Dendi dan Kereta Api

Dendi terduduk dengan nafas yang memburu. Air matanya telah kering. Tinggal jejak mengilat ditimpa cahaya. Ingusnya pun telah mengerak. Sejalan dengan mulutnya yang sedari tadi terbuka tanpa suara.

Biasanya, mungkin orang akan tergugah untuk menolongnya. Sekadar mendiamkan tangisan bocah yang belum genap dua tahun tersebut. Tapi kali ini semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Dendi melihat sekeliling. Ia tak begitu ingat yang terjadi. Yang diingatnya cuma ia sedang dalam dekapan ibunya, naik kereta menuju tempat nenek. Lalu ia merasa guncangan hebat. Sewaktu terjaga, ternyata dirinya cukup jauh terlempar ketika tabrakan terjadi. Beberapa jengkal tampak ibunya duduk tersandar.

Dendi beringsut mendekat. Panas begitu membakar. Aroma darah menusuk hidungnya. Erangan-erangan tak ia pedulikan. Ia menuju ibunya perlahan tapi pasti.

“Ma, angun Ma. Endi aus…”

Dendi menepuk pipi ibunya lembut, berharap ibunya membuka mata. Namun ibunya hanya geming di tempat. Didorong rasa haus yang teramat sangat, ia membuka kancing blus, lalu menyusu di payudara ibunya. Terasa di lidahnya asin, pahit, dan anyir menyatu.

*lebih-kurang 161 kata dengan hitung manual
*sumber gambar: dekade80.blogspot.com
*untuk @bookaholicfund, tema 80an.

Posted from WordPress for Android

Warung Bakso Mak Indun

Tiba-tiba nama Mak Indun ramai diperbincangkan. Sejak ia kembali dari entah, lantas membuka warung bakso, warga kampung berebut membeli baksonya. Sementara yang meletus dari bibir pembeli kebanyakan bernilai baik. Beberapa orang beranggapan, kepergian Mak Indun beberapa tahun lalu berbuah resep bakso sakti.

Aku mengamati panjangnya antrean di warung bakso Mak Indun. Ingin rasanya turut mencicip, tapi istriku bersikeras melarangku merasainya.

“Tak kah kau pikir ada apa-apanya? Coba kau ingat sebab kepergiannya!”

Ah, iya. Sewaktu Mak Indun pergi pun menimbulkan geger. Ia dipaksa pergi dari kampung. Beberapa warga menuduhnya mempraktikkan ilmu hitam tersebab banyak bayi yang meninggal mendadak. Dan semua petunjuk mengarah kepadanya. Mak Indun pergi dengan amarah yang memercik dari sudut matanya. Meskipun kemudian  terbukti tak benar, heran juga warga yang membeli bakso Mak Indun tak pernah mempermasalahkannya.

Aku mengendap di dekat dapur Mak Indun. Mengintip sekadar membuktikan kebenaran ucapan istriku. Kulihat Mak Indun berdiri mengangkang di atas panci bakso. Ia mengangkat sarungnya hingga ke lutut. Bunyi gemericik terdengar seiring air yang mengucur dari selangkangnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam panci, barulah parasnya memancarkan kepuasan.

Untuk #MFF