Seperti Malam Berganti Pagi

Bebek Bengil

“Tuk, tuk. Tuktuktuk. Tuk, tuk. Tuktuktuk.”

Keyla melambaikan tangannya, sedang sebelah tangannya yang lain, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama konstan. Kebiasaan unik yang selalu kuingat sejak pertemuan pertama kami. Aku memegang tangan Zamrud erat. Takut tangan kecilnya terlepas, lalu ia hilang di antara jubelan manusia yang memenuhi Restoran Bebek Bengil ini. Meski tempat ini cukup besar, dengan langit-langit yang tinggi pula. Rasanya, masih tidak cukup menampung orang-orang yang ingin menikmati kenikmatan masakan di sini. Restoran ini jadi terasa sesak.

Malam tahun baru, aku sengaja membawa Keyla dan Zamrud ke Bali. Kebetulan, perusahaan pun memberikan cuti cukup panjang untukku. Aku memilih hotel yang terletak di kompleks The Bay Bali untuk keluargaku.

Tadi kami baru saja akan menikmati hidangan kami. Di meja sudah terhidang Tender Lemon Chicken Breast, Bebek Bengil beserta sambalnya, serta Nasi Campur Bali yang mengepul uapnya untuk si kecil Zamrud. Aku sedang menyeruput minumanku ketika Zam merengek-rengek minta ditemani ke toilet. Ia menolak ketika Keyla ingin mengantarnya. Malu, sudah kelas satu SD masa masih pipis di toilet perempuan, alasannya. Aku pun meninggalkan Key sebentar menuju toilet.

Selesai Zam buang air kecil, kami kembali menuju tempat kami memesan tempat. Dari kejauhan, Key tampak berbicara dengan seorang pria muda. Matanya berbinar-binar. Bahkan Key berbicara dengan pria tersebut tanpa merasa perlu menyuruhnya duduk. Key tampak gugup ketika aku dan Zam datang. Ia mengenalkannya sebagai teman. Tapi aku tahu, dari tindak-tanduk Key yang berubah gelisah, pria tersebut bukanlah teman biasa.

Pria tersebut pergi membawa perhatian Key. Key tampak termenung-menung sepeninggalnya. Ia seringkali tersentak kala Zam minta disuapi makan. Aku memancangkan pandang padanya. Tapi ia seperti acuh. Menatapku balik, namun pikiran entah di mana.

Key minta kembali ke kamar bahkan sebelum pukul dua belas berdentang. Padahal kami berjanji ingin membawa Zam ke pantai, menikmati kembang api sebagai pertanda pergantian tahun. Ah, ada apa denganmu Key?

***

bebek-bengil-food-1

Aku menutup pintu mobil. Masuk ke dalam rumah sembari melonggarkan dasi. Sedikit sentak saat menyadari lampu ruang tamu masih benderang. Sesosok tubuh anteng di hadapan tivi. Suara tivi terdengar berdesir. Sengaja dikecilkan mungkin. Aku melirik ke arah jarum jam dinding.

“Belum tidur, Pa?” Aku menghenyak tubuh di sofa yang sama dengannya. Ia menoleh.

“Baru pulang, Zam?” Ia ikut melengahkan pandang ke jam dinding. “Kerja boleh, tapi jangan terlalu dipaksakan,” gerutunya.

“Aku ga maksain badan kok, Pa.”

“Buktinya, jam segini baru nyampe di rumah. Kalau kamu keseringan mandi malam, ntar rematik. Terus yang dikira bapaknya, kamu. Hehehe… uhuk, uhuk, uhuk.”

Aku mengelus-elus punggungnya pelan. “Udah minum obat, Pa?”

“Udah, dikasih Iyem tadi. Kamu ga usah khawatir gitu, ah. Papa masih sehat, kok.”

Setengah hati, aku membiarkan tangannya menepis tanganku halus. Kemudian hening melingkup kami. Musik di tivi menggerus hati kami ke pikiran masing-masing. Diam sekian jenak, aku berdiri.

“Zam,” ia menoleh, “Papa kesepian, Zam. Iyem selalu pulang setelah Magrib. Padahal saat-saat itulah Papa merasa rumah ini begitu sepi.”

Aku tahu ke arah mana pembicaraannya. Tapi aku masih menunggu.

“Kapan kamu menikah, Zam?”

Nah! Aku mengabaikan mata cokelat buramnya yang tampak memelas. Menutup pintu kamar pelan dan bersandar. Berharap pintu ini cukup membentengiku dari suaranya yang memanggil lirih.

