Satu Foto, Lima Cerita

wpid-screenshot_2014-07-31-20-58-06-1.png

1. “Brak!”
Henrick van Derveer mengaduh kala tubuhnya dilempar ke lantai.
“Ikat dia di kursi!” Suara yang sama saat matanya ditutup dan mulutnya dibekap. Mata Henrick memicing. Penutup matanya dibuka paksa.
“Lepaskan! Apa yang Jij mau? Uang? Sebutkan!”
“Cih! Sofie seharusnya menikah denganku.”
“Sofie? Semua ini karenanya? Hahaha…”
Gelak tawa berlompatan dari mulut Henrick, membuat lelaki pribumi di depannya mengerutkan kening. Lelaki tersebut mengambil kursi lain dan duduk dengan menaikkan kakinya ke atas meja.
“Menurutmu, keadaanmu sekarang lucu, he?”
“Hei, pribumi bodoh! Kalau itu masalahnya, Jij tak perlu bertindak sejauh ini. Ik akan menyerahkannya cuma-cuma!”
Mendengar hal tersebut, lelaki di hadapannya menegakkan badan.
“Kau sungguh-sungguh?”
“Ya, pernikahannya batal. Ik besok harus kembali ke Belanda.”
“Apa jaminannya?” Lelaki di hadapannya mendekat. Aroma jengkol menguar kuat dari mulutnya.
“Potong telinga Ik!”
Si lelaki pribumi tampak puas. “Baik. Hei, lepaskan ikatannya!”
Henrick van Derveer meninggalkan tempat penyekapan dengan langkah tenang.
Dasar, Pribumi. Matanya dibutakan cinta. Tak tahu kalau Sofie mengidap kusta, makanya ia selalu memakai gaun kemanapun.

2. Adikku sedang keranjingan berjualan barang bekas. Barang tak terpakai di rumah akan dijualnya. Kami tak terlalu peduli. Toh ia selalu memberikan hasil penjualan ke ibu dan hanya mengambil sebagian. Hanya kakek yang terkadang menggerutu.
“Kalau bukan karena segan dengan bapakmu, adikmu itu sudah tak pites.”
Aku hanya tersenyum. Sebab, adik pandai mencuri hati kakek. Sesekali, dibelinya penganan kesukaan kakek. Cukup untuk membungkam ricauannya.
Ada benda yang begitu ingin adik jual, tapi tak pernah kakek lepas. Dua buah kursi antik beserta mejanya. Adik pernah membawa temannya dan terpukau dengan harga yang disebutkan.
Adik nekat. Tanpa sepengetahuan kami, dibawanya benda tersebut. Kakek yang baru pulang dari kebun memekik saat ia tak menemukan benda kesayangannya. Didobraknya kamar adik.
“Teguh, ke mana kau bawa kursi dan mejaku!”
“A, aku jual.”
“Bawa kembali atau kaurasakan celurit ini di lehermu!”
Kakek tak terlihat bercanda. Gegas adikku mengambil kembali kursi dan meja tersebut. Saat diletakkan, kakek tampak begitu gembira. Dielusnya perlahan sambil dikecup. Sebutir air mata mengalir di pipinya.
“Benda ini perabot pertama aku dan nenekmu. Sebelum meninggal, nenekmu berpesan untuk menjaganya. Sebab, selama kursi dan meja ini masih ada, dia akan selalu menjaga kita. Lihat, kinipun dia sedang duduk di kursi dan menatap kalian.”

3. Reyd duduk di pinggir kasur. Di balik punggungnya, Left pulas. Mukanya tertutup rambut yg masai. Menyadari gerakan Reyd, Left membuka mata.
“Mau ke mana? Kita masih punya satu sesi lagi!”
“Aku cuma ingin merokok di luar.”
Reyd menghempas badan di kursi rotan. Asap rokok bumbung dari mulutnya lalu melebur di udara. Reyd meringis. Sesudut bibirnya perih. Left suka menampar jika mencapai kenikmatan. Belum lagi ujung-ujung kuku dan gigitan yang menanam jejak di kulitnya. Left tak pernah mengizinkannya turut merengkuh puncak. Reyd menatap kursi di hadapannya.
“Left, bagaimana kalau percintaan kita berikutnya kita lakukan di sini?”
Left berkacak pinggang di pintu. Telanjang. Payudaranya masih saja ranum untuk dipetik meski dua bayi telah dilahirkan.
“Boleh juga.”
Left menghambur ke pelukan Reyd.Reyd langsung mendaratkan bertubi cumbu pada bibirnya. Mereka bergerak. Posisi Left kini terhimpit antara kursi dan Reyd. Saling memilin. Saling memacu dalam irama padu. Reyd mengangkat Left dalam gendongannya. Semakin kuat mendesak. Left memekik.
“Oh, Reyd. Kau membuatku melayang!”
Reyd tersenyum. Sambil tetap menggendong, ia naik ke atas kursi. Tepat saat Left melenguh panjang, Reyd melemparnya keluar. Kali ini, Left benar-benar terbang. Melayang.

