Sepasang Mata yang Menatap dari Selangkangan Istriku 

“Bang, matikan lampunya ya.”

Aku menurut. Dua minggu kunikahi, tak pernah mau lampu dihidupkan tengah kami bercinta. Entah mengapa.

***

“Kenapa harus dimatikan sih, Dik?” Aku meletakkan kepala di perutnya, masih bermandikan peluh.

“Ajaran Nenek, menghemat minyak.”

“Tapi kan kita pakai listrik. Pun, ia sudah tiada. Tewas dalam kebakaran katamu.”

Istriku diam, melebarkan pahanya perlahan. Sinar bulan yang menyusup ke arah cermin menjawab semuanya. 

Dalam keremangan, dari selangkangan istriku, tampak sepasang mata menatap. Mata menguning dengan iris kemerahan. Seperti mengancam, seperti menyimpan dendam.

“Nenek tidak pernah pergi, Bang. Tidak pernah,” bisiknya di telingaku sambil mengikik. Kuku panjangnya memusut leherku, perih.

——-

Flashfiction 100 kata tidak termasuk judul, untuk #HororisCausa

Kejutan Ulang Tahun Pertama

Foto by: julialillardart
Foto by: julialillardart

Kamu melangkah tergesa menuju mahligai biasa. Rutinitas sehari ini membuat keringatmu berleleran. Namun, bukan itu yang jadikan wajahmu terlihat gulana. Sesuatu yang lain, mengganggumu belakangan.

Kamu seperti mendengar suara bisikan-bisikan. Lirih. Mirip desisan.

Gangguan itu muncul kapan saja. Tak peduli kau tengah di depan makhluk-makhluk bersayap, mengajarkan mereka pengetahuan yang kamu miliki. Bahkan, bulu-bulu halus mereka yang kerap membuatmu bersin. Tidak lagi kau acuhkan.

Bukannya kamu tidak berusaha. Tapi, meski telah menggusah, desisan itu selalu mampir di telinga. Menelusup ke liang terdalam. Kadang membuat bulu romamu sampai berdiri.

Kamu ragu menceritakannya ke sesiapa. Bahkan untuk sekadar mengadu keluhan. Soalnya, sepertinya cuma kamu yang merasakan. Anomali di tempatmu adalah ketidaklaziman.

Kadang kamu berpikir, betapa ingin memiliki seorang teman. Bercerita, berbagi keluhan. Namun apa daya, kamu diciptakan sendirian.

Hari apa sekarang? Apa di sana kamu mengenal tanggal? Musim berganti? Lalu, kenapa pandanganmu memancang ke luar?

Ah, bukannya aku tidak peka. Tapi, aku lebih suka mengamati perkembanganmu. Peraturan-peraturan di sana, cukup kamu yang tentukan.

Hei, sepertinya kamu benar-benar lelah. Baiknya kuakhiri hari ini yang cerah. Biar kuganti dengan gelap, dengan bulan yang merekah.

***

Badanmu bergerak ke kanan-kiri. Tidurmu terganggu? Tentu saja, sinar matahari mengarah tepat ke arahmu. Hari ini kamu telat bangun dan ibadah.

Suara-suara ribut memaksamu membuka mata. Sedikit memicing, lalu kau melihat para makhluk bersayap telah berada di pinggir mahligaimu. Semuanya tersenyum. Hari ini istimewa, ujar mereka.

Kamu membuka kotak yang aku persiapkan. Di dalamnya, sesosok makluk bersisik mendesis-desis. Persis seperti yang biasa kamu dengar.

Kau meraba dada yang terasa sakit. Ada sesuatu yang aneh, ujarmu pelan.

“Tulang rusukku, hilang sebelah.”

(Untuk MFF, 266 kata)

Berdasarkan fiksimini: @sgthrj

Ulang Tahun Pertama-Lelaki itu hanya termangu. Sebutir apel dan seekor ular melingkar menemaninya.

Surga di Telapak Kaki Jerapah

Kau menyebut ibumu dengan panggilan jerapah. Bukan tanpa musabab kau mengatakannya demikian. Ia perempuan terpandang dan sadar betul siapa dirinya. Karenanya, ia senantiasa mengangkat lehernya tinggi-tinggi. Saat berbicara dengan siapa pun, ia tak pernah sudi menatap mata lawan bicara. Sebagaimana tak sudinya ia membagi asi-nya untukmu. Alasannya, ia tak ingin tubuhnya yang selangsing jerapah membengkak. Dan kau hanya menelan liur melihat puting jerapah mencetak di bajunya. Sebab asi-nya merembes tak kau cucup.

