Cinta Manusia Biasa

DISCLAIMER

Cerita ini murni fiksi belaka

maria magdalena

Maria Magdalena termenung menatap kejauhan. Benaknya berulang-ulang mengimajikan satu sosok. Yesus, demikian namanya disebut.

Ia mengenal Yesus saat dirinya dirasuki oleh roh jahat. Waktu itu, ia mengamuk. Melempar tiap barang yang di dekatnya. Hingga kemudian Yesus datang. Berdiri di hadapannya dengan ketenangan bak tombak tertancap di tanah. Kukuh. Yesus mengayunkan tangan sambil berkata, “Keluar!”. Seketika urat-uratnya yang mengejang, mengendur perlahan. Semua yang menonton tahu, Yesus berhasil mengusir roh jahat tersebut.

Namun bukan itu penyebab kegundahan. Justru ketika ia sadar, cerlang mata Yesus menohok jantungnya. Awalnya ia mengira debar yang ia rasa adalah roh jahat lain yang ingin kembali merasuk, tapi kemudian ia mafhum. Gelenyar yang membuat tiap sendinya berderak kala melihat sosok Yesus menjauh sesungguhnya cinta.

Semenjak itulah ia memutuskan menjadi murid Yesus. Mendengar ajaran Yesus tak sebanding dengan debar dadanya tiap suara parau Yesus menyelusup lewat liang telinga. Bagi murid yang lain, mungkin ia tampak serius menyimak kata-kata Yesus. Tapi sungguh, hanya tubuhnya yang berada di sana. Sedang matanya tak lepas dari sosok Yesus, Maria pun mulai membayangkan indahnya kebersamaan yang dapat ia reguk bersama Yesus.

Suatu hari, ia tak mampu lagi menahan. Gegas ia mengunjungi kediaman Yesus. Yesus menerimanya dengan baik.

“Ada yang ingin kausampaikan?” tanya Yesus.

Maria diam. Ia justru mengambil air dalam ember kecil dan mulai membasuh kaki Yesus sembari menarik napas.

“Yesus, kau pernah berkata untuk mencintai sesama dengan tulus, bukan?” Maria bertanya dengan suara lirih.

“Tentu. Sebab dengan kasih yang tuluslah kita dapat mewujudkan kedamaian dalam hati.”

“Namun, apabila ada rasa cinta yang berlebih terhadap satu sosok, salahkah?”

Yesus tercenung. Sementara Maria memilih menunduk sambil terus membasuh kaki Yesus untuk menutupi kegugupannya.

“Apa maksudmu, Maria?”

“Aku rasa, ada sesuatu yang tumbuh dalam hening tiap aku melihat sosokmu.”

Yesus mendesah. “Aku mengerti. Sudah lama kulihat ada yang beda dari caramu menatap sewaktu menyimak kata-kataku,” tatapan Yesus melembut, “Maria, redamlah apa yang kau rasakan sekarang. Kasih Tuhan haruslah merata kepada tiap umatnya.”

Maria Magdalena berhenti membasuh dan lekas tegak menjauh.

“Tuhan, katamu? Bahkan para imam tak percaya akan ajaranmu! Semua yang kau ajarkan hanya imajinasimu belaka!”

Yesus menatap Maria lama. Namun dari tatapan tersebut, ia tahu ada penolakan yang tak ingin disampaikan langsung dari bibir Yesus. Maria diam dan mengangkat kaki dari kediaman Yesus dengan hati sakit. Didorong kekecewaan mendalam, Maria berlari menuju satu tempat.

Keesokan harinya, orang-orang gempar akan penangkapan Yesus oleh para imam. Tanpa bisa membela, Yesus disalib di hadapan orang banyak. Darah ngalir dari beberapa bagian tubuh Yesus yang dipaku. Di kejauhan, tampak Maria menggigit bibir sambil menahan tumpah air mata. Di genggamannya ada beberapa keping uang perak, tapi terasa panas bak bara yang belum padam.

 433 Kata tanpa judul

Berdasarkan fiksi mini: Harry Irfan
ATEIS. “Tuhan itu imajinasi!” katanya berapi-api. Dalam hati, ia menangis, ada rasa cinta yang tak berbalas di sana.

Cerita di atas hanya fiksi belaka.

http://id.wikipedia.org/wiki/Maria_Magdalena

12 pemikiran pada “Cinta Manusia Biasa

  1. Menarik. Aku selalu tertarik bagaimana rekan-rekan penulis non-Kristiani – terutama mereka yang aku percaya berpandangan terbuka – memandang kisah-kisah Alkitab dan karakterisasi tokoh-tokohnya (ya, Alkitab, terutama Injil, adalah kisah panjang luar biasa, terlepas kamu mempercayainya atau tidak).
    Maria Magdalena sendiri adalah tokoh yang sangat menarik sekaligus kontroversial, dengan latar belakangnya sebagai pendosa yang nyaris mati dirajam, lalu mendapat pengampunan dari Yesus, dan berbalik menjadi salah satu pengikut Yesus yang paling setia, dalam beberapa hal lebih setia daripada kedua belas murid-Nya sendiri.
    Yang aku tertarik, apakah ada alasan khusus Uda tertarik mengangkat Maria Magdalena?
    Secara gaya bahasa dan diksi, ini memang tulisan Uda yang kusuka, meskipun ada sesuatu dalam penokohannya yang sedikit kagok.

  2. Oh, well, two more.
    Satu, sebaiknya disclaimernya ditambah, karena bagaimanapun ini fiksi, dan tidak dapat disamakan dengan isi Alkitab yang sesungguhnya (menghindari salah kaprah dari komen di atasku barusan).
    Dua, nanya lagi, penggunaan huruf kecil di awal kata ganti ketiga untuk tokoh Yesus disengaja atau nggak?

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s