Hubungan Kemampuan Menyimak Karangan Deskripsi Dengan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terdapat empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan menerima dan memahami isi atau pesan suatu ujaran yang disampaikan penutur dengan bahasa lisan. Keterampilan menyimak diperoleh seorang anak sebelum keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan dasar untuk tiga keterampilan berbahasa lainnya.

Lanjutkan membaca “Hubungan Kemampuan Menyimak Karangan Deskripsi Dengan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung”

IMPLIKATUR DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI KOPERASI SISWA SMA N 2 LUBUK BASUNG

BAB I

 

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari proses komunikasi. Komunikasi dilakukan untuk mempermudah manusia menyelesaikan pekerjaan mereka. Proses komunikasi tersebut dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal. Pada komunikasi verbal, tuturan merupakan hal terpenting saat proses komunikasi terjadi. Hal ini dikarenakan, tuturan merupakan tindak praktek sosio-budaya yang tidak hanya memiliki makna literal, tetapi juga makna nonliteral. Salah satu contoh dari proses komunikasi verbal tersebut adalah dalam transaksi jual beli.

Lanjutkan membaca “IMPLIKATUR DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI KOPERASI SISWA SMA N 2 LUBUK BASUNG”

Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara Terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Anak

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu media yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Manusia tidak akan lepas dari proses penggunaan bahasa dalam kehidupannya sehari-hari. Bahasa digunakan dalam setiap lini kehidupan untuk mempermudah proses berkomunikasi. Penggunaan bahasa tidak mengenal usia, dari orang tua hingga anak kecil, harus menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Lanjutkan membaca “Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara Terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Anak”

Ungkapan-Ungkapan Larangan di Kanagarian Padang Alai Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman

Bab I

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negeri yang kaya akan kebudayaan. Setiap daerah di Indonesia mempunyai keunikan sendiri dengan kebudayaan mereka masing-masing. Kebudayaan tersebut apabila tidak dilestarikan, maka akan punah. Oleh sebab itu, perlu adanya pelestarian kebudayaan tradisional asli Indonesia.

Lanjutkan membaca “Ungkapan-Ungkapan Larangan di Kanagarian Padang Alai Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman”

teknik penyusunan instrumen

PENDAHULUAN

Penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk memecahkan suatu masalah atau menemukan sesuatu yang baru. Cara ilmiah di sini berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Dalam proses penelitian ilmiah akan diperoleh data-data yang akan diproses dan pada akhirnya diterjemahkan menjadi suatu hasil atau kesimpulan dari penelitian tersebut. Untuk mendapatkan data tersebut maka diperlukan suatu alat ukur/instrumen. Proses dalam menyusun alat ukur (instrumen) penelitian sangatlah penting karena instrumen tersebut menjadi pedoman untuk mengukur variabel-variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian tersebut perlu diukur agar hubungan antara variabel dapat diungkapkan.
Lanjutkan membaca “teknik penyusunan instrumen”

homeschooling, sebuah alternatif pendidikan

PENDAHULUAN

            Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan para orangtua di sekolah umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.

Lanjutkan membaca “homeschooling, sebuah alternatif pendidikan”

dampak teknologi terhadap kehidupan manusia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak dahulu kala teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia. Ringkas kata kemajuan IPTEK yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.

Lanjutkan membaca “dampak teknologi terhadap kehidupan manusia”

dinamika penanaman nilai moral pada anak

 

BAB I

PENDAHULUAN

Usia anak-anak merupakan usia yang amat penting dalam perkembangan psikis seorang manusia. Pada usia tersebut, terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa anak-anak merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri, kemandirian, nilai-nilai moral, dan agama. Oleh karena itu, dibutuhkan kondisi dan stimulasi sosial yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Lanjutkan membaca “dinamika penanaman nilai moral pada anak”

variasi bahasa

  1. Variasi bahasa

Sebagai sebuah langue sebuah bahasa mempunyai sistem dan subsistem yang dipahami sama oleh semua penutur bahasa itu. Namun, karena penutur bahasa tersebut, meski berada dalam masyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, maka wujud bahasa yang konkret, yang disebut parole, menjadi tidak seragam. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa itu. Keragaman ini akan semakin bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak, serta dalam wilayah yang sangat luas. Misalnya bahasa Inggris yang digunakan oleh hampir di seluruh dunia.

Lanjutkan membaca “variasi bahasa”

Sintaksis

 

  1. Pengenalan sintaksis

Hakikat/ Pengertian Sintaksis

Sintaksis secara etiomologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘sun’ artinya dengan dan ‘tattein’ artinya menempatkan. Jadi, secara etimologis sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Sintaksis yang berasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxsis. Sedangkan dalam bahasa Inggris adalah syntax.

Lanjutkan membaca “Sintaksis”

Ketika Gempa Bertasbih

Sore baru saja menyapa, saat aku mematikan telepon dari ibuku. Orang yang paling kukagumi, kusayangi, sekaligus kubanggakan itu baru saja meneleponku. Ia menanyakan kabarku dan melepas rindunya yang selama ini tertahan. Kupandangi jalanan dari lantai 2 kostku. Orang-orang lalu-lalang, sibuk menyelesaikan urusannya masing-masing. Motor tak henti-hentinya berseliweran, meninggalkan asap putih hasil pembakaran tak sempurna yang membuat para pejalan kaki terbatuk-batuk. Aku masuk ke dalam rumah, berusaha melanjutkan keasyikanku membaca novel yang sempat tertunda.