***

bebek-bengil-nusa-dua-3

Bukan sepenuhnya salah Zam bila ia selalu menghindar tiap kubahas topik yang sama. Aku sadar, sedikit banyak, aku lah yang menanam benih trauma akan pernikahan dalam dirinya. Kegagalanku mempertahankan Keyla, ibunya, yang membuat Zamrud begitu keras menunda menikah. Aku masih ingat, esoknya setelah makan malam keluarga yang berantakan, sikap Keyla berubah. Dia menyingkirkan tanganku dari pinggangnya kala aku niat memeluk. Bahkan  menjauh saat aku ingin mengecup pipinya.

Puncaknya, malam hari kulihat ia duduk di salah satu meja di De Opera. Purnama membias senyum yang ia simpan dariku. Sesekali, ia tergelak saat pria di hadapannya bercerita. Pria yang kami temui kemarin. Padahal aku sedari tadi mencarinya ke mana-mana. Zam belum makan malam, dan dia cuma mau makan disuapi Key. Aku mendehem. Paras Key memias. Mata kami berserobok. Aku pun mengodenya untuk kembali ke kamar hotel.

Di kamar hotel, Key mencak-mencak. Ia menuduhku membuntutinya.

“Astaga, Key!” Aku membentaknya tapi segera sadar Zam memerhatikan kami. Aku mendekati Zam, menyuruhnya menonton tivi, sedang Key kuhela ke balkon. Di luar, kami saling memuntahkan lahar.

Jelas sudah. Ternyata pria tadi cinta pertama Key. Dengan muka berlumur maskara yang luber, Key berteriak sambil menangis. Mengatakan kalau ia masih mencintai mantannya tersebut. Aku tidak habis pikir. Aku mengingatkannya kalau ia sekarang seorang ibu. Zam membutuhkannya. Tapi ia benar-benar perempuan keras kepala. Malam itu juga, Key mengepak pakaiannya untuk kembali ke Jakarta diiringi tatapan heran Zam. Saat ia meninggalkan kamar, aku cuma mampu berdalih pada Zam kalau mamanya pergi ke tempat teman.

Sejak itu, hubungan kami memburuk. Rumah meranggas dengan diamnya kami. Sesekali, Key masih suka menangis bila aku mengajaknya bercinta. Sekadar menjamah tubuhnya pun, ia tak sudi aku melakukannya. Puncaknya, Key meminta cerai.

***

Udara masih cukup dingin sewaktu aku duduk di beranda. Mataku menatap bulir-bulir embun yang menitik dari bonsai kesayangan papa. Aku mengesah. Napasku mengabut. Membentuk asap yang lalu mengurai menjadi partikel tak terlihat. Ah, kalau saja kepedihan bisa semudah itu dihancurkan, ceritanya tak akan sama.

Selepas kepergian mama adalah masa-masa yang berat bagi papa. Bagiku juga tentunya. Papa mati-matian menutupi kehancuran rumah tangganya. Ia bekerja hingga larut. Namun aku tahu, itulah caranya membunuh sepi ditinggal mama. Tak jarang, malam-malam saat aku terbangun dari tidur, kudapati ia duduk di meja makan. Sendirian, sedang matanya hampa menatap kekosongan di hadapannya. Lalu perlahan, sebak di dadanya membuat air tergenang di mata. Air itu pun ngalir di pipinya. Kalau sudah begitu, biasanya aku tak jadi minum atau pipis. Lebih memilih kembali ke kamar dan memeluk guling erat-erat.

“Sampai kapan kau akan biarkan kekasihmu menunggu?” Suara papa mengagetkanku. Ia ikut duduk di sebelahku. Di tangannya, secangkir teh mengepulkan uap.

“Delya bisa mengerti keputusanku, Pa.”

“Zam, jangan kau gantung dia seperti itu. Umur kalian sudah cukup untuk diikat dalam rumah tangga.”

“Aku ingin hubungan kami lebih matang. Tak tergesa-gesa.”

“Ah, Zam. Jangan berkaca dari Papamu ini. Papa dan Mamamu memang menikah di usia yang begitu muda. Namun bukan itu penyebab hancurnya rumah tangga kami.” Papa menyeruput tehnya lamat. “Kedewasaan tidak diukur dari usia seseorang, Zam. Tak ada yang bisa menjamin pacaran yang lama berarti pernikahan yang awet pula. Sebab dalam berumah tangga, bukan hanya hati yang diuji tapi logika kalian pun.”

