Sepasang Mata yang Menatap dari Selangkangan Istriku 

“Bang, matikan lampunya ya.”

Aku menurut. Dua minggu kunikahi, tak pernah mau lampu dihidupkan tengah kami bercinta. Entah mengapa.

***

“Kenapa harus dimatikan sih, Dik?” Aku meletakkan kepala di perutnya, masih bermandikan peluh.

“Ajaran Nenek, menghemat minyak.”

“Tapi kan kita pakai listrik. Pun, ia sudah tiada. Tewas dalam kebakaran katamu.”

Istriku diam, melebarkan pahanya perlahan. Sinar bulan yang menyusup ke arah cermin menjawab semuanya. 

Dalam keremangan, dari selangkangan istriku, tampak sepasang mata menatap. Mata menguning dengan iris kemerahan. Seperti mengancam, seperti menyimpan dendam.

“Nenek tidak pernah pergi, Bang. Tidak pernah,” bisiknya di telingaku sambil mengikik. Kuku panjangnya memusut leherku, perih.

——-

Flashfiction 100 kata tidak termasuk judul, untuk #HororisCausa

Warung Bakso Mak Indun

Tiba-tiba nama Mak Indun ramai diperbincangkan. Sejak ia kembali dari entah, lantas membuka warung bakso, warga kampung berebut membeli baksonya. Sementara yang meletus dari bibir pembeli kebanyakan bernilai baik. Beberapa orang beranggapan, kepergian Mak Indun beberapa tahun lalu berbuah resep bakso sakti.

Aku mengamati panjangnya antrean di warung bakso Mak Indun. Ingin rasanya turut mencicip, tapi istriku bersikeras melarangku merasainya.

“Tak kah kau pikir ada apa-apanya? Coba kau ingat sebab kepergiannya!”

Ah, iya. Sewaktu Mak Indun pergi pun menimbulkan geger. Ia dipaksa pergi dari kampung. Beberapa warga menuduhnya mempraktikkan ilmu hitam tersebab banyak bayi yang meninggal mendadak. Dan semua petunjuk mengarah kepadanya. Mak Indun pergi dengan amarah yang memercik dari sudut matanya. Meskipun kemudian  terbukti tak benar, heran juga warga yang membeli bakso Mak Indun tak pernah mempermasalahkannya.

Aku mengendap di dekat dapur Mak Indun. Mengintip sekadar membuktikan kebenaran ucapan istriku. Kulihat Mak Indun berdiri mengangkang di atas panci bakso. Ia mengangkat sarungnya hingga ke lutut. Bunyi gemericik terdengar seiring air yang mengucur dari selangkangnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam panci, barulah parasnya memancarkan kepuasan.

Untuk #MFF

Guci Abu Nenek Tian

Ling selalu merasa kalau dirinya bukanlah
bagian dari keluarga besar Tien. Pikiran
buruk tersebut makin sering bergaung di
liang kepalanya belakangan ini.

Keluarga besar Tien mahsyur akan paras
mereka yang rupawan. Bila ketampanan
para pria tak jauh dari kaisar Tiongkok,
maka kemolekan terpancar dari paras tiap
perempuan. Namun Ling tidak menemukan
hal tersebut pada dirinya. Rambut kaku, gigi
berantakan, bahkan warna kulitnya seolah
menyangkal kalau dirinya berdarah oriental.
Ketimpangan tersebut begitu menggangu
Ling.
Buktinya, meski dari tadi ia berusaha
menghapal bahan ulangan besok, tak satu
pun materi yang lekat di otaknya.

Ling
mengesah. Pandangannya terpancang pada
guci abu neneknya di altar sembahyang.
Nenek Tien adalah perempuan tercantik di
keluarga besar Tien. Bila Dewi Kwan Im
menjelma pada tubuh manusia, nenek Tien
orangnya. Waktu meninggal saja, banyak
pelayat berdatangan sekadar menatap rupa
terakhir nenek Tien.

Ling ingat. Dua hari lalu ia dan teman-
temannya diganggu anak-anak nakal
sepulang sekolah. Begundal-begundal cilik
tersebut menjambak rambut sampai
merampas uang teman-temannya.

Kecuali
Ling. Ia justru tidak diganggu sedikit pun.
Sewaktu melihat Ling, bocah-bocah
pengganggu tersebut justru tertawa remeh.
Mengingatnya, dada Ling panas. Ia
meremas buku pelajaran di pangkuannya.

