Kejutan Ulang Tahun Pertama

Foto by: julialillardart
Foto by: julialillardart

Kamu melangkah tergesa menuju mahligai biasa. Rutinitas sehari ini membuat keringatmu berleleran. Namun, bukan itu yang jadikan wajahmu terlihat gulana. Sesuatu yang lain, mengganggumu belakangan.

Kamu seperti mendengar suara bisikan-bisikan. Lirih. Mirip desisan.

Gangguan itu muncul kapan saja. Tak peduli kau tengah di depan makhluk-makhluk bersayap, mengajarkan mereka pengetahuan yang kamu miliki. Bahkan, bulu-bulu halus mereka yang kerap membuatmu bersin. Tidak lagi kau acuhkan.

Bukannya kamu tidak berusaha. Tapi, meski telah menggusah, desisan itu selalu mampir di telinga. Menelusup ke liang terdalam. Kadang membuat bulu romamu sampai berdiri.

Kamu ragu menceritakannya ke sesiapa. Bahkan untuk sekadar mengadu keluhan. Soalnya, sepertinya cuma kamu yang merasakan. Anomali di tempatmu adalah ketidaklaziman.

Kadang kamu berpikir, betapa ingin memiliki seorang teman. Bercerita, berbagi keluhan. Namun apa daya, kamu diciptakan sendirian.

Hari apa sekarang? Apa di sana kamu mengenal tanggal? Musim berganti? Lalu, kenapa pandanganmu memancang ke luar?

Ah, bukannya aku tidak peka. Tapi, aku lebih suka mengamati perkembanganmu. Peraturan-peraturan di sana, cukup kamu yang tentukan.

Hei, sepertinya kamu benar-benar lelah. Baiknya kuakhiri hari ini yang cerah. Biar kuganti dengan gelap, dengan bulan yang merekah.

***

Badanmu bergerak ke kanan-kiri. Tidurmu terganggu? Tentu saja, sinar matahari mengarah tepat ke arahmu. Hari ini kamu telat bangun dan ibadah.

Suara-suara ribut memaksamu membuka mata. Sedikit memicing, lalu kau melihat para makhluk bersayap telah berada di pinggir mahligaimu. Semuanya tersenyum. Hari ini istimewa, ujar mereka.

Kamu membuka kotak yang aku persiapkan. Di dalamnya, sesosok makluk bersisik mendesis-desis. Persis seperti yang biasa kamu dengar.

Kau meraba dada yang terasa sakit. Ada sesuatu yang aneh, ujarmu pelan.

“Tulang rusukku, hilang sebelah.”

(Untuk MFF, 266 kata)

Berdasarkan fiksimini: @sgthrj

Ulang Tahun Pertama-Lelaki itu hanya termangu. Sebutir apel dan seekor ular melingkar menemaninya.

Warung Bakso Mak Indun

Tiba-tiba nama Mak Indun ramai diperbincangkan. Sejak ia kembali dari entah, lantas membuka warung bakso, warga kampung berebut membeli baksonya. Sementara yang meletus dari bibir pembeli kebanyakan bernilai baik. Beberapa orang beranggapan, kepergian Mak Indun beberapa tahun lalu berbuah resep bakso sakti.

Aku mengamati panjangnya antrean di warung bakso Mak Indun. Ingin rasanya turut mencicip, tapi istriku bersikeras melarangku merasainya.

“Tak kah kau pikir ada apa-apanya? Coba kau ingat sebab kepergiannya!”

Ah, iya. Sewaktu Mak Indun pergi pun menimbulkan geger. Ia dipaksa pergi dari kampung. Beberapa warga menuduhnya mempraktikkan ilmu hitam tersebab banyak bayi yang meninggal mendadak. Dan semua petunjuk mengarah kepadanya. Mak Indun pergi dengan amarah yang memercik dari sudut matanya. Meskipun kemudian  terbukti tak benar, heran juga warga yang membeli bakso Mak Indun tak pernah mempermasalahkannya.

Aku mengendap di dekat dapur Mak Indun. Mengintip sekadar membuktikan kebenaran ucapan istriku. Kulihat Mak Indun berdiri mengangkang di atas panci bakso. Ia mengangkat sarungnya hingga ke lutut. Bunyi gemericik terdengar seiring air yang mengucur dari selangkangnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam panci, barulah parasnya memancarkan kepuasan.

Untuk #MFF