Aku tercenung mendengar tuturannya. Kata-kata papa benar. Namun, masa-masa aku tak beribu berkelebat di kepala. Ketika aku sendirian di rumah, sewaktu hari Ibu, atau saat pengambilan rapor, hanya aku lah yang orang tuanya tak lengkap. Aku mengepalkan tangan. Napasku sedikit memburu tiap mengingatnya. Keringat dingin ngalir dari pori-pori tubuhku.

“Zam, kau tak bisa memungkiri kalau namanya mengalir dalam tiap tetes darahmu. Atau mungkin kau lupa, sejahat-jahatnya dia, dia tetap ibumu, Nak. Ada bekas istri, bekas pacar. Tapi tak pernah ada yang namanya bekas ibu.”

Papa berdiri dari tempatnya. Sambil membawa cangkirnya tadi, ia berjalan ke dalam. Di dekat pintu, tangannya menepuk-nepuk punggungku lembut.

“Belajarlah memaafkan, Nak. Beri ia kesempatan kedua. Kau tahu bukan kondisinya sekarang bagaimana?”

Tepat saat setelah ia menutup pintu, tangisku ruah. Air mataku ngalir tanpa mampu kutahan. Kenangan manis bersama mama mendadak berseliweran di depan mataku. Seperti siaran ulang. Aku dan mama berkejaran di pantai dekat hotel. Hadiah dari mama pada ulang tahunku. Kecupan di pipi sewaktu aku berhasil tidak ngompol lagi. Semuanya menguras penampungan air mata dalam diriku. Punggungku naik-turun. Bahkan baju yang kupakai pun basah karena keringat bercampur air mata.

Sungguh, sebenarnya telah lama aku mencari pembenaran atas dendamku ini. Namun dialog-dialog yang aku lakukan bersama papa, selalu menyadarkanku akan sisinya yang lain. Seperti kata papa, jangan hanya mengingat kepedihan sebab ditinggalkan mama. Bukankah aku masih mempunyai kenangan-kenangan bersamanya? Bukankah ia masih mempunyai sisi baik seorang ibu?

Setelah reda tangisku, aku merogoh telepon genggam dalam saku. Mencari satu nama dan menempelkannya di telinga. Terdengar nada sambung lalu ada yang mengangkat.

“Halo…?”

***

“Tuk, tuk. Tuktuktuk. Tuk, tuk. Tuktuktuk.”

Bukan berarti aku bisa melupakan begitu saja perlakuan Keyla kepadaku. Butuh waktu bertahun untuk menambal hati yang dikoyaknya. Malam-malam tanpa ada lagi yang memeluk sebelum tidur, selalu saja membuatku susah tidur. Kadang, hingga pukul tiga dini hari mataku masih saja nyalang. Menatap kekosonganku di bagian yang biasa ia tempati.

Menjadi seorang bapak sekaligus ibu bagi Zamrud pun, membuatku mesti menguras otak. Mencari cara membagi waktu agar Zamrud tetap mendapatkan kasih sayang, di saat yang sama aku mesti mencari nafkah untuknya. Untuk kami.

Mencari ibu pengganti bagi Zamrud, tak pernah terpikirkan olehku. Sakit pun yang menderamku dalam diam, toh dia tetap wanita yang kupilih. Bukan salahnya kalau kemudian dia memilih kembali ke cinta pertamanya. Seperti anggur, cinta pertama semakin lama disimpan akan semakin memabukkan. Itulah mungkin yang Keyla rasakan. Kami masih terlalu muda. Keyla mungkin tak bisa mengambil keputusan yang baik. Kami sama-sama belum matang.

“Tuk, tuk. Tuktuktuk. Tuk, tuk. Tuktuktuk.”

Hari ini jadwal kunjungan Keyla. Terkadang, aku masih tak habis pikir. Wanita di depanku ini Keyla yang sama. Keyla yang bersemangat. Keyla yang penuh energi. Lihatlah, stroke telah menghisap kecantikannya. Kini yang ia mampu lakukan hanyalah mengetuk-ngetuk jemari di atas meja. Dengan irama yang aku hapal. Tak beranjak dari tempat duduknya. Hanya itu, sebab kakinya tak sanggup lagi mengampu dirinya.

Keyla datang kembali padaku beberapa tahun lalu. Menyatakan penyesalannya dan begitu berharap bertemu Zam. Lukaku telah sembuh dilumat waktu. Lalu kenapa aku mesti menahannya? Tapi justru pertemuannya dengan Zam lah yang membuatnya seperti sekarang ini. Zam menolak menemuinya. Bahkan secara terang-terangan ia berteriak hingga ke ruang tamu, tempat Keyla menunggu, kalau ia tak pernah punya ibu bernama Keyla. Luka yang pernah Keyla titipkan padaku, kini ia mamah sendiri.

