Ketika Ibu Jatuh Cinta

image

Bundo turun dengan gesa dari atas rumah gadang. Sejenak, kuhentikan aktifitasku mengotak-atik motor. Bibirnya mengulum senyum. Senyum yang telah lama lesap sejak kami kembali ke kampung. Bundo memperbaiki sedikit kerudungnya yang merosot ditingkah angin. Ia lalu menoleh padaku dan berseru riang.

“Yung, Bundo pergi sebentar ya.”

Belum sempat aku menjawab, langkahnya telah diangkat. Ah, meski telah berumur, tapi kemilau wajahnya tetap cemerlang. Tak akan ada yang menyangka dia telah beranak satu. Aku melanjutkan kembali kerjaku yang tertunda.

Motor ini satu-satunya penolongku di kampung. Rantau telah merenggut semua dari kami. Harta hingga abak. Kami pun pilih kembali ke kampung, menghuni rumah gadang yang telah lama lengang. Bundo tunjukkan kemampuannya mengolah makanan, sedang aku pilih mengojek. Sekarang, sudah cukup banyak yang memercayai jasanya. Syukurlah, tungku di dapur bisa kembali berasap.

Aku mengamati bundo yang asyik menisik bajuku yang cabik. Belakangan, selain lebih sering ke luar, bundo pun gemar membeli baju baru. Baju yang dibeli kredit dari Tek Ipah. Bundo pun lebih suka menghias bibirnya dengan gincu. Meski untuk sekadar ke warung membeli gula. Seolah ia takut ada yang memergokinya tidak terlihat cantik.

Sadar diperhatikan, bundo menatap balik padaku. Ia tersenyum.

“Yung, hari ini jangan ke mana-mana ya. Ada yang mau datang.” Wajahnya berubah serius. “Yung, keberatankah engkau jika Bundo menikah lagi?”

Aku terdiam sejenak lalu menggeleng. Bundo berhak menentukan kebahagiannya. Paras bundo tampak melega. Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

“Ah, itu dia yang dibicarakan. Calon abakmu,Yung. Sambutlah ia! Bundo tukar baju dulu.”

Aku beranjak membuka pintu. Tapi lututku langsung goyah. Di depanku, berdiri Uda Sudir. Seniorku waktu sekolah menengah yang sering tinggal kelas. Ia menghembuskan asap rokok di mukaku, lalu menepuk pundakku kuat dan masuk ke dalam. Terbayang kembali olehku saat ia sering membawaku ke belakang sekolah. Mencengkram kerah, menempeleng, sampai meninju perutku bila aku tak mau memberikannya uang.

297 kata

Untuk prompt #46 Monday Flash Fiction

Iklan

6 pemikiran pada “Ketika Ibu Jatuh Cinta

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s