Guci Abu Nenek Tian

Ling selalu merasa kalau dirinya bukanlah
bagian dari keluarga besar Tien. Pikiran
buruk tersebut makin sering bergaung di
liang kepalanya belakangan ini.

Keluarga besar Tien mahsyur akan paras
mereka yang rupawan. Bila ketampanan
para pria tak jauh dari kaisar Tiongkok,
maka kemolekan terpancar dari paras tiap
perempuan. Namun Ling tidak menemukan
hal tersebut pada dirinya. Rambut kaku, gigi
berantakan, bahkan warna kulitnya seolah
menyangkal kalau dirinya berdarah oriental.
Ketimpangan tersebut begitu menggangu
Ling.
Buktinya, meski dari tadi ia berusaha
menghapal bahan ulangan besok, tak satu
pun materi yang lekat di otaknya.

Ling
mengesah. Pandangannya terpancang pada
guci abu neneknya di altar sembahyang.
Nenek Tien adalah perempuan tercantik di
keluarga besar Tien. Bila Dewi Kwan Im
menjelma pada tubuh manusia, nenek Tien
orangnya. Waktu meninggal saja, banyak
pelayat berdatangan sekadar menatap rupa
terakhir nenek Tien.

Ling ingat. Dua hari lalu ia dan teman-
temannya diganggu anak-anak nakal
sepulang sekolah. Begundal-begundal cilik
tersebut menjambak rambut sampai
merampas uang teman-temannya.

Kecuali
Ling. Ia justru tidak diganggu sedikit pun.
Sewaktu melihat Ling, bocah-bocah
pengganggu tersebut justru tertawa remeh.
Mengingatnya, dada Ling panas. Ia
meremas buku pelajaran di pangkuannya.

Ling mengesah. Ia muak dengan perlakuan
orang terhadapnya. Meski keluarganya
sendiri tak pernah mempermasalahkan hal
tersebut, ia tetap merasa dirinya itik buruk
rupa.

Geming sekian lama, Ling beranjak dari
tempatnya duduk menuju altar
sembahyang. Dihelanya napas panjang.
Lantas Ling membuka guci abu nenek Tien.
Diraupnya sejumput abu kemudian ditepuk-
tepuknya sedikit sebelum diusapkan ke
muka bak memakai pupur. Ibu Ling yang
baru masuk memekik melihat kelakuan
anaknya.

“Apa yang kaulakukan, Ling!”

“Aku ingin cantik seperti yang lain, Bu,”
jawab Ling lembut. Kemudian ia mengambil
segenggam abu berikutnya dan
memasukkannya ke dalam mulut. Sesaat,
Ling merasa dirinya begitu cantik.

Posted from WordPress for Android

Lelaki Penakluk Kuda

image

Kisahnya sudah lama kudengar sebermula
aku tinggal di sini. Dari bibir-bibir gunjing,
aku baru tahu kalau sosoknya dikagumi
sekaligus dicaci.

Menurut Tante Surti-pemilik warung kopi-
lelaki penakluk kuda kerap berkeliaran di
jalan. Menangkap kuda-kuda liar ‘tuk
kemudian dijinakkan di istal miliknya.

“Di istal tersebut, kuda-kuda dimanjakan.
Diberi makanan enak, dipan empuk, hingga
kamar berpendingin ruangan,” imbuhnya
sembari menghembus asap rokok.

Jujur saja, mendengar celotehnya, mataku
berbinar. Sudah lama aku tidur hanya
beralas kardus. Waktu kutanya di mana
letak istal tersebut-sekadar ingin tahu-
Tante Surti malah melirikku dari atas hingga
bawah. Ia membuang linting rokok lalu
melangkah ke dalam sambil terkekeh.

Satu hari, koran-koranku tidak laku terjual.
Aku duduk memeluk lutut dengan perut
lapar di bawah jembatan layang. Langit
menumpahkan hujan meski tak lebat.
Rintiknya tak kunjung reda hingga senja.
Aku baru beranjak pergi saat sebuah mobil
berhenti. Seorang pria berkalung cemeti
turun dan mengajakku pergi. Seperti
dihipnotis, aku menurut. Saat melihat isi
mobilnya, sadarlah aku dialah si lelaki
penakluk kuda.

Kediamannya buatku tercengang-cengang.
Beberapa kuda bebas berkeliaran di ruang
tamu sambil ditunggangi perempuan-
perempuan berwajah menor. Salah satunya
malah pernah kubaca di koran sebagai
wanita pemarah yang suka berfoto di
instagram.

“Mengapa anda membawaku ke sini?”
tanyaku saat ia menarikku ke sebuah
ruangan.

Ia tersenyum, meletakkan
cemetinya lalu berjalan mendekat. Aku
melangkah mundur. Jantungku berderap
seperti tapak kuda.
Tiba-tiba dibalikkannya tubuhku dan
didorong hingga ke dinding. Di telinga, ia
berbisik.

“Aku butuh kuda baru. Tapi sebelumnya,
aku harus memeriksa kondisi kudaku dulu.”

Perlahan, diturunkannya celanaku. Aku
berteriak, tapi yang keluar dari mulutku
justru suara ringkikkan kuda.

Posted from WordPress for Android