Semakin dewasa hubunganmu dengannya tak makin baik. Ia senantiasa tampak sibuk. Kau hanya memerhatikan dari jauh. Sambil tak lupa menumpuk sebalmu tiap kali berpapasan. Tumpukan yang makin tinggi dan kau sembunyikan dengan baik di sudut hati.

Jerapah menua dan terkena stroke. Tak mampu gerak namun lehernya tetap terangkat ke atas. Sebesar bencimu padanya tak sebanding dengan sayangmu. Kau ingin membebaskannya dari rasa sakit.

Suatu malam bulan penuh, kau mendorong kursi rodanya ke halaman. Sebelumnya kau mandikan jerapahmu dan memakaikan baju yang bagus.

Kau menuangkan cairan dari dirigen ke sekujur tubuhnya. Sekejap saja, lidah api membelit jerapahmu. Ia menari diiringi lengking yang pecah di langit. Kau girang, melepas baju, dan ikut menari di bawah cahaya bulan yang meriap dan gemeretak api. Saat jerapahmu berhenti menari, kau mencium kakinya yang hangus dan bau gosong.

 

Berdasarkan Lukisan Salvador Dalli: Burning Giraffe and Telephone

Tahi Lalat Sang Calon Bupati

Gustian memerhatikan lewat cermin. Keningnya berkerut. Dirasainya ada yang berbeda. Sembari mendecak, tangannya berusaha meraba punggungnya.
“Aneh, kenapa di punggungku sekarang tahi lalatnya bertambah banyak?” Gustian merenung. Namun kemudian ia tak ambil pusing. Ia buru-buru. Hari ini ada acara penting.

Sebagai calon bupati, jadwalnya cukup padat. Selain berpidato di beberapa tempat, ia juga mesti mengikuti kegiatan yang diadakan partai yang mengusungnya. Semisal, memberi bantuan pada korban bencana,  berdialog dengan pedagang di pasar, atau berdiskusi dengan para pemuka agama. Semuanya ia lakukan untuk pencitraan. Ia pun tak perlu khawatir akan pidato yang harus ia sampaikan. Sekretarisnya selalu melakukan tugasnya dengan baik. Menabur kata manis dalam tiap pidatonya, seperti yang ia harapkan.

Pagi itu Gustian mesti berdialog dengan masyarakat, tapi entah mengapa sedari tadi mulutnya begitu perih. Belum lagi tahi lalat yang menyubur di tubuhnya. Semuanya membuat ia gelisah. Dipanggilnya sekretaris. Sekretarisnya memekik saat Gustian membuka mulut.
“Astaga! Lidah Bapak penuh bercak hitam seperti tahi lalat. Beberapa bernanah dan menguarkan bau busuk!”

Lebih kurang 161 kata tanpa judul.
Untuk @bookaholicfund tema Tahi Lalat.

Posted from WordPress for Android

Dendi dan Kereta Api

Dendi terduduk dengan nafas yang memburu. Air matanya telah kering. Tinggal jejak mengilat ditimpa cahaya. Ingusnya pun telah mengerak. Sejalan dengan mulutnya yang sedari tadi terbuka tanpa suara.

Biasanya, mungkin orang akan tergugah untuk menolongnya. Sekadar mendiamkan tangisan bocah yang belum genap dua tahun tersebut. Tapi kali ini semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Dendi melihat sekeliling. Ia tak begitu ingat yang terjadi. Yang diingatnya cuma ia sedang dalam dekapan ibunya, naik kereta menuju tempat nenek. Lalu ia merasa guncangan hebat. Sewaktu terjaga, ternyata dirinya cukup jauh terlempar ketika tabrakan terjadi. Beberapa jengkal tampak ibunya duduk tersandar.

Dendi beringsut mendekat. Panas begitu membakar. Aroma darah menusuk hidungnya. Erangan-erangan tak ia pedulikan. Ia menuju ibunya perlahan tapi pasti.

“Ma, angun Ma. Endi aus…”

Dendi menepuk pipi ibunya lembut, berharap ibunya membuka mata. Namun ibunya hanya geming di tempat. Didorong rasa haus yang teramat sangat, ia membuka kancing blus, lalu menyusu di payudara ibunya. Terasa di lidahnya asin, pahit, dan anyir menyatu.

