Surga di Telapak Kaki Jerapah

Kau menyebut ibumu dengan panggilan jerapah. Bukan tanpa musabab kau mengatakannya demikian. Ia perempuan terpandang dan sadar betul siapa dirinya. Karenanya, ia senantiasa mengangkat lehernya tinggi-tinggi. Saat berbicara dengan siapa pun, ia tak pernah sudi menatap mata lawan bicara. Sebagaimana tak sudinya ia membagi asi-nya untukmu. Alasannya, ia tak ingin tubuhnya yang selangsing jerapah membengkak. Dan kau hanya menelan liur melihat puting jerapah mencetak di bajunya. Sebab asi-nya merembes tak kau cucup.

Semakin dewasa hubunganmu dengannya tak makin baik. Ia senantiasa tampak sibuk. Kau hanya memerhatikan dari jauh. Sambil tak lupa menumpuk sebalmu tiap kali berpapasan. Tumpukan yang makin tinggi dan kau sembunyikan dengan baik di sudut hati.

Jerapah menua dan terkena stroke. Tak mampu gerak namun lehernya tetap terangkat ke atas. Sebesar bencimu padanya tak sebanding dengan sayangmu. Kau ingin membebaskannya dari rasa sakit.

Suatu malam bulan penuh, kau mendorong kursi rodanya ke halaman. Sebelumnya kau mandikan jerapahmu dan memakaikan baju yang bagus.

Kau menuangkan cairan dari dirigen ke sekujur tubuhnya. Sekejap saja, lidah api membelit jerapahmu. Ia menari diiringi lengking yang pecah di langit. Kau girang, melepas baju, dan ikut menari di bawah cahaya bulan yang meriap dan gemeretak api. Saat jerapahmu berhenti menari, kau mencium kakinya yang hangus dan bau gosong.

ย 

Berdasarkan Lukisan Salvador Dalli: Burning Giraffe and Telephone

Iklan

19 pemikiran pada “Surga di Telapak Kaki Jerapah

  1. fiksinya bang sulung makin lama makin liar. dalam konotasi positif tentunya ๐Ÿ˜€
    tapi rasanya terlalu singkat kalau jadi FF. Sayang. Kurang dapat suasananya. Kalau dijadiin cerpen kayaknya keren..

  2. Karena saya membaca cerita ini maka saya harus berkomentar, sesuai dengan disklaimer blog ini hehehe..

    Judulnya keren, bikin kepo. Analogi jerapahnya saya suka.
    Hanya saja penutup ceritanya yang terlalu terus terang. Coba kalau disamarkan, pasti kepala pembaca akan meledak imajinasinya..

    Salam kenal ๐Ÿ™‚

  3. Hmm.. mulanya karena tergesa-gesa gue jadi nggak tahu arah ceritanya. tapi setelah gue baca ulang… bagus lah!! nyesel sih kok penjelasannya kurnag detail (mungkin karena tergesa-gesa seperti kata latree), padahal setting suasana, metaforanya… superb. ๐Ÿ™‚

  4. Halo kak!
    Iseng baca’ review beberapa buku di goodreads dan nemu profile kakak.
    Suka banget tulisannya; ide cerita, alur, pemilihan kata, endingnya hehe.
    terus berkarya kak Sulung! salam kenal : )

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s