Tahi Lalat Sang Calon Bupati

Gustian memerhatikan lewat cermin. Keningnya berkerut. Dirasainya ada yang berbeda. Sembari mendecak, tangannya berusaha meraba punggungnya.
“Aneh, kenapa di punggungku sekarang tahi lalatnya bertambah banyak?” Gustian merenung. Namun kemudian ia tak ambil pusing. Ia buru-buru. Hari ini ada acara penting.

Sebagai calon bupati, jadwalnya cukup padat. Selain berpidato di beberapa tempat, ia juga mesti mengikuti kegiatan yang diadakan partai yang mengusungnya. Semisal, memberi bantuan pada korban bencana,  berdialog dengan pedagang di pasar, atau berdiskusi dengan para pemuka agama. Semuanya ia lakukan untuk pencitraan. Ia pun tak perlu khawatir akan pidato yang harus ia sampaikan. Sekretarisnya selalu melakukan tugasnya dengan baik. Menabur kata manis dalam tiap pidatonya, seperti yang ia harapkan.

Pagi itu Gustian mesti berdialog dengan masyarakat, tapi entah mengapa sedari tadi mulutnya begitu perih. Belum lagi tahi lalat yang menyubur di tubuhnya. Semuanya membuat ia gelisah. Dipanggilnya sekretaris. Sekretarisnya memekik saat Gustian membuka mulut.
“Astaga! Lidah Bapak penuh bercak hitam seperti tahi lalat. Beberapa bernanah dan menguarkan bau busuk!”

Lebih kurang 161 kata tanpa judul.
Untuk @bookaholicfund tema Tahi Lalat.

Posted from WordPress for Android

Perempuan Berparas Sama

image

Aku melempar kailku jauh ke tengah. Sepagi ini, Danau Maninjau masih dilalap kabut. Sengaja pura-pura memancing untuk menunggu kedatangannya.

Ia melangkah perlahan di atas dermaga kecil, mencelupkan kakinya tanpa peduli dinginnya air. Namanya Dwita. Menurut empunya home stay, pemilik paras yang selalu tampak gundah itu dari Jakarta. Mungkin menyepi dari sesuatu.

Yang membuatku pias adalah hari ini kepulangannya. Duh, bagaimana ini?

#

Suara lirih menyusup dari sela bibirnya yang terbekap sewaktu aku mulai mencabut kukunya. Setelah sadar benar, barulah ia tampak panik. Meronta dalam ikatan.

Tubuhnya basah. Selain keringat, darah pun ngalir dari jemarinya. Aku tersenyum.

“Maaf, aku terpaksa melarikanmu diam-diam ke sini. Kau begitu mirip dengan orang yang kusuka.”

Ia tergugu sewaktu melihatku mengambil pemecah pensi. Aku mencium keningnya untuk menenangkan.

“Dia cantik sekaligus biadab. Membiarkan ayahnya mengambil tambakku. Membuat ibuku kelaparan. Sifat kalian pasti tak jauh beda.”

Aku menjepit jari kakinya sekuat tenaga. Lalu kupelintir hingga berderak.

“Ibuku tak bisa makan daging alot,” ujarku menunjuk sudut ruangan. Tempat sisa tubuh perempuan sebelumnya.

Lebih kurang 161 kata

Posted from WordPress for Android