ibunya berbisik.

“Tabahlah, Nak. Kita sedang diuji. Cari guru dan muliakan. Bangsa kita kan kembali genggam dunia.”

Perlahan, kulit ibunya mengelupas. Meluruh, lalu pecah terbang ke langit.

100 Kata. Tema: Genosida

Diikutsertakan dalam #FF100Kata