Di Bawah Kaki Ibu

mother's foot
credit

“Surga di bawah kaki ibu.”

Aku mencibir. Entah kali ke berapa guruku mengulang kalimat tersebut. Mengingat kelakuan ibu, ingin rasanya mengacung tangan protes. Ibu kerap pulang larut sambil memeluk pria berbeda. Tubuhnya, uh, bau minuman keras campur rokok. Tempeleng kerap singgah bila telat membuka pintu.

Malamnya, kuputuskan mengiris telapak kaki ibu. Menguak untuk membuktikan kebenaran. Wajahku malah ditampar hawa panas. Bara api meloncat ingin bebas. Gegas kujahit kembali.

Aku berpikir, jika tak bisa menyucikan ibu, cukuplah kakinya.

Aku mengambil ember, membasuh kaki ibu dengan bening air. Kulap sisa air. Lalu perlahan mengiris kaki ibu. Tak ingin kaki tersebut kembali ternoda.

100 Kata. Tema: Absurditas

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Pesan Terakhir

hiroshima
credit

Saizu mengerjapkan mata. Terbatuk, dirinya berusaha bangkit dengan perih memeluk tubuh. Langit pekat. Tertutup debu yang melingkup hingga angkasa. Kepalanya pusing.

Samar, Saizu ingat. Sekolah usai, dia berjalan riang menuju rumah. Saizu menggumam heran kala di kejauhan sebuah pesawat menjatuhkan sesuatu. Lalu bumi guncang. Asap bumbung ke atas membentuk cendawan raksasa. Angin kuat menghempas tubuhnya.

Saizu mengisak. Melangkah terseok di antara gelimpangan mayat. Ibunya menunggu di muka rumah yang runtuh. Sembari memeluk Saizu, ibunya berbisik.

“Tabahlah, Nak. Kita sedang diuji. Cari guru dan muliakan. Bangsa kita kan kembali genggam dunia.”

Perlahan, kulit ibunya mengelupas. Meluruh, lalu pecah terbang ke langit.

100 Kata. Tema: Genosida

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Mata Dimas

boy eyes
credit

Berbekal secarik alamat, kumasuki gang kumuh. Tiga hari Dimas tidak masuk. Siswa bermata tajam namun rapuh. Dimas sering dipanggil berandal sekolah. Sebagai wali kelas, kewajibanku cari tahu.

Rumah atau warung?

Rumah di depanku semarak diterangi lampu. Musik dangdut mengalun kencang. Perempuan bergincu tebal mendekatiku.

“Cari siapa?”

“Dimas?”

Ia menoleh ke sudut. Mataku dan Dimas berserobok. Dimas mendekat.

“Kemana saja? Ibumu ada?”

Ditunjuknya perempuan tadi yang kini sibuk mencium pipi tiap lelaki yang masuk. Dimas merunduk, mukanya merah. Baki di tangannya penuh botol minuman keras. Kuangkat wajahnya. Menatap mata beningnya, baru kupaham luka yang ia simpan.

“Aku cuma ingin berbakti, Bu.”

100 Kata. Tema: Mata Lelaki

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Pecut Pelacur

pelacur
credit

Ibuku pelacur, aku juga. Belakangan, ibu tak sanggup lagi melacur.

“Klienmu malam nanti. Perlakuan khusus.”

Mataku mengerjap menatap potret dari bos besar. Aku tersenyum tak sabar.

#

“Bagaimana kalau kau di posisiku?”

Klienku berhenti membuka kemeja. Menyungging senyum, tertarik mencoba sensasi baru. Aku mengebat tangan dan kakinya ke tiang ranjang.

Berbalut lingerie, aku meliukkan tubuh di hadapannya. Naik ke ranjang, kupecut lembut tubuhnya. Menjambak rambut klimisnya. Lamat tapi pasti, pusakanya bangkit. Dideguknya  ludah, mukanya memerah.

“Lastri, kau ingat nama itu?” Wajahnya berubah pasi. “Dia, ibuku!”

Kuayunkan cambuk sekuat tenaga, berulang kali. Hingga balur melintang menghias tubuhnya. Persis seperti perlakuannya pada ibu.

