Tahi Lalat Sang Calon Bupati

Gustian memerhatikan lewat cermin. Keningnya berkerut. Dirasainya ada yang berbeda. Sembari mendecak, tangannya berusaha meraba punggungnya.
“Aneh, kenapa di punggungku sekarang tahi lalatnya bertambah banyak?” Gustian merenung. Namun kemudian ia tak ambil pusing. Ia buru-buru. Hari ini ada acara penting.

Sebagai calon bupati, jadwalnya cukup padat. Selain berpidato di beberapa tempat, ia juga mesti mengikuti kegiatan yang diadakan partai yang mengusungnya. Semisal, memberi bantuan pada korban bencana,  berdialog dengan pedagang di pasar, atau berdiskusi dengan para pemuka agama. Semuanya ia lakukan untuk pencitraan. Ia pun tak perlu khawatir akan pidato yang harus ia sampaikan. Sekretarisnya selalu melakukan tugasnya dengan baik. Menabur kata manis dalam tiap pidatonya, seperti yang ia harapkan.

Pagi itu Gustian mesti berdialog dengan masyarakat, tapi entah mengapa sedari tadi mulutnya begitu perih. Belum lagi tahi lalat yang menyubur di tubuhnya. Semuanya membuat ia gelisah. Dipanggilnya sekretaris. Sekretarisnya memekik saat Gustian membuka mulut.
“Astaga! Lidah Bapak penuh bercak hitam seperti tahi lalat. Beberapa bernanah dan menguarkan bau busuk!”

Lebih kurang 161 kata tanpa judul.
Untuk @bookaholicfund tema Tahi Lalat.

Posted from WordPress for Android