Penanti Bintang Jatuh

Seumpama rindu mampu membunuh jarak yang merentangkan tangannya di antara kita, ‘kan kuasah parang rinduku setajam mungkin untuk menebasnya.

Aku masih memicingkan mata. Mengamati langit jernih bertabur gemintang. Mataku lelah, sedari tadi menempel di teleskop observatorium ini. Tanganku kebas memegang erat papan perhitungan.

“Bagaimana perkembangannya?”

Suara Leon mengalihkan perhatianku sejenak. Aku tersenyum simpul sambil memilih diam.

“Jangan terlalu dipaksakan. Setahun ini saja sudah tiga bintang jatuh yang kamu identifikasi. Untuk pemula, itu sudah luar biasa.”

Aku hanya tertawa kecil dan kembali mengamati langit. Ah, kau tidak tahu apa-apa Leon. Manusia sepertimu tak akan mengerti sebab kegigihanku. Kesalahan besar tak sengaja kulakukan di waktu lampau. Aku dan Trasque, kekasihku, kedapatan bercumbu di bawah pohon pengetahuan. Ah, kami memang kebablasan waktu itu.

Kami kemudian diadili di hadapan dewa tertinggi. Sebagai hukuman, jiwa kami yang dipenuhi geletar asmara diharuskan berpisah. Merasakan hari-hari gersang tanpa kehadiran satu sama lain. Aku mesti menitis ke wujud manusia. Untunglah, aku dibesarkan oleh orang tua angkat yang menyayangiku. Mereka begitu memerhatikan kondisiku. Maklum saja, mereka sudah lama menginginkan gelak tawa seorang anak di rumah mereka. Aku tak ingin kehilangan mereka.

Trasque, terpaksa mengembara di angkasa. Mencariku di antara jutaan galaksi yang ia lalui. Sambil menaiki kereta luncur bercahaya, kendaraan di tempat asalku. Ah ya, bintang jatuh yang manusia sebut itu, sebenarnya kendaraan dengan teknologi tinggi yang tak bisa manusia jangkau.

Lalu bagaimana aku tahu yang mana bintang jatuhku? Bila hatiku berdentam, dipenuhi ledakan big bang tatkala menatap satu bintang jatuh. Berarti aku telah menemukannya. Meski tak bisa langsung melihat wajah masing-masing, namun koneksi kami akan langsung menyatu. Seperti yang baru saja kurasakan.

Tapi, di sisi lain aku gelisah. Bila Trasque menjemputku, berarti dia harus singgah ke bumi. Bukan, bukan masalah Trasque yang mesti membawaku seolah dilamar oleh kekasih di dunia manusia. Aku lebih ke memikirkan nasib orang tua angkatku.

Bisa kau bayangkan apa jadinya jika sebuah benda langit berukuran raksasa jatuh ke bumi? Tepat di atas atap rumahmu, misalnya? Seperti saat ini, teleskopku menangkap sebentuk bintang jatuh yang meluncur cepat menuju bumi. Lion yang tak memperhitungkan jalur orbitnya (tentu saja, siapa yang bisa mengatur sifat keras kepala Trasque?), berteriak ketakutan dan segera menyelamatkan diri. Aku bingung, apa yang harus kulakukan. Bisa kau bantu aku?

#366 kata

19 pemikiran pada “Penanti Bintang Jatuh

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s