Di Bawah Kaki Ibu

mother's foot
credit

“Surga di bawah kaki ibu.”

Aku mencibir. Entah kali ke berapa guruku mengulang kalimat tersebut. Mengingat kelakuan ibu, ingin rasanya mengacung tangan protes. Ibu kerap pulang larut sambil memeluk pria berbeda. Tubuhnya, uh, bau minuman keras campur rokok. Tempeleng kerap singgah bila telat membuka pintu.

Malamnya, kuputuskan mengiris telapak kaki ibu. Menguak untuk membuktikan kebenaran. Wajahku malah ditampar hawa panas. Bara api meloncat ingin bebas. Gegas kujahit kembali.

Aku berpikir, jika tak bisa menyucikan ibu, cukuplah kakinya.

Aku mengambil ember, membasuh kaki ibu dengan bening air. Kulap sisa air. Lalu perlahan mengiris kaki ibu. Tak ingin kaki tersebut kembali ternoda.

100 Kata. Tema: Absurditas

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

9 pemikiran pada “Di Bawah Kaki Ibu

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s