*lebih-kurang 161 kata dengan hitung manual
*sumber gambar: dekade80.blogspot.com
*untuk @bookaholicfund, tema 80an.

Posted from WordPress for Android

Warung Bakso Mak Indun

Tiba-tiba nama Mak Indun ramai diperbincangkan. Sejak ia kembali dari entah, lantas membuka warung bakso, warga kampung berebut membeli baksonya. Sementara yang meletus dari bibir pembeli kebanyakan bernilai baik. Beberapa orang beranggapan, kepergian Mak Indun beberapa tahun lalu berbuah resep bakso sakti.

Aku mengamati panjangnya antrean di warung bakso Mak Indun. Ingin rasanya turut mencicip, tapi istriku bersikeras melarangku merasainya.

“Tak kah kau pikir ada apa-apanya? Coba kau ingat sebab kepergiannya!”

Ah, iya. Sewaktu Mak Indun pergi pun menimbulkan geger. Ia dipaksa pergi dari kampung. Beberapa warga menuduhnya mempraktikkan ilmu hitam tersebab banyak bayi yang meninggal mendadak. Dan semua petunjuk mengarah kepadanya. Mak Indun pergi dengan amarah yang memercik dari sudut matanya. Meskipun kemudian  terbukti tak benar, heran juga warga yang membeli bakso Mak Indun tak pernah mempermasalahkannya.

Aku mengendap di dekat dapur Mak Indun. Mengintip sekadar membuktikan kebenaran ucapan istriku. Kulihat Mak Indun berdiri mengangkang di atas panci bakso. Ia mengangkat sarungnya hingga ke lutut. Bunyi gemericik terdengar seiring air yang mengucur dari selangkangnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam panci, barulah parasnya memancarkan kepuasan.

Untuk #MFF

Perempuan Berparas Sama

image

Aku melempar kailku jauh ke tengah. Sepagi ini, Danau Maninjau masih dilalap kabut. Sengaja pura-pura memancing untuk menunggu kedatangannya.

Ia melangkah perlahan di atas dermaga kecil, mencelupkan kakinya tanpa peduli dinginnya air. Namanya Dwita. Menurut empunya home stay, pemilik paras yang selalu tampak gundah itu dari Jakarta. Mungkin menyepi dari sesuatu.

Yang membuatku pias adalah hari ini kepulangannya. Duh, bagaimana ini?

#

Suara lirih menyusup dari sela bibirnya yang terbekap sewaktu aku mulai mencabut kukunya. Setelah sadar benar, barulah ia tampak panik. Meronta dalam ikatan.

Tubuhnya basah. Selain keringat, darah pun ngalir dari jemarinya. Aku tersenyum.

“Maaf, aku terpaksa melarikanmu diam-diam ke sini. Kau begitu mirip dengan orang yang kusuka.”

Ia tergugu sewaktu melihatku mengambil pemecah pensi. Aku mencium keningnya untuk menenangkan.

“Dia cantik sekaligus biadab. Membiarkan ayahnya mengambil tambakku. Membuat ibuku kelaparan. Sifat kalian pasti tak jauh beda.”

Aku menjepit jari kakinya sekuat tenaga. Lalu kupelintir hingga berderak.

“Ibuku tak bisa makan daging alot,” ujarku menunjuk sudut ruangan. Tempat sisa tubuh perempuan sebelumnya.

Lebih kurang 161 kata

Posted from WordPress for Android

Guci Abu Nenek Tian

Ling selalu merasa kalau dirinya bukanlah
bagian dari keluarga besar Tien. Pikiran
buruk tersebut makin sering bergaung di
liang kepalanya belakangan ini.

Keluarga besar Tien mahsyur akan paras
mereka yang rupawan. Bila ketampanan
para pria tak jauh dari kaisar Tiongkok,
maka kemolekan terpancar dari paras tiap
perempuan. Namun Ling tidak menemukan
hal tersebut pada dirinya. Rambut kaku, gigi
berantakan, bahkan warna kulitnya seolah
menyangkal kalau dirinya berdarah oriental.
Ketimpangan tersebut begitu menggangu
Ling.
Buktinya, meski dari tadi ia berusaha
menghapal bahan ulangan besok, tak satu
pun materi yang lekat di otaknya.

Ling
mengesah. Pandangannya terpancang pada
guci abu neneknya di altar sembahyang.
Nenek Tien adalah perempuan tercantik di
keluarga besar Tien. Bila Dewi Kwan Im
menjelma pada tubuh manusia, nenek Tien
orangnya. Waktu meninggal saja, banyak
pelayat berdatangan sekadar menatap rupa
terakhir nenek Tien.

Ling ingat. Dua hari lalu ia dan teman-
temannya diganggu anak-anak nakal
sepulang sekolah. Begundal-begundal cilik
tersebut menjambak rambut sampai
merampas uang teman-temannya.

Kecuali
Ling. Ia justru tidak diganggu sedikit pun.
Sewaktu melihat Ling, bocah-bocah
pengganggu tersebut justru tertawa remeh.
Mengingatnya, dada Ling panas. Ia
meremas buku pelajaran di pangkuannya.

Ling mengesah. Ia muak dengan perlakuan
orang terhadapnya. Meski keluarganya
sendiri tak pernah mempermasalahkan hal
tersebut, ia tetap merasa dirinya itik buruk
rupa.

Geming sekian lama, Ling beranjak dari
tempatnya duduk menuju altar
sembahyang. Dihelanya napas panjang.
Lantas Ling membuka guci abu nenek Tien.
Diraupnya sejumput abu kemudian ditepuk-
tepuknya sedikit sebelum diusapkan ke
muka bak memakai pupur. Ibu Ling yang
baru masuk memekik melihat kelakuan
anaknya.

“Apa yang kaulakukan, Ling!”

“Aku ingin cantik seperti yang lain, Bu,”
jawab Ling lembut. Kemudian ia mengambil
segenggam abu berikutnya dan
memasukkannya ke dalam mulut. Sesaat,
Ling merasa dirinya begitu cantik.

Posted from WordPress for Android

Lelaki Penakluk Kuda

image

Kisahnya sudah lama kudengar sebermula
aku tinggal di sini. Dari bibir-bibir gunjing,
aku baru tahu kalau sosoknya dikagumi
sekaligus dicaci.

Menurut Tante Surti-pemilik warung kopi-
lelaki penakluk kuda kerap berkeliaran di
jalan. Menangkap kuda-kuda liar ‘tuk
kemudian dijinakkan di istal miliknya.

“Di istal tersebut, kuda-kuda dimanjakan.
Diberi makanan enak, dipan empuk, hingga
kamar berpendingin ruangan,” imbuhnya
sembari menghembus asap rokok.

Jujur saja, mendengar celotehnya, mataku
berbinar. Sudah lama aku tidur hanya
beralas kardus. Waktu kutanya di mana
letak istal tersebut-sekadar ingin tahu-
Tante Surti malah melirikku dari atas hingga
bawah. Ia membuang linting rokok lalu
melangkah ke dalam sambil terkekeh.

Satu hari, koran-koranku tidak laku terjual.
Aku duduk memeluk lutut dengan perut
lapar di bawah jembatan layang. Langit
menumpahkan hujan meski tak lebat.
Rintiknya tak kunjung reda hingga senja.
Aku baru beranjak pergi saat sebuah mobil
berhenti. Seorang pria berkalung cemeti
turun dan mengajakku pergi. Seperti
dihipnotis, aku menurut. Saat melihat isi
mobilnya, sadarlah aku dialah si lelaki
penakluk kuda.

Kediamannya buatku tercengang-cengang.
Beberapa kuda bebas berkeliaran di ruang
tamu sambil ditunggangi perempuan-
perempuan berwajah menor. Salah satunya
malah pernah kubaca di koran sebagai
wanita pemarah yang suka berfoto di
instagram.

“Mengapa anda membawaku ke sini?”
tanyaku saat ia menarikku ke sebuah
ruangan.

Ia tersenyum, meletakkan
cemetinya lalu berjalan mendekat. Aku
melangkah mundur. Jantungku berderap
seperti tapak kuda.
Tiba-tiba dibalikkannya tubuhku dan
didorong hingga ke dinding. Di telinga, ia
berbisik.

“Aku butuh kuda baru. Tapi sebelumnya,
aku harus memeriksa kondisi kudaku dulu.”

Perlahan, diturunkannya celanaku. Aku
berteriak, tapi yang keluar dari mulutku
justru suara ringkikkan kuda.

Posted from WordPress for Android

Di Bawah Kaki Ibu

mother's foot
credit

“Surga di bawah kaki ibu.”

Aku mencibir. Entah kali ke berapa guruku mengulang kalimat tersebut. Mengingat kelakuan ibu, ingin rasanya mengacung tangan protes. Ibu kerap pulang larut sambil memeluk pria berbeda. Tubuhnya, uh, bau minuman keras campur rokok. Tempeleng kerap singgah bila telat membuka pintu.

Malamnya, kuputuskan mengiris telapak kaki ibu. Menguak untuk membuktikan kebenaran. Wajahku malah ditampar hawa panas. Bara api meloncat ingin bebas. Gegas kujahit kembali.

Aku berpikir, jika tak bisa menyucikan ibu, cukuplah kakinya.

Aku mengambil ember, membasuh kaki ibu dengan bening air. Kulap sisa air. Lalu perlahan mengiris kaki ibu. Tak ingin kaki tersebut kembali ternoda.

100 Kata. Tema: Absurditas

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Pesan Terakhir

hiroshima
credit

Saizu mengerjapkan mata. Terbatuk, dirinya berusaha bangkit dengan perih memeluk tubuh. Langit pekat. Tertutup debu yang melingkup hingga angkasa. Kepalanya pusing.

Samar, Saizu ingat. Sekolah usai, dia berjalan riang menuju rumah. Saizu menggumam heran kala di kejauhan sebuah pesawat menjatuhkan sesuatu. Lalu bumi guncang. Asap bumbung ke atas membentuk cendawan raksasa. Angin kuat menghempas tubuhnya.

Saizu mengisak. Melangkah terseok di antara gelimpangan mayat. Ibunya menunggu di muka rumah yang runtuh. Sembari memeluk Saizu, ibunya berbisik.

“Tabahlah, Nak. Kita sedang diuji. Cari guru dan muliakan. Bangsa kita kan kembali genggam dunia.”

Perlahan, kulit ibunya mengelupas. Meluruh, lalu pecah terbang ke langit.

100 Kata. Tema: Genosida

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Mata Dimas

boy eyes
credit

Berbekal secarik alamat, kumasuki gang kumuh. Tiga hari Dimas tidak masuk. Siswa bermata tajam namun rapuh. Dimas sering dipanggil berandal sekolah. Sebagai wali kelas, kewajibanku cari tahu.

Rumah atau warung?

Rumah di depanku semarak diterangi lampu. Musik dangdut mengalun kencang. Perempuan bergincu tebal mendekatiku.

“Cari siapa?”

“Dimas?”

Ia menoleh ke sudut. Mataku dan Dimas berserobok. Dimas mendekat.

“Kemana saja? Ibumu ada?”

Ditunjuknya perempuan tadi yang kini sibuk mencium pipi tiap lelaki yang masuk. Dimas merunduk, mukanya merah. Baki di tangannya penuh botol minuman keras. Kuangkat wajahnya. Menatap mata beningnya, baru kupaham luka yang ia simpan.

“Aku cuma ingin berbakti, Bu.”

100 Kata. Tema: Mata Lelaki

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Pecut Pelacur

pelacur
credit

Ibuku pelacur, aku juga. Belakangan, ibu tak sanggup lagi melacur.

“Klienmu malam nanti. Perlakuan khusus.”

Mataku mengerjap menatap potret dari bos besar. Aku tersenyum tak sabar.

#

“Bagaimana kalau kau di posisiku?”

Klienku berhenti membuka kemeja. Menyungging senyum, tertarik mencoba sensasi baru. Aku mengebat tangan dan kakinya ke tiang ranjang.

Berbalut lingerie, aku meliukkan tubuh di hadapannya. Naik ke ranjang, kupecut lembut tubuhnya. Menjambak rambut klimisnya. Lamat tapi pasti, pusakanya bangkit. Dideguknya  ludah, mukanya memerah.

“Lastri, kau ingat nama itu?” Wajahnya berubah pasi. “Dia, ibuku!”

Kuayunkan cambuk sekuat tenaga, berulang kali. Hingga balur melintang menghias tubuhnya. Persis seperti perlakuannya pada ibu.

100 Kata tanpa tanda #

Tema: Parafilia

Diikutsertakan dalam #FF100Kata