100 Kata tanpa tanda #

Tema: Parafilia

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Titi Pertamaku

mentawai tatto
credit

Aku turun dari pompong dengan hati-hati. Masih limbung, sisa mabuk laut tadi. Tiap datang ke Pulau Siberut, sambutan ombak selalu berbeda. Pantas dunia terpikat menaklukkanya dengan berselancar. Tampak sosokku, Tutulu melambaikan tangan dari atas uma. Aku tersenyum lebar.

Keputusanku menikah dengan wanita suku Mentawai bukan tanpa golakan. Namun aku kadung menyayangi Tarampa yang kukenal kala meneliti kebudayaan mereka.

Sebelumnya babi dan ayam disembelih dengan upacara. Sipatiti meruncingkan kayu arai, pengganti jarum. Jelaga damar bercampur tebu dilumurkan pada kayu pentato. Perih, kulitku ditotok membentuk galur tertentu. Aku tersenyum pada Tarampa.

“Ini bukti cintaku padamu. Meski dengan begitu, kutinggalkan semua yang kumiliki.”

100 kata Tema: Tato

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Keterangan:

Titi: sebutan tato dalam suku Mentawai

Pompong: perahu tradisional suku Mentawai

Uma: rumah tradisional suku Mentawai

Sipatiti: pembuat tato pada suku Mentawai

 

Tinggal Kami

african woman
credit

Jakinda dan Anoki tertidur dalam dekapan Benquasha. Benquasha membelai rambut keduanya sambil coba tetap terjaga. Kedua anaknya belakangan tidur tak nyenyak. Dihantui pikiran kan kematian tiba menyambang.

Penyakit aneh membusai di desa mereka. Dari sela bambu penyusun gubuk, Benquasha melihat mayat bergelimpangan. Bercak darah mengerak di tubuh mereka.

Benquasha heran. Kemarin waktu, beberapa orang berpakaian serba tertutup memeriksa desa. Mengambil sesuatu dari tubuh mayat dan janji kembali. Tapi, mana mereka?

Dua anaknya bangun. Benquasha menenangkan kembali mereka. Namun kedua anaknya justru mengisak. Melihat darah mengucur dari mata, hidung, hingga telinga Benquasha. Mengalir di kulit hitamnya. Benquasha makin erat memeluk anaknya.

100 Kata

Tema: Virus

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Ayah Telepon

ringing phone
credit

Dering telepon menyentak Danar. Dihentikannya menganalisis grafik perusahaan. Danar diam, tahu siapa yang menelepon. Beberapa dering, baru telepon diangkatnya.

“Halo, Danar. Apa kabar, Nak? Kalau kabar istriku? Kudengar dia sakit? Em, mungkin sedikit merepotkan, Ayah ingin pinjam uang, Nak. Tidak besar, hanya …”

Danar membanting telepon. Berani-beraninya dia menyebut ‘istriku’ pada Ibu! Dia melirik sosok di atas dipan. Dihampirinya dipan, lalu menunduk, memperbaiki selimut yang terbuka.

“Jika bukan karena pesanmu untuk memaafkan, mungkin sudah kusambangi Jahanam yang satu itu, Bu.”

Danar mengecup kening ibunya, kembali berdiri. Mendadak air matanya ngalir. Menitik di atas tubuh ibunya yang meninggal dua hari lalu.

100 Kata

Tema: Ayah

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Melahirkan Api

born of fire
credit

Biasa hening, sebuah rumah tua mendadak bising. Beberapa hari belakang, seorang perempuan mengisi satu sudut kumuh rumah tua tersebut.

Rambutnya masai. Meski berlumur daki, parasnya dulu sungguhnya cantik. Namun matanya, duh, berkobar api siap membakar. Dia sibuk menenangkan bayinya yang menangis.

“Ssh.. Ssh.. Diamlah, Nak,” bisiknya sabar ke telinga bayi.

Sembari menggendong bayi, tangan lainnya membuka air mineral. Diangsurkannya ke mulut bayi yang mengeak. Payudaranya telah lama tak berair, kering tak bersusu. Kelar melepas dahaga, diangkatnya bayi menghadap foto usang lelaki yang ditempel di dinding.

