Mata Dimas

boy eyes
credit

Berbekal secarik alamat, kumasuki gang kumuh. Tiga hari Dimas tidak masuk. Siswa bermata tajam namun rapuh. Dimas sering dipanggil berandal sekolah. Sebagai wali kelas, kewajibanku cari tahu.

Rumah atau warung?

Rumah di depanku semarak diterangi lampu. Musik dangdut mengalun kencang. Perempuan bergincu tebal mendekatiku.

“Cari siapa?”

“Dimas?”

Ia menoleh ke sudut. Mataku dan Dimas berserobok. Dimas mendekat.

“Kemana saja? Ibumu ada?”

Ditunjuknya perempuan tadi yang kini sibuk mencium pipi tiap lelaki yang masuk. Dimas merunduk, mukanya merah. Baki di tangannya penuh botol minuman keras. Kuangkat wajahnya. Menatap mata beningnya, baru kupaham luka yang ia simpan.

“Aku cuma ingin berbakti, Bu.”

100 Kata. Tema: Mata Lelaki

Diikutsertakan dalam #FF100Kata