Ling mengesah. Ia muak dengan perlakuan
orang terhadapnya. Meski keluarganya
sendiri tak pernah mempermasalahkan hal
tersebut, ia tetap merasa dirinya itik buruk
rupa.

Geming sekian lama, Ling beranjak dari
tempatnya duduk menuju altar
sembahyang. Dihelanya napas panjang.
Lantas Ling membuka guci abu nenek Tien.
Diraupnya sejumput abu kemudian ditepuk-
tepuknya sedikit sebelum diusapkan ke
muka bak memakai pupur. Ibu Ling yang
baru masuk memekik melihat kelakuan
anaknya.

“Apa yang kaulakukan, Ling!”

“Aku ingin cantik seperti yang lain, Bu,”
jawab Ling lembut. Kemudian ia mengambil
segenggam abu berikutnya dan
memasukkannya ke dalam mulut. Sesaat,
Ling merasa dirinya begitu cantik.

Posted from WordPress for Android

Lelaki Penakluk Kuda

image

Kisahnya sudah lama kudengar sebermula
aku tinggal di sini. Dari bibir-bibir gunjing,
aku baru tahu kalau sosoknya dikagumi
sekaligus dicaci.

Menurut Tante Surti-pemilik warung kopi-
lelaki penakluk kuda kerap berkeliaran di
jalan. Menangkap kuda-kuda liar ‘tuk
kemudian dijinakkan di istal miliknya.

“Di istal tersebut, kuda-kuda dimanjakan.
Diberi makanan enak, dipan empuk, hingga
kamar berpendingin ruangan,” imbuhnya
sembari menghembus asap rokok.

Jujur saja, mendengar celotehnya, mataku
berbinar. Sudah lama aku tidur hanya
beralas kardus. Waktu kutanya di mana
letak istal tersebut-sekadar ingin tahu-
Tante Surti malah melirikku dari atas hingga
bawah. Ia membuang linting rokok lalu
melangkah ke dalam sambil terkekeh.

Satu hari, koran-koranku tidak laku terjual.
Aku duduk memeluk lutut dengan perut
lapar di bawah jembatan layang. Langit
menumpahkan hujan meski tak lebat.
Rintiknya tak kunjung reda hingga senja.
Aku baru beranjak pergi saat sebuah mobil
berhenti. Seorang pria berkalung cemeti
turun dan mengajakku pergi. Seperti
dihipnotis, aku menurut. Saat melihat isi
mobilnya, sadarlah aku dialah si lelaki
penakluk kuda.

Kediamannya buatku tercengang-cengang.
Beberapa kuda bebas berkeliaran di ruang
tamu sambil ditunggangi perempuan-
perempuan berwajah menor. Salah satunya
malah pernah kubaca di koran sebagai
wanita pemarah yang suka berfoto di
instagram.

“Mengapa anda membawaku ke sini?”
tanyaku saat ia menarikku ke sebuah
ruangan.

Ia tersenyum, meletakkan
cemetinya lalu berjalan mendekat. Aku
melangkah mundur. Jantungku berderap
seperti tapak kuda.
Tiba-tiba dibalikkannya tubuhku dan
didorong hingga ke dinding. Di telinga, ia
berbisik.

“Aku butuh kuda baru. Tapi sebelumnya,
aku harus memeriksa kondisi kudaku dulu.”

Perlahan, diturunkannya celanaku. Aku
berteriak, tapi yang keluar dari mulutku
justru suara ringkikkan kuda.

Posted from WordPress for Android

Kopi Pahit Terakhir

a glass of coffe
credit

Sudir termenung di depan kontrakan. Gelas berisi kopi yang sedari tadi dipegang, hanya tinggal ampas. Matanya kosong mengingat percakapan lampau.

“Jangankan beras, beli gula saja uang tak ada. Kalau tetap ingin mengopi, kubuatkan tanpa gula ya?”

“Buatlah. Daripada lidahku sepat.”

“Makanya, cari kerja lain Da. Setia kali dimandori Pak Lambau.”

Tadi pagi, Siti membuatkannya kopi.

“Mungkin, ini kopi tanpa gula terakhir.”

Sudir girang. Dapat pinjaman lagi?

Kini kegembiraannya lesap. Lembaran uang di atas meja hanya dilirik tanpa minat. Ia teguk ampas kopi dalam gelas. Pahit. Seperti suara rintihan istrinya yang ia dengar di kamar, ditimpal suara lain. Suara Pak Lambau.

100 kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Sebelas Juta

“Tak bisakah dikurangi jumlah uang jemputan itu, Da?”

“Mamak-mamakku bersikeras, Dik. Biarlah aku membujang bila tak ada yang sanggup menebusnya. Begitu keputusannya.”

“Tapi mereka kan tahu, orang tuaku tidak berpunya. Jangankan sebelas juta, untuk makan sehari saja mesti berkuras keringat dari pagi hingga petang.”

“Aku sudah menjelaskan pada mereka. Apa mau dikata, selama ini biaya hidupku mereka yang tanggung. Segan rasanya.”

“Kalau begitu, biar kucari cara.”

Mata para mamak Uda Gusri berbinar kala kusorongkan koper ke hadapan mereka.

“Isi koper ini, sebelas juta kukira.”

Salah satu mamak membuka koper lalu terkesiap, saat melihat ginjal berlumur darah di dalamnya. Ginjalku.

100kata

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Pemenang Giveaway Si Sulung

Hai, hai, hallo. Apa kabar sahabat blogger? Semoga masih semangat puasanya bagi yang menjalankan. Oke, ini dia yang sudah sahabat tunggu-tunggu. Pengumuman pemenang Giveaway Si Sulung. Sebelumnya saya mau minta maaf karena proses penjurian yang (mungkin) menurut sahabat terlalu lama. Tapi mau bagaimana lagi, di bulan puasa ini saya tetap sekolah dan mesti mengawasi anak-anak pesantren ramadhan. Jadi waktu luang juga makin sedikit. Ditambah lagi, laptop sudah tidak ada. Terpaksa lah membaca karya teman-teman saat ada laptop teman yang nganggur. Hehe. Harap maklum, ya.  🙂 Oh ya, sedikit menjelaskan bahwa saya sengaja tidak meninggalkan komentar di tulisan-tulisan sahabat. Saya sengaja hanya mengopi tulisannya kemudian memindahkannya ke Word. Ribet? Sedikit, tapi itu sengaja saya lakukan demi menjaga keobjektifan penilaian. Soalnya saya kadang suka terpengaruh dengan komentar-komentar yang saya baca di tulisannya. :mrgreen: Oke, langsung aja ya.

Pemenang kategori non fiksi

1. Tentang pelajaran ini, semoga kamu mengingatnya Nak. Kenapa saya pilih yang ini? Karena menurut saya dalam mendidik memang agamalah yang memegang peranan penting. Sebab agamalah yang akan memandu seorang anak hingga ia dewasa kelak. Dan pendidikan agama itu memang harus diajarkan sejak dini, bukan?

2. Terjemahkan dengan gambar. Saya memilih yang ini karena metode yang digunakannya dalam mendidik/mengajar seorang anak sangat menarik. Ia mengajarkan anak-anak untuk menggunakan gambar dalam mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Mendidik memang perlu proses kreatif, bukan?

Pemenang kategori fiksi

1. Doa Senja. Ah, saya rasa sahabat pun setuju kalau saya mendaulat tulisan Mbak Orin ini sebagai pemenang pertama. Betapa tidak, saya selalu menyukai cara bertuturnya yang manis serta tema-tema kesederhanaan yang ia angkat.

2. Dua lelaki dan tentang cinta. FF yang tidak biasa, karena hanya terdiri dari beberapa untaian kalimat. Selintas memang hanya seperti penggalan-penggalan kalimat, tapi saya menyukai twist yang ia sisipkan di akhir cerita. Selamat ya, Mas Irfan.

Oke, jadi itulah nama-nama pemenangnya. Yang belum beruntun, jangan kecewa ya. Doain saya banyak rezeki jadi bisa sering-sering ngadain giveaway lagi. :mrgreen:

Buat para pemenang pertama, silakan kirim alamat masing-masing ke zack_joys@yahoo.com dengan subjek Pemenang Giveaway.  Dan sekali lagi mohon maaf, mungkin hadiah baru bisa dikirim setelah Idul Fitri karena saya akan pulang kampung juga. Sedangkan untuk pemenang kedua, silakan kirim nomor hape masing-masing lewat pesan di facebook atau DM di twitter saya. Oke, sekian saja. Terima kasih banyak atas doa dan partisipasi teman-teman. Selamat berpuasa.