“Ingatlah wajah itu, Nak. Kelak jika kau dewasa, temukan dia. Habisi dia. Karena namamu, Dendam.”

100 Kata

Tema: Bayi

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Gasing Tengkorak

gasing, gasing movement
credit

Sudir mengayunkan pangkur pada tanah gembur. Ayunan sekian kali, pangkur menyentuh sesuatu. Gegas dikeruknya tanah dengan ujung kuku.

Berbinar dalam temaram mata Sudir melihat mayat tanpa balutan daging. Dihelanya tulang tengkorak. Berderak tulang leher yang menyambung tengkorak.

Sudir memberikan tengkorak pada Dasun yang menunggu di dekatnya. Sembari menggenggam tengkorak, Dasun mengeluarkan seutas tali. Diikatnya ke tengkorak, dirapalnya mantra. Setelah cukup, Dasun melemparnya ke tanah. Tengkorak berputar bak gasing.

Puluhan depa dari pekuburan, rumah wali nagari mendadak gaduh. Anis memekik tak henti, mencakar dinding. Kukunya mengucur darah. Meski ditahan, Anis berkeras ke luar. Satu nama berulang dari lisannya. “Sudir, aku mencintaimu.”

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Drama Rajo nan Panjang

credit

“Katanya, pacarmu, Fadli, ada main dengan Elfina, pemeran Narawatu!”

“Oh.”

Aku berusaha tampak tak acuh, meski sebenarnya geram. Gunjing tersebut sudah lama kudengar, sejak pertemuan ketiga latihan drama kami.

Serupa dengan perannya sebagai Rajo nan Panjang, dia gemar tebar pesona. Bukan kali pertama dalam hubungan empat tahun kami, dia diisukan dengan wanita lain.

Amarahku puncak, namun kutunggu waktu pementasan tiba. Satu adegan menguntungkanku.

“Kalau kau tak percaya Sabai, bunuhlah aku!” Dia merentangkan tangannya.

“Uda pembunuh!” Kuayunkan lading ke lehernya. Properti panggung yang telah kutukar sebelumnya.

Penonton memekik. Aku tegak dengan kepuasan tak hingga. Kujilati percikan darah yang hinggap di bibir.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Panggung Orgen Tunggal

singer on stage
credit

“Mentas lagi, Nur?”

“Ada alek di kampung sebelah, Da.” Aku memeriksa dandananku.

“Tak bisakah kau tinggalkan, Nur? Risih rasanya membayangkan kau bernyanyi di panggung sementara para pria merubungmu.”

“Kalau begitu, carikan nafkah untukku.”

Aku melirik satu kakinya yang pengkor. Ia menunduk, mengesah.

“Bukan untukku, demi Rahimi. Dia malu mendengar ibunya bersama pria lain di atas panggung.”

“Jangan bawa dia! Selesai!” Aku mengambil tas selempangku. Beranjak keluar.

Malam larut, tapi panggung makin panas. Kutarik resleting hingga belah dada mengilat terlihat. Pertengahan lagu, mataku berserobok dengan dua pasang mata kosong di bagian penonton. Sejak malam itu, suami dan anakku tak kembali lagi.

Ket:

Alek: pernikahan

100 kata tak termasuk keterangan

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Kopi Pahit Terakhir

a glass of coffe
credit

Sudir termenung di depan kontrakan. Gelas berisi kopi yang sedari tadi dipegang, hanya tinggal ampas. Matanya kosong mengingat percakapan lampau.

“Jangankan beras, beli gula saja uang tak ada. Kalau tetap ingin mengopi, kubuatkan tanpa gula ya?”

“Buatlah. Daripada lidahku sepat.”

“Makanya, cari kerja lain Da. Setia kali dimandori Pak Lambau.”

Tadi pagi, Siti membuatkannya kopi.

“Mungkin, ini kopi tanpa gula terakhir.”

Sudir girang. Dapat pinjaman lagi?

Kini kegembiraannya lesap. Lembaran uang di atas meja hanya dilirik tanpa minat. Ia teguk ampas kopi dalam gelas. Pahit. Seperti suara rintihan istrinya yang ia dengar di kamar, ditimpal suara lain. Suara Pak Lambau.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata