Sepasang Mata yang Menatap dari Selangkangan Istriku 

“Bang, matikan lampunya ya.”

Aku menurut. Dua minggu kunikahi, tak pernah mau lampu dihidupkan tengah kami bercinta. Entah mengapa.

***

“Kenapa harus dimatikan sih, Dik?” Aku meletakkan kepala di perutnya, masih bermandikan peluh.

“Ajaran Nenek, menghemat minyak.”

“Tapi kan kita pakai listrik. Pun, ia sudah tiada. Tewas dalam kebakaran katamu.”

Istriku diam, melebarkan pahanya perlahan. Sinar bulan yang menyusup ke arah cermin menjawab semuanya. 

Dalam keremangan, dari selangkangan istriku, tampak sepasang mata menatap. Mata menguning dengan iris kemerahan. Seperti mengancam, seperti menyimpan dendam.

“Nenek tidak pernah pergi, Bang. Tidak pernah,” bisiknya di telingaku sambil mengikik. Kuku panjangnya memusut leherku, perih.

——-

Flashfiction 100 kata tidak termasuk judul, untuk #HororisCausa

Di Bawah Kaki Ibu

mother's foot
credit

“Surga di bawah kaki ibu.”

Aku mencibir. Entah kali ke berapa guruku mengulang kalimat tersebut. Mengingat kelakuan ibu, ingin rasanya mengacung tangan protes. Ibu kerap pulang larut sambil memeluk pria berbeda. Tubuhnya, uh, bau minuman keras campur rokok. Tempeleng kerap singgah bila telat membuka pintu.

Malamnya, kuputuskan mengiris telapak kaki ibu. Menguak untuk membuktikan kebenaran. Wajahku malah ditampar hawa panas. Bara api meloncat ingin bebas. Gegas kujahit kembali.

Aku berpikir, jika tak bisa menyucikan ibu, cukuplah kakinya.

Aku mengambil ember, membasuh kaki ibu dengan bening air. Kulap sisa air. Lalu perlahan mengiris kaki ibu. Tak ingin kaki tersebut kembali ternoda.

100 Kata. Tema: Absurditas

Diikutsertakan dalam #FF100Kata