Di ruang tamu, barang-barang berserakan, kasur-kasur bertumpuk di pojok kanan. Kami baru saja pindah rumah. Di pojok kiri, dua orang temanku asyik bermain Monopoli. Salah satu dari mereka mengajakku bermain, “Luang, sato ndak main monopoli?” tanya temanku yang bertubuh tinggi. “Ndak do, maso ketek wak lai bahagia!” jawabku sekenanya. Sebuah lemparan mendarat di kepalaku, balasan dari jawabanku yang asal-asalan. Kami kembali asyik dengan kegiatan kami masing-masing.

Selang beberapa saat, kami dikejutkan dengan guncangan yang kami rasakan. Hening sejenak. Kami yang sudah terbiasa dengan gempa-gempa kecil menanti gempa kali ini usai. Namun bukannya bertambah kecil, gempa tersebut malahan bertambah besar. Aku langsung berlari ke bawah sambil melindungi kepalaku. Sesampainya di jalan, orang-orang sudah banyak yang keluar dari rumah mereka. Gempa bertambah kuat. Kabel-kabel listrik bergetar. Kendaraan-kendaran yang ada di jalan bergetar. Pohon-pohon dan tiang listrik seolah-olah menari ditimpali keributan disana-sini. Orang-orang tak dapat berdiri dengan tegak, mereka saling berpegangan dengan orang didekatnya. Bahkan, ada yang keluar rumah hanya memakai handuk yang melilit badan. Saat itu keadaan sungguh sangat kacau.

Beberapa menit kemudian, gempa pun usai. Orang-orang kembali ke dalam rumah mereka masing-masing, berusaha mengambil barang-barang berharga yang dapat dibawa mengungsi. Aku sendiri mengikuti beberapa orang menuju pantai. Mencari tahu apakah air laut surut sebagai tanda datangnya tsunami. Namun karena air laut tidak surut, aku pun kembali ke rumah dan ikut mengambil dompet serta telepon genggam utnuk jaga-jaga.

Bersama salah seorang temanku yang mempunyai motor, aku pergi berkeliling. Mencari tahu keadaan di tempat lain. Di daerah perumnas, tampak asap hitam membubung tinggi. “Kebakaran…!!!” kataku pada temanku. Kami pun menuju lokasi tersebut. Sampai di lokasi kebakaran tersebut, orang-orang sudah ramai berkerumun. Ada yang hanya melihat, namun banyak juga yang membantu memadamkan api tersebut. Aku dan temanku ikut ambil bagian. Kami berusaha memadamkan api yang membakar dua rumah di daerah tersebut. Setelah mobil kebakaran tiba dan ikut memadamkan api, aku pun kembali ke kost bersama temanku.

Hari beranjak malam, azan magrib mulai berkumandang. Mengingatkan manusia-manusia yang lalai akan kewajibannya. Karena tidak berani tidur di kost yang ada di lantai dua, kami memilih untuk tidur di mesjid. Suasana mencekam. Listrik padam. Signal telepon genggam pun tidak ada. Saat itu, aku bagaikan terisolasi di kota mati. Selama dua hari, aku dan teman-temanku yang bertahan di Padang, makan seadanya. Kami makan dengan mie, roti-roti, bahkan kue rayo yang masih ada. Kami memilih tetep di Padang karena kendaraan yang akan membawa kami ke kampung halaman kami tidak ada.

Dua hari di Padang, aku pun memilih pulang karena keluargaku mencemaskanku. Berbekal uang seadanya, aku pun naik bus menuju Pariaman. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dua jam, kali ini menjadi lima jam. Macet menghadang dimana-mana. Orang-orang antre membeli bahan bakar. Sampai di Padang Alai, kampong halamanku. Aku dikejutkan dengan sebuah berita duka. Salah seorang mamakku (kakak ibu), tewas tertimpa reruntuhan rumahnya. Ia tidak sempat menyelamatkan diri. Meski aku berduka, aku tetap bersyukur karena keluargaku yang lain selamat.

Malam itu, aku beserta keluarga besarku terpaksa tidur beralaskan tikar dan beratapkan terpal. Rumahku roboh dan tidak layak huni. Selama di kampung, aku dan keluargaku makan bantuan bahan makanan yang diberikan oleh relawan-relawan yang datang ke daerahku. Keluarga besar kami daerah lain berdatangan, membawa bantuan berupa bahan makanan, terpal, selimut, maupun membantu memperbaiki rumah sebisa mereka. Rumah-rumah tetanggaku pun nasibnya tidak berbeda jauh. Aku benar-benar miris melihat keadaan kampungku yang dulunya damai dan tentram, berubah menjadi porak poranda setelah gempa terjadi.

Satu hal yang membuatku tetap bertahan dengan keadaan serba kekurangan tersebut adalah dukungan dari teman-teman dan orang-orang yang mengenalku. Selain mengucapkan turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpaku, mereka juga memacu semangatku untuk bangkit dan bertahan dengan keadaan seperti itu. Tidak hanya teman-teman SMP, SMA, maupun teman-teman sekelasku di perguruan tinggi, tetapi juga teman-temanku di dunia maya, seperti di facebook dan friendster. Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan kuat menanggung semua beban ini.