Surga di Telapak Kaki Jerapah

Kau menyebut ibumu dengan panggilan jerapah. Bukan tanpa musabab kau mengatakannya demikian. Ia perempuan terpandang dan sadar betul siapa dirinya. Karenanya, ia senantiasa mengangkat lehernya tinggi-tinggi. Saat berbicara dengan siapa pun, ia tak pernah sudi menatap mata lawan bicara. Sebagaimana tak sudinya ia membagi asi-nya untukmu. Alasannya, ia tak ingin tubuhnya yang selangsing jerapah membengkak. Dan kau hanya menelan liur melihat puting jerapah mencetak di bajunya. Sebab asi-nya merembes tak kau cucup.

Semakin dewasa hubunganmu dengannya tak makin baik. Ia senantiasa tampak sibuk. Kau hanya memerhatikan dari jauh. Sambil tak lupa menumpuk sebalmu tiap kali berpapasan. Tumpukan yang makin tinggi dan kau sembunyikan dengan baik di sudut hati.

Jerapah menua dan terkena stroke. Tak mampu gerak namun lehernya tetap terangkat ke atas. Sebesar bencimu padanya tak sebanding dengan sayangmu. Kau ingin membebaskannya dari rasa sakit.

Suatu malam bulan penuh, kau mendorong kursi rodanya ke halaman. Sebelumnya kau mandikan jerapahmu dan memakaikan baju yang bagus.

Kau menuangkan cairan dari dirigen ke sekujur tubuhnya. Sekejap saja, lidah api membelit jerapahmu. Ia menari diiringi lengking yang pecah di langit. Kau girang, melepas baju, dan ikut menari di bawah cahaya bulan yang meriap dan gemeretak api. Saat jerapahmu berhenti menari, kau mencium kakinya yang hangus dan bau gosong.

 

Berdasarkan Lukisan Salvador Dalli: Burning Giraffe and Telephone