4. Claire bersandar di balkon. Tatapan matanya terpancang ke bawah. Menatap keriuhan di bawah sana. Tom keluar dari dalam. Menepuk-nepuk kemeja yang dipupuri debu.
“Bagaimana keadaan di luar sana?” Tom duduk di bangku rotan antik. Di hadapannya, dua cangkir teh masih menarikan kepulan uap. Sesekali berdenting mengikuti guncangan.
“Semakin kacau. Orang-orang panik. Terbitnya matahari dari Barat benar-benar membuat mereka kalang-kabut,” jawab Claire sembari merapikan rambut putihnya yang ditiup angin.
“Kemarilah!” Tom menarik pelan Claire untuk duduk di kursi rotan sebelahnya. “Kau yakin kita tak perlu menyelamatkan diri?”
“Toh tak lama lagi pun malaikat maut pasti menjemput kita.”
“Baiklah. Claire, ada satu hal yang ingin kukatakan. Rahasia yang telah lama kupendam dan menggangguku.” Tom menggenggam tangan Claire erat. “Aku pernah bermain api, Claire. Sewaktu aku ditugaskan Distrik 9, aku bertemu dengan cinta pertamaku dan sempat menjalin cinta dengannya.”
Paras Claire beku, namun hanya sekejap. Ia merebahkan kepalanya di bahu Tom.
“Sudahlah, Tom. Jangan merusak momen terakhir kita.”
“Kau tidak marah?” tanya Tom heran. Ia pikir Claire akan muntab mengetahui rahasia yang ia simpan.
“Yah, toh kau pun tak pernah bertanya mengapa si bungsu tak mirip denganmu, kan?”

5. “Kita di mana?” bisik kekasihku.
“Entahlah.”
Aku memutar pandangan. Di sekeliling kami hanya kaca. Aku benar-benar tak memiliki gambaran di mana kami berada. Yang aku ingat hanya, sebuah ledakan terjadi lalu gelap.
Kami tak bisa bergerak. Karenanya, kami hanya bisa memandangi aktifitas di luar kaca ini. Di luar, beberapa yang seperti kami mondar-mandir sambil saling berbicara. Meski mirip, kami tetap tampak berbeda dengan mereka. Jangan-jangan, mereka mengalami mutasi akibat ledakan tersebut?
Beberapa dari mereka mendekati mikrofon. Kekasihku menguatkan cengkeramannya padaku.
“Ingat, kita tak boleh berbicara dengan mereka. Tutup mulut sampai kita bertemu spesies kita.”
Kekasihku mengangguk dalam pias. Keringat dingin ngalir di tubuh kami. Padahal aku yakin, ruangan ini berpendingin.
“Ceritakan pada kami asal-usul kalian dan sebab bumi meledak!”
“…”
Mereka mengulang-ulang pertanyaan tersebut tiap hari dan kami tetap diam. Entah sampai kapan. Sebab, kami tak ingin menyalahi kodrat kami sebagai benda mati. Kami hanyalah dua buah kursi yang dapat berbicara dengan sesama kami. Entah dengan mereka, perabot yang memiliki mulut, telinga, bahkan kaki! Sesuatu yang seharusnya hanya dimiliki manusia. Bisakah kau bantu kami mencari tahu di mana kami berada?

Catatan: tiap cerita kurang dari 200 kata

5 pemikiran pada “Satu Foto, Lima Cerita

  1. akhirnya… hehehehe. dikasih tantangan baru nulis lagi.

    Suka yang nomor 5. memanusiakan objek.
    Kalau nomor 4 kurang paham soal siapa yang punya rahasia Uda.
    Nomor 3… ngeri membayangkan. besok paginya pasti ada di koran. ditemukan sesosok mayat tanpa pakaian.
    Nomor 2… ok juga. kurang mistisnya.
    Nomor 1…. oklah.

    Overall paling suka nomor 3 n 5. tapi kurang twistnya….
    lagi dong…

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s