Keyla pergi dengan langkah gontai. Sesekali mengisak. Langkahnya yang tak lagi tegap, tak mampu membuka hati Zam. Kemudian begitu saja. Mendadak aku mendapat kabar ia terserang stroke. Dan mirisnya lagi, keluarganya justru memasukkannya ke panti jompo dengan keadaannya yang sekarang. Key, mungkin aku telah memaafkanmu. Tapi semesta rupanya masih ingin bermain-main denganmu.

Aku mengelus tangan keriput Key. Perlahan kususuri guratan di jemarinya. Sampai di bagian jari manis, aku menatap warna kulit yang berbeda. Dulu, cincinku dariku pernah tersemat di sana. Namun kini tak ada lagi, tidak dariku pun dari suaminya. Aku menggenggam erat tangannya. Meletakkannya ke pipiku. Setitik air menitik dan jatuh di tangannya. Langkas kuhapus air mataku.

Aku mendengar suara gaduh. Sebelum aku memahami apa yang terjadi, seseorang menyeruak di antara aku dan Key. Orang tersebut bersimpuh di hadapan Key. Dari tatanan rambutnya, aku tahu itu Zam. Tak jauh dari kami berdiri Delya.

Zam mengisak di hadapan Key. Berkali-kali ia meminta maaf kepada Key. Aku yakin Key menerima permintaan maaf Zam. Sebab sesudut bibirnya naik. Dan meski mulutnya susah digerakkan, aku tahu ia berusaha mengucapkan sesuatu. Tangannya gemetar berpindah dari atas meja ke punggung Zam. Mengelus lembut tubuh Zam yang masih ruah dengan air mata.

Cukup lama menangis, Zam menghapus air matanya. Ia pun berdiri dan merengkuh Delya. Ia mengatakan hal yang membuatku terkejut.

“Kami memutuskan menikah, Pa, Ma.”

Aku menatap Zam dan Delya, berusaha mencari kesungguhan dari mata mereka. Tapi sepertinya mereka tidak membohongiku. Bahkan sambil tertawa ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Empat buah tiket.

“Sebelum kami menikah, aku ingin kita kembali memperbaiki kenangan kita dahulu. Aku sudah memesan tempat di The Bay Bali. Tak sabar mencicipi lagi Bebek Bengil bersama calon istriku.” Zam mengecup kening Delya yang tampak malu. Aku tersenyum. Genggaman Key di tanganku menguat. Sebulir air mata, kembali menuruni lereng pipinya. Namun kali ini aku tak ragu lagi. Air mata tersebut bukanlah air mata kesedihan.

————————————————————————————

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

13 pemikiran pada “Seperti Malam Berganti Pagi

  1. Aku suka, deh, premisnya. Lalu gaya uda yang kusuka masih lumayan kerasa di sini. Aku suka nama tokohnya, terutama Zam. Aku suka bagian tangan Key yang mengetuk itu, sedih sekaligus indah. Aku suka kontemplasi Zam dengan dirinya sendiri (nah, itu uda bisa bernarasi). Masukanku, logika cerita masih ada yang hilang. Masih banyak kenapa dan kok gitu. Beberapa kejadian tampak too easy to be true. Lalu kok cepet banget pindah alur ke bagian Zam memaafkan. Emosinya jadi loncat dan bingung. Lalu di part akhir, jadi datar karena nggak ada dialog, padahal itu harusnya puncak perasaan “aku”, Zam, dan Key. Maaf sotoy, semoga berkenan masukannya, soalnya aku merasa cerpen dengan premis semenjanjikan ini bisa dieksekusi lebih jleb lagi😀

  2. Iya, di bagian akhir terasa terburu-buru. Variasi sudut pandang ‘aku’ dan Zam, aku suka. Sempat bingung, sih, aku harus baca dua kali. Tapi secara keseluruhan, aku suka. Keren.

  3. Bagussssssssssssss!!!!!
    Dewa bener tulisan2nya bang sulung

    *nyembah-nyembah*

    kapan lah bisa bikin beginian.
    hiks

    *lalu mengejar jurang*

    Tapi beberapa hal di ending nya Aul kurang begitu suka bang. Misalnya tiba-tiba ada The Bay.
